Suara.com - Perusahaan Malaysia Kenaf Venture Global (KVG) menandatangani MoU dengan PT Kenaf Diwana Sanjaya dan Pemerintahan Aceh, untuk perluasan industri kenaf dalam hal teknologi, penelitian, dan pengembangan benih kenaf di Aceh.
Penandatanganan yang berlangsung di Jakarta dihadiri oleh Jazman Shahar Abdollah selaku CEO KVG Group, Ikhsan, CEO dari PT Kenaf Diwana Sanjaya, Ir. Mawardi, Plt. Asisten Perekenomian dan Pembangunan Sekda Aceh dan Perwakilan Pemerintahan Aceh, serta Adlan Mohd Shaffieq, Kuasa Usaha Sementara, Kedutaan Besar Malaysia, dan Kepala Kenaf dan Tembakau Nasional Malaysia, Haji Abdul Aziz Ab Aziz Ab Kadir.
Kerja sama ini diharapkan dapat memberikan dampak positif di bidang ekonomi, masyarakat, dan lingkungan. Pada bidang ekonomi, diharapkan jalinan kerja sama KVG dan Indonesia dapat mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal ini sejalan dengan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) yang sedang menggiatkan investasi dari luar dalam rangka mendorong perekonomian yang sempat melambat akibat pandemi Covid-19.
“Pemerintah Aceh mendukung KVG dalam ekspansi industri kenaf di Aceh, khususnya di bidang riset dan pengembangan. Kami sangat menghargai kerja sama ini dan berharap semoga dengan masuknya KVG ke Aceh, akan mendorong pertumbuhan ekonomi di Aceh," kata Ir. Mawardi.
Kemudian dampak positif untuk masyarakat, kerja sama ini diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan warga setempat. Hal ini akan memengaruhi kinerja ekonomi daerah dan mempertinggi daya beli masyarakat, serta menekan angka kemiskinan.
Lalu di bidang lingkungan, kerja sama ini diharapkan dapat menjaga kesehatan lingkungan dan akan mampu membantu menekan emisi karbon dunia, yang sejalan dengan agenda pertemuan G20 untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat. Inisiatif pengembangan bisnis kenaf ini juga menjadi faktor pendorong menuju konsep hijau dan berkelanjutan sesuai dengan arahan “UN Habitat”.
Pada pertemuan G20, degradasi lahan terkait perusakan mangrove dan lahan gambut serta keanekaragaman hayati menjadi isu yang diperdalam. Lahan gambut yang selama ini dikenal sebagai lahan yang tidak subur, namun memiliki fungsi penting bagi kelestarian lingkungan, merupakan penyimpan karbon terbesar kedua setelah hutan tropis.
Kenaf diharapkan dapat menjadi komoditas alternatif untuk menjawab mengatasi degradasi lahan. Kenaf (Hibiscus Cannabinus) yang juga dikenal dengan nama Yute Jawa, adalah tumbuhan kategori serat panjang, yang dapat tumbuh dengan baik di beragam jenis tanah, mulai dari tanah gambut organik hingga tanah gurun berpasir.
Tumbuhan ini pun dapat tumbuh di tanah yang telah terkena banjr, kesuburan rendah, dan jangkauan pH yang luas serta toleransi terhadap kekeringan. Kenaf dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan karung goni, karpet, geotekstil, dan kerajinan.
Baca Juga: Tokoh Masyarakat Perbatasan Indonesia-Malaysia: Nasionalisme Perlu Ditanamkan Sejak Usia Dini
Dalam perjalanannya, KVG berkomitmen untuk mendorong konsep kehidupan yang berkelanjutan (sustainability) melalui budidaya kenaf, dengan dukungan mitra yang dapat dipercaya.
KVG pun secara progresif memberdayakan industri kenaf di tingkat lokal dan internasional dalam rangka mengangkat sektor sosial ekonomi dan memulihkan alam untuk kepentingan generasi selanjutnya. Dalam upaya memaksimalkan potensi bisnis, KVG dan grup perusahaannya berkomitmen untuk membuka potensi dan peluang dari hasil panen, serta membuka potensi penuh kenaf dengan inovasi teknologi.
