Suara.com - Sekarang ini, waralaba menjadi salah satu peluang bisnis yang banyak digemari oleh masyarakat Indonesia. Hal tersebut dikarenakan bisnis waralaba dinilai mempunyai risiko kerugian yang lebih minim jika dilihat dari segi konsepnya.
Dimana pada bisnis waralaba atau franchise, menerapkan metode pendistribusian produk atau layanan yang melibatkan franchisor sebagai pemilik merek dagang dan nama bisnis.
Penerima waralaba yang ingin memasarkan produk, diharuskan untuk membayar royalti dan seringkali juga membayar biaya investasi awal untuk bisa memperoleh hak atas kekayaan intelektual di bawah nama serta sistem franchisor.
Kerjasama yang terjadi ini akan melimpahkan pengolahan produk tanpa mengubah ciri khas yang dimiliki, izin penggunaan merek produk, hingga penggunaan sistem operasional yang ada.
Disamping itu, penggunaan hak kekayaan intelektual tersebut dilindungi oleh peraturan pemerintah mengenai waralaba yang tertuang dalam (PP) No 42 Tahun 2007, sehingga melalui perjanjian yang resmi penerima waralaba termasuk pelaku bisnis yang legal.
Terdapat banyak keuntungan yang bisa diperoleh dengan membeli bisnis waralaba, diantaranya adalah lebih santai dan fleksibel, dapat menjadi sumber pendapatan kedua, mudah mengajukan pinjaman di bank, minim risiko, mendapatkan akses ke program pelatihan dan masih banyak lagi.
Akan tetapi, adanya pandemi Covid-19 yang menimpa Indonesia semenjak tahun 2020 bisnis waralaba sempat mengalami pukulan, terutama adalah waralaba theme park, travel, pendidikan, makanan, minuman, dan hotel.
Hingga sekarang, hal tersebut menyisakan kepiluan tersendiri khususnya bagi para pebisnis di tanah air.
Hampir setiap hari terdengar berita berbagai bisnis yang akhirnya gulung tikar, PHK massal hingga bangkrut dan tutupnya bisnis startup yang bahkan sudah terima gelontoran dana puluhan bahkan ratusan miliar rupiah dari berbagai modal ventura.
Baca Juga: Jualan Jilbab Pakai Cara Ini, Pambudi-Ayu Pasutri Jabar Disorot Media Al Jazeera
Tidak hanya itu saja, setelah pandemi Covid-19 mulai mereda di tahun 2022 sekarang ini, masyarakat masih dibayang-bayangi oleh ancaman resesi global pada tahun 2023 mendatang.
Meskipun demikian, tidak semua bisnis waralaba lantas gulung tikar di masa pandemi ini, bahkan ada juga yang justru menemukan momentumnya untuk dapat terus berkreasi dan bertumbuh semakin massif, serta terus berkembang sampai ke pelosok negeri, sebagai salah satu solusi dalam menghadapi resesi dan krisis multidimensi.
Salah satunya adalah bisnis waralaba Lima Warna Indonesia yang bergerak sejak 2020 di bidang bisnis minuman kekinian yang menyediakan berbagai menu dalgona, boba dan teh kekinian dengan aneka rasa. Lima Warna Group berhasil menuai hasil dan menembus tekanan selama pandemi berkat kepiawaian dan pengalaman yang sudah teruji selama belasan tahun berbisnis.
“Dengan formula khusus yang disusun tim R&D serta mengusung strategi ekspansi outlet oleh tim marketing yang handal ditambah fakta terus meningkatnya tren minuman jenis ini, kami yakin Es Teh Lima Warna akan kembali menjadi pilihan,” terang Teguh Setio, Head of Marcom (Marketing Communication) Lima Warna Group.
“Serta diburu para pebisnis pemula yang akan memulai untuk belajar berbisnis, dengan pembinaan dan pendampingan yang terus kami lakukan,” lanjutnya.
Lima Warna Group berhasil sukses dan viral di tahun 2020 dengan menu dalgona dan boba, yang disusul dengan brand-brand lain seperti Liwa Chicken, Rokea, Sure Coffee serta Tigerson dibawah bendera Lima Warna Group. Lalu di awal 2023 akan diluncurkan brand baru dengan nama Es Teh Lima Warna yang sudah diriset dan diuji coba sejak lama dan siap untuk menggeser merek-merek lain.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Menteri PU Panggil Pulang ASN Tugas Belajar di London Diduga Hina Program MBG
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
Pilihan
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
Terkini
-
RI Mau Beli Jet Tempur KF-21 hingga Sukhoi Su-35, Purbaya: Saya Cuma Bagian Bayar
-
Purbaya Balas Kritik Media The Economist: Lihat Eropa, Harusnya Puji Kita
-
Pendapatan GBK Tembus Rp 812 Miliar, Tertinggi Dalam 63 Tahun
-
BPS: Harga Cabai Sudah Naik di 247 Kota
-
Teknologi Energi Surya RI Dilirik Bangladesh
-
Lebih Sibuk dari Hormuz, Selat Malaka Jadi Ancaman 'Bom Waktu' Ekonomi Global
-
Percepat Proyek Tata Air Daan Mogot, Brantas Abipraya: Penyesuaian Badan Jalan Dilakukan Bertahap
-
Apa yang Dimaksud Trading Halt? Ramai Dibicarakan karena IHSG Anjlok
-
Direksi Emiten Tambang Emas AMMN Mundur
-
Dilema PI 10% Blok Ganal: Antara Hak Daerah dan Beban Investasi Jumbo