Suara.com - PT Permodalan Nasional Madani (PNM) terus berkomitmen dalam membantu masyarakat terkecil naik kelas. Melalui divisi Pengembangan Kapasitas Usaha (PKU), PNM menjalankan program pemberdayaan usaha terhadap para pelaku usaha yang tidak tersentuh oleh perbankan. Setidaknya ada tiga tahapan yang dilaksanakan oleh PNM yakni, edukasi nasabah, pendampingan usaha serta menciptakan pasar baru.
Sudah banyak nasabah yang berhasil naik kelas berkat program tersebut, I Gede Rediawan adalah salah satunya. Ditemani PNM selama 15 tahun, perajin limbah pecahan kaca asal Ubud, Gianyar Bali tersebut berhasil mengekspor produk kaca tiupnya hingga ke Malaysia, Jepang Australia hingga Eropa. Bahkan, omset penjualannya bisa mencapai Rp300 juta per bulan.
Perjalanan membangun bisnis yang dilalui Rediawan tidaklah mudah. Rediawan menjelaskan, di awal-awal usahanya tidak berjalan mulus. Selain belum memiliki langganan, juga belum terkenal seperti para pengusaha lainnya. Belum lagi kendala pendanaan yang kerap dihadapi, tak ada satu pun lembaga keuangan baik bank maupun non bank yang bersedia membiayai bisnisnya.
Kemudian PNM masuk memberikan secercah harapan. Modal awal yang diterimanya dari PNM adalah Rp50 juta. Dari modal itu, dia membangun sebuah gubukan kecil sebagai pabrik sekaligus tempat peristirahatannya serta mempekerjakan 5 orang karyawan.
Awalnya, dia menjalankan bisnis kaca mozaik. Saat itu, produk kaca mozaik banyak diminati, tapi lambat laun bisnisnya mulai redup karena permintaan yang kian merosot. Melihat karyawan yang sudah mulai banyak dan menggantungkan hidup kepadanya, Rediawan pun berinovasi untuk menjalankan bisnis kaca tiup.
Bisnis kaca tiup sudah berjalan 5 tahun, idenya muncul dari melihat banyaknya pecahan kaca dan dahan kering yang biasa digunakan oleh warga sebagai kayu bakar. Di satu sisi, Rediawan juga gemar menonton tutorial YouTube yang kontennya berisikan pembuatan karya seni.
Singkat cerita, Rediawan bertemu dengan seorang warga Jepang. Warga Jepang yang tengah berlibur ke Bali itu sudah lebih dulu memiliki usaha kaca tiup di negaranya. Dengan sedikit modifikasi, potongan pecahan kaca dan dahan tersebut ia coba ubah menjadi hiasan rumah yang estetik hingga kemudian Rediawan pun mulai mencoba membuat kaca tiup.
"Ide kaca tiup awalnya dari orang Jepang, tapi yang mereka punya tidak ada variasi kayunya, kalau kami kan basic memang di kayu. Kaca tiup yang mereka punya itu ada hak ciptanya, jadi saya minta izin untuk menambahkan variasi kayu. Mereka izinkan, jadi kami bikin versi yang beda tapi dari kayu," tutur Rediawan.
Sementara terkait bagaimana produknya bisa go international, dia menyebut, hal tersebut berawal dari kedatangan salah satu turis asing yang tak sengaja datang ke pabrik dan membeli produknya. Puas dengan produk dan layanan yang diberikan, turis tersebut pun membeli kembali dalam jumlah yang besar. Entah bagaimana klimaksnya, turis dari berbagai negara pun kian berdatangan ke Galeri Seni ST Factory Glowing Glass miliknya. Tak pelak, dia pun kebanjiran order.
Baca Juga: Siap-siap! Besok 4000 Pelaku UMKM di Kota Bandung Mulai Dapatkan BLT
Berbahan Baku Limbah Kaca
Beragam kerajinan kaca yang mempunyai kesan mewah ini dibuat dari limbah pecahan kaca dan kayu bakar bekas yang diperoleh dari berbagai tempat seperti hotel, restauran, toko bangunan (untuk kayu) dan juga dari para pemulung. Limbah kaca tersebut dibelinya dengan harga Rp1.000 per kilogram.
