Suara.com - Presiden Prabowo Subianto menyatakan komitmennya untuk terus mendorong kesejahteraan petani Indonesia melalui deregulasi dan penyederhanaan aturan di sektor pertanian. Hal itu disampaikan dalam Sarasehan Ekonomi yang digelar belum lama ini.
Menurut Presiden, saat ini kondisi kehidupan petani di Indonesia menunjukkan perbaikan signifikan seiring dengan meningkatnya hasil panen dan produksi pertanian secara keseluruhan.
"Kalau saya ketemu petani, petani gembira. Harga pangan, peningkatan hasil mereka naik secara drastis, produksi naik secara drastis. Kita potong semua regulasi yang enggak benar, kita sederhanakan," ujar Presiden Prabowo dalam pernyataannya yang ditulis Rabu (28/5/2025).
Langkah konkret dari deregulasi yang dilakukan pemerintah terlihat dalam proses pengadaan pupuk yang kini tidak lagi memerlukan banyak lapisan persetujuan dari pemerintah pusat maupun daerah. Hal ini diharapkan dapat mempercepat distribusi dan efektivitas bantuan pupuk kepada petani.
Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional, Mohammad Yadi Sofyan Noor, menyambut baik kebijakan deregulasi yang diambil pemerintah. Menurutnya, kebijakan tersebut telah dirasakan langsung manfaatnya oleh para petani di lapangan, terutama dalam hal pemenuhan kebutuhan pupuk yang kini dapat dilakukan dengan lebih cepat dan mudah.
"Betul apa yang disampaikan oleh Presiden Prabowo. Kami selaku petani yang kesehariannya berkutat di lahan pertanian lebih tenang dan cukup gembira karena ada beberapa kebijakan yang membuat panen kami menjadi lebih baik," kata Yadi.
Yadi mengungkapkan bahwa saat ini petani telah berhasil memproduksi 818 ton gabah kering panen (GKP) hanya dalam tiga bulan pertama tahun ini, angka yang menurutnya sangat signifikan dan menjadi bukti keberhasilan kebijakan pemerintah dalam memperkuat sektor pertanian.
Selain itu, Yadi juga menegaskan pentingnya perhatian pemerintah terhadap sektor pertanian sebagai industri padat karya yang menyerap banyak tenaga kerja. Ia berharap ke depan pemerintah terus melahirkan kebijakan yang berpihak pada petani, mengingat kontribusi besar sektor ini terhadap perekonomian nasional.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa sektor pertanian menyumbang sekitar 11,31 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia secara tahunan (year-on-year) berdasarkan lapangan usaha dalam laporan pertumbuhan ekonomi tahun 2024.
Baca Juga: Besok, Prabowo Ajak Presiden Macron ke Akmil Magelang: Pamer Prajurit Mahir Bahasa Prancis!
Ini menempatkan sektor pertanian sebagai kontributor ketiga terbesar terhadap PDB, setelah perdagangan dan industri pengolahan. Bahkan sektor konstruksi dan pertambangan berada di bawah sektor pertanian.
Hal ini mencerminkan betapa pentingnya peran petani Indonesia, terutama dalam komoditas unggulan seperti tembakau, kakao, dan kopi, yang menjadi motor penggerak ekonomi di berbagai daerah.
Namun demikian