Suara.com - Walmart berencana memangkas sekitar 1.500 pekerjaan sebagai bagian dari upaya restrukturisasi untuk menyederhanakan operasinya, menurut memo yang dilihat oleh Reuters. Rencana perusahaan akan memengaruhi tim dalam operasi teknologi globalnya, pemenuhan e-commerce di toko-toko AS, dan bisnis periklanannya Walmart Connect. "Untuk mempercepat kemajuan kami dalam memberikan pengalaman yang akan menentukan masa depan ritel, kami harus mempertajam fokus kami," kata memo itu dilansir dari CNBC International, Kamis (22/5/2025).
Perusahaan juga akan menghilangkan beberapa peran dan membuka beberapa peran baru, menurut rencana tersebut. Walmart adalah pemberi kerja swasta terbesar di AS dengan sekitar 1,6 juta karyawan. Perusahaan ini mempekerjakan sekitar 2,1 juta karyawan di seluruh dunia secara total, menurut situs webnya. Walmart juga merupakan importir terbesar di negara itu dengan sekitar 60% impornya, terutama barang-barang seperti pakaian, elektronik, dan mainan, dari Tiongkok.
The Wall Street Journal pertama kali melaporkan tentang rencana untuk memangkas pekerjaan. Perusahaan tersebut minggu lalu mengatakan akan menaikkan harga beberapa produk pada akhir Mei karena perang dagang Presiden Donald Trump menghantam rantai pasokannya dan meningkatkan biaya.
Walmart telah memangkas beberapa posisi dan menutup kantornya di North Carolina pada bulan Februari sebagai bagian dari langkahnya untuk merelokasi karyawan ke kantor pusat utamanya di California dan Arkansas.
Sebelumnya beberapa perusahaan juga melakukan phk secara besar-besaran. Salah satunya, perusahaan raksasa pakaian olahraga, Nike dikabarkan segera melakukan PHK massal karyawan.
Hal ini dilakukan sebagai bagian dari upaya manajemen untuk mengatur ulang prioritas perusahaan secara keseluruhan. Selain melakukan PHK, Nike juga disebut-sebut mengalihkan beberapa peran yang sebelumnya diemban oleh karyawan internal kepada vendor pihak ketiga. I
su pengurangan jumlah karyawan di perusahaan multinasional yang kini tengah menghadapi tekanan akibat semakin banyaknya kompetitor ini juga dikonfirmasi oleh sumber yang tidak disebutkan identitasnya.
Pengurangan ini terjadi di divisi teknologi perusahaan. Hal yang menegaskan langkah restrukturisasi ini terjadi di tengah perubahan kepemimpinan di pucuk pimpinan Nike. Chief Executive Officer (CEO) Nike, Elliott Hill, yang kembali memimpin perusahaan setelah mengakhiri masa pensiunnya pada bulan Oktober lalu, aktif melakukan perubahan dalam struktur organisasi.
Sejak kembali menjabat, Hill telah menunjuk sejumlah pemimpin baru untuk beberapa departemen strategis, termasuk strategi perusahaan, sumber daya manusia, dan pemasaran olahraga. Meskipun demikian, Muge Dogan, mantan eksekutif dari Amazon.com Inc., tetap mempertahankan posisinya sebagai Chief Technology Officer (CTO) Nike, mengindikasikan bahwa fokus pada pengembangan teknologi tetap menjadi bagian penting dari strategi perusahaan ke depan.
Baca Juga: Di Balik Tren Quiet Quitting: Tanda Karyawan Lelah atau Perusahaan Gagal?
Divisi teknologi Nike sendiri sempat dilanda isu kurang sedap pada tahun 2023 ketika kepala informasi digital perusahaan mengundurkan diri secara tiba-tiba di tengah mencuatnya tuduhan suap. Seorang mantan karyawan bahkan mengajukan gugatan di Oregon terkait dengan tuduhan serius tersebut, yang tentunya memberikan dampak negatif terhadap citra dan operasional divisi teknologi Nike.
Upaya Nike untuk mendapatkan kembali momentum pertumbuhan dengan memfokuskan kembali pada kanal olahraga dan penjualan grosir juga menghadapi tantangan eksternal yang signifikan. Perang dagang yang dilancarkan oleh mantan Presiden AS Donald Trump serta pola pengeluaran konsumen AS yang tidak merata turut mempersulit langkah pemulihan Nike.
Kinerja saham Nike di pasar juga mencerminkan tantangan yang dihadapi perusahaan. Sepanjang tahun ini hingga penutupan perdagangan hari Senin, saham Nike tercatat telah mengalami penurunan sebesar 18%. Penurunan ini kontras dengan kinerja Indeks S&P 500 yang justru mencatatkan kenaikan sebesar 1,4% pada periode yang sama, menunjukkan bahwa investor masih mencermati langkah-langkah restrukturisasi yang sedang dilakukan oleh manajemen baru Nike.
Berita Terkait
-
Direktur Jenderal Kekayaan Negara Lantik Ketua dan Anggota Dewan Direksi LPEI
-
BNI Hadirkan agen46 Hingga Pelosok Kota Bima, Perluas Inklusi Keuangan
-
5 Mobil Bekas dengan Cicilan Ringan Buat Karyawan Gaji UMR
-
Purbaya Yakin MBG Paling Cepat Habiskan Anggaran di Awal 2026
-
Pasar Kerja Timpang, Belasan Juta Pekerja Dipaksa Terima Upah Murah
Terpopuler
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 HP Helio G99 Termurah di Awal Tahun 2026, Anti Lemot
- 6 Rekomendasi HP OPPO Murah dengan Performa Cepat, RAM 8 GB Mulai Rp2 Jutaan
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 5 Cat Rambut yang Tahan Lama untuk Tutupi Uban, Harga Mulai Rp17 Ribuan
Pilihan
-
Hasil Akhir: Kalahkan Persija, Persib Bandung Juara Paruh Musim
-
Babak Pertama: Beckham Putra Bawa Persib Bandung Unggul atas Persija
-
Untuk Pengingat! Ini Daftar Korban Tewas Persib vs Persija: Tak Ada Bola Seharga Nyawa
-
Kriminalisasi Rasa Tersinggung: Mengadili Komedi 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono
-
Duduk Perkara Ribut Diego Simeone dengan Vinicius Jr di Laga Derby Madrid
Terkini
-
Klaim Swasembada Dibayangi Risiko, Pengamat Ingatkan Potensi Penurunan Produksi Beras
-
Penyaluran Beras SPHP Diperpanjang hingga Akhir Januari 2026
-
BBRI Diborong Asing Habis-habisan, Segini Target Harga Sahamnya
-
Produksi Beras Pecah Rekor Tertinggi, Pengamat: Berkah Alam, Bukan Produktivitas
-
Update Pangan Nasional 11 Januari 2026: Harga Cabai Kompak Turun, Jagung Naik
-
8 Ide Usaha Makanan Modal Rp500.000, Prediksi Cuan dan Viral di Tahun 2026
-
Saham BUMI Dijual Asing Triliunan, Target Harga Masih Tetap Tinggi!
-
ANTM Gelontorkan Rp245,76 Miliar untuk Perkuat Cadangan Emas, Nikel dan Bauksit
-
AMMN Alokasikan USD 3,03 Juta untuk Eksplorasi Sumbawa, Ini Mekanismenya
-
Harga Emas Akhir Pekan Stabil, Pegadaian Sediakan Berbagai Variasi Ukuran