"Kami bertekad menjadi yang terdepan dalam kemajuan teknologi yang terkait industri kenaf, serta bergerak menuju IR 4.0. Hal ini untuk memastikan bahwa produksi dapat dilakukan lebih efisien dan sejalan dengan industri manufaktur global. Intinya, kami bertekad untuk mencapai tujuan yang telah kami ajukan yaitu ekspansi di Indonesia dan mengaktifkan kemajuan teknologi, yang berkaitan dengan pengembangan kenaf, karena KVG juga bertujuan untuk membawa pertanian ke tingkat lebih tinggi melalui penggunaan teknologi terbaru,” papar Jazman.
Kemajuan teknologi telah memungkinkan penemuan dan penerapan kenaf di berbagai sektor, yaitu otomotif, kertas, bangunan, konstruksi, dan sebagainya.
Manfaat penting lainnya dari kenaf adalah kemampuannya dalam mengisolasi panas dan ini telah membuat kenaf tersedia sebagai isolator termal dalam produk otomotif dan sebagai bahan bangunan, menggantikan bahan yang tidak dapat diperbarui.
“KVG mengutamakan ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi dan inovasi untuk menuju Revolusi Industri 4.0 dan Masyarakat 4.0. Integrasi pendekatan dan teknologi holistik berkelanjutan dalam operasi KVG adalah salah satu inisiatif untuk memastikan relevansi pertanian dalam kaitannya dengan sektor lain dan dalam jangka panjang.” kata Jazman.
“Kami yakin kerja sama ini akan meningkatkan kualitas industri kenaf di Indonesia. PT Kenaf Diwana Sanjaya pun memiliki visi dan misi yang sama dengan KVG dalam pengembangan industri kenaf.” Ikhsan menuturkan.
Tahun 2022 ini, KVG akan fokus mengembangkan bisnis kenaf di Indonesia dan Asia Tenggara, sebagai batu loncatan. Perusahaan ini juga memiliki rencana untuk berkontribusi dan mendukung pertumbuhan sosial ekonomi di Indonesia.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Soal TNI-Komcad Dikerahkan di Demo Mahasiswa, Ini Reaksi Komisi I DPR
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
- Motor Mirip Harley-Davidson Harga Rasa Matic: Mending Morbidelli C252V atau QJ Motor SRV250?
Pilihan
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
-
Wasit Liga Indonesia 'Berulah', FIFA Investigasi Kemenangan Timnas Jerman vs Curacao
-
Mahasiswa Gelar Demo di DPR, Tagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Desak Hentikan MBG
-
Mau Aksi di Patung Kuda, Mahasiswa UBK Sempat Dihadang di Tugu Tani
-
Anggaran Kunjungan Luar Negeri Prabowo Tembus Rp1,1 T! Lebih Besar dari TKD Satu Kabupaten di NTB
Terkini
-
Selat Hormuz Dibuka, Bahlil Sebut Indonesia Tetap Lanjutkan Kontrak Impor Minyak
-
Bahlil Ungkap Kontrak Batu Bara PLN Kurang 20 Juta Ton, Listrik Bisa Terganggu?
-
Dukung Program 3 Juta Rumah, BRI Salurkan Pembiayaan Rp340 Miliar untuk 867 Debitur
-
Biaya Kuliah Meroket, Mahasiswa Minta Dana Pendidikan Tak Dipakai untuk MBG
-
BRI Hadirkan Cara Baru Menabung Emas Otomatis Saat Transfer di BRImo
-
Asumsi ICP 2027 Dinaikkan Mas Bahlil, Paling Tinggi 95 Dolar AS/Barel
-
Indonesia Bidik Turis Tajir, Seaplane Resmi Beroperasi dari Banyuwangi
-
Program Kompor Listrik Masih Digeber Mas Bahlil di 2027, Anggarannya Rp 815 M
-
Tembus Rp1,4 Triiun, Gaji ke-13 untuk TNI-Polri Telah Cair
-
Obral Pamer Danantara, Global Bond Laris Manis