Limbah kaca tersebut kemudian dipilah sesuai warna dan dibersihkan. Setelah dibersihkan, kaca-kaca tersebut dileburkan di suhu sekitar 1.600 derajat celcius. Dari peleburan tersebut, menghasilkan segumpal cairan yang kemudian bisa diproses menjadi berbagai bentuk barang kerajinan dengan cara dimasukkan ke dalam alat yang biasa disebut mal sambil ditiup dan diputar-putar.
Setelah terbentuk benda yang diinginkan kemudian dimasukkan kembali ke dalam oven pendingin hingga semalaman. Keesokan harinya, kaca yang sudah terbentuk itu dikeluarkan untuk dilakukan finishing.
Adapun berbagai kerajinan kaca yang dihasilkan adalah asbak, gelas wine, vas bunga, akuarium kecil dan lain-lain. Produk tersebut dijual mulai dari Rp50 ribu-25 juta. Tentunya harga ini menyesuaikan dengan ukuran, kerumitan serta bahan baku yang dibutuhkan. Pembeli juga diperbolehkan untuk request model yang diinginkan.
Berita Terkait
-
PNM dan Jasa Raharja Beri Pelatihan Safety Riding Peluk Mekaar untuk Cegah Kecelakaan
-
Ibu-ibu Bernama Irma Ini Hebat, Olah Rempah Khas Maluku Utara Jadi Camilan
-
Selamat! Ini 5 UMKM yang Terpilih Mendapatkan Modal di Program "Pasar Lokal" Suara UMKM
-
Transaksi UMKM di Katalog Elektronik Sudah Capai Rp 57,4 Triliun
-
SOE International Conference, Mendorong Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif dan Berkelanjutan
Terpopuler
- Dari Koruptor Kembali ke Rakyat: Aset Rp16,39 Miliar Kini Disulap Jadi Sekolah hingga Taman di Jabar
- Teman Sentil Taqy Malik Ambil Untung Besar dari Wakaf Alquran di Tanah Suci: Jangan Serakah!
- HP Bagus Minimal RAM Berapa? Ini 4 Rekomendasi di Kelas Entry Level
- Simulasi TKA: 15 Soal Matematika Kelas 6 SD Materi Bangun Ruang dan Statistika
- Link Download 40 Poster Ramadhan 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Edit
Pilihan
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
-
Kabar Baik dari Elkan Baggott untuk Timnas Indonesia
-
Jaminan Kesehatan Dicabut, Ribuan Warga Miskin Magelang Tercekik Cemas: Bagaimana Jika Saya Sakit?
-
Lagu "Cita-citaku (Ga Jadi Polisi)" Milik Gandhi Sehat Ditarik dari Peredaran, Ada Apa?
-
Geger Taqy Malik Dituding Mark-up Harga Wakaf Alquran, Keuntungan Capai Miliaran
Terkini
-
Mulai 2028, Bensin Wajib Dicampur Etanol 20 Persen
-
Kepala BGN: Program MBG Dongkrak Penjualan Motor jadi 4,9 Juta Unit pada 2025
-
Jelang Imlek dan Ramadan, Pertamina Tambah 7,8 Juta Tabung LPG 3 Kg
-
24 Perusahaan Lolos Seleksi Tender Waste-to-Energy, Lima Diantara Asal China
-
Bahlil Tegas soal Pemangkasan Produksi Batubara dan Nikel 2026: Jangan Jual Harta Negara Murah
-
Wujudkan Asta Cita, BRI Group Umumkan Pemangkasan Suku Bunga PNM Mekaar hingga 5%
-
Susul Bauksit, Bahlil Kaji Larangan Ekspor Timah Mentah
-
Antusiasme Tinggi, Waitlist Beta Bittime Flexible Futures Batch Pertama Gaet Ribuan Partisipan
-
Danantara Mau Beli Tanah Dekat Masjidil Haram, Jaraknya Hanya 600 Meter
-
Mari Elka Pangestu: Rasio Utang Indonesia Masih Terkendali