Suara.com - Kondisi global masih akan “menantang” di tahun ini, walaupun tensi perdagangan sudah mulai mereda, tapi disrupsi yang mempengaruhi manufaktur global tetap ada. Ada beberapa negara yang membawa angin segar terhadap ekonomi global, meski dibayang-bayangi oleh peristiwa menyebarnya virus Corona.
Fundamental perekonomian Indonesia masih dalam posisi baik, sebab gross domestic product (GDP) atau pertumbuhan domestik bruto (PDB) Indonesia triwulan II-2021 meningkat 7,07% year on year (yoy). Alhasil, secara kumulatif pertumbuhan ekonomi Indonesia semester I-2021 dibandingkan semester I-2020, masih mencatatkan pertumbuhan sebesar 3,10%.
Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia mengatakan, saat ini, foreign direct investment (FDI) Indonesia justru sudah mulai pulih dibandingkan negara-negara lain yang FDInya masih turun. FDI Indonesia saat ini ada di kisaran 52,4% dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar 47,6%.
Menariknya kata Bahlil, dari kuartal III 2020 hingga saat ini, investasi telah didominasi di luar Jawa sebesar Rp113,8 triliun atau 51,0%. Sedangkan di Jawa sendiri hanya Rp 109,2triliun atau 49,0%.
"Daerah tujuan investasi Indonesia saat ini tidak hanya di Pulau Jawa tetapi juga di luar pulau Jawa karena infrastruktur yang ada sudah sangat baik dan juga adanya pemberlakuan insentif yang berbeda antara Jawa dan luar Jawa," tutur Bahlil Lahadalia.
Melihat kondisi tersebut, Indonesia kini diperhitungkan sebagai negara yang bagus untuk investasi dengan risiko rendah. Bahkan, Indonesia digadang-gadang bakal menjadi negara yang terbilang cepat pulih dari Pandemi Covid-19.
Sebagai bank internasional terkemuka yang berkomitmen untuk mendorong pemulihan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia, HSBC Indonesia menyelenggarakan HSBC Summit 2021. Kegiatan ini merupakan rangkaian forum virtual yang memberikan pemahaman lebih tentang ekonomi Indonesia terkini, prospek investasi secara global, dan potensinya di masa depan.
Forum yang berlangsung baru-baru ini membahas berbagai informasi baru serta temuan dan wawasan dari pembuat kebijakan, pelaku industri, asosiasi bisnis, analis, dan peneliti ekonomi yang dapat menjadi acuan dalam pengambilan keputusan bisnis dan investasi.
Sebagai rangkaian dari HSBC Summit, HSBC juga mengadakan forum khusus yakni, “In Conversation with Indonesia yang diselenggarakan atas kerja sama dengan Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Dalam forum ini, calon investor di Asia dan Eropa/Amerika Serikat akan melakukan diskusi bilateral (one-on-one discussion) dengan perwakilan senior dari BKPM. Topik diskusi mencakup penyampaian berbagai wawasan dari tim BKPM tentang iklim positif investasi, berbagai peluang investasi beserta peraturan dan insentif, serta kemudahan berinvestasi di Indonesia. Seperti pengesahan Omnibus Law, kemudian perubahan status BKPM ke Kementerian, dan perizinan usaha berbasis pendekatan risiko yang terbaru yaitu Online Single Submission (OSS).
Baca Juga: Antibodi Covid-19 Tetap Terlihat pada Bulan Ke-10 setelah Infeksi Virus Corona Terjadi
"Forum diskusi ini merupakan bagian dari komitmen HSBC untuk menghubungkan nasabah kami dengan bisnis dan peluang di seluruh dunia," ujar Presiden Direktur, Francois de Maricourt dalam sambutannya di “In Conversation with Indonesia”.
HSBC telah berada di Indonesia selama 137 tahun dan telah berhasil menghubungkan Indonesia dengan dunia. Dengan kata lain, HSBC berhasil menjadi bagian dari kisah pertumbuhan Indonesia.
Menurut Francois de Maricourt Asia telah menjadi mesin ekonomi global. Dia pun meyakini, Asia Tenggara pada umumnya dan Indonesia pada khususnya akan memainkan peran yang semakin meningkat dalam mendorong pembangunan dan menciptakan kemakmuran.
“Itulah sebabnya kami menginvestasikan US$6 miliar selama lima tahun ke depan di Asia untuk melayani Anda dengan lebih baik dan mempermudah Anda dalam mengembangkan bisnis di dalam dan luar negeri,” ucapnya.
Sementara Direktur Pengembangan Promosi, Kedeputian Bidang Promosi Penanaman Modal, Ricky Kusmayadi menambahkan soal Swiss yang berhasil masuk dalam daftar lima investor terbesar di RI.
"Ini tentu menjadi sesuatu yang membanggakan bagi kami. Sebab ini belum pernah terjadi sebelumnya," imbuhnya.
Berita Terkait
-
Mulai 1 November Warga Australia yang Sudah Vaksin Bisa ke Luar Negeri Tanpa Pengecualian
-
Dunia Sudah Gelontorkan Stimulus 12 Triliun Dolar AS untuk Lawan Corona
-
Pandemi Covid-19 Belum Berakhir, Jokowi Ingatkan Tiga Hal Pemicu Kenaikan Kasus
-
Studi: Covid-19 Berisiko Picu Masalah Neurologis, Termasuk Bell's Palsy
-
Inggris Alami Lonjakan Kasus COVID-19, Pemerintah Indonesia Antisipasi Hal ini
Terpopuler
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- Kehabisan Uang Usai Mudik di Jogja, Ratusan Perantau Berburu Program Balik Kerja Gratis
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
- Peta 30 Suara Mulai Terbaca, Munafri Unggul Sementara di Musda Golkar Sulsel
- Mobil Alphard Termurah, 100 Jutaan Dapat Tahun Berapa?
Pilihan
-
Arus Balik, Penumpang Asal Jawa Tengah Hingga Sumatera Masih Padati Terminal Bus Kalideres
-
Ogah Terjebak Kemacetan di Pantura, Ratusan Pemudik Motor Pilih Tidur di Kapal Perang TNI AL
-
Sempat Dikira Tidur, Pria di Depan Gedung HNSI Juanda Ternyata Sudah Tak Bernyawa
-
Negara Tetangga RI Mulai Alami Krisis BBM
-
Danantara Tunjuk Teman Seangkatan Menko AHY di SMA Taruna Nusantara jadi Bos PT Pos
Terkini
-
Diskon Tarif 30% Mulai Berlaku Besok untuk 9 Ruas Tol, Ini Daftarnya
-
RI Jepang Kerja Sama Energi, Pengamat: Indonesia Tak Lagi Sekadar Pemasok
-
Purbaya Kesal Diserang Ekonom Terus Menerus: Mereka Gembar-gembor Ketakutan
-
Harga BBM Masih Stabil, Warganet Apresiasi Pemerintah
-
Primadona Lebaran 2026, Konsumsi BBM Pertamax Series Naik Signifikan
-
Arab Saudi dan UEA Diam-diam Bantu Israel dan AS Perangi Iran
-
Purbaya Buka Opsi Tarik Pajak Tambahan untuk Produk China di Tokopedia-TikTok dkk
-
Kemenkop Bantah Isu Kopdes Merah Putih Picu Konflik di Adonara, Ini Faktanya
-
OJK Resmi Punya Pejabat Baru, Ini Susunannya
-
Rupiah Belum Bangkit Hari Ini, Nyaris Rp 17.000/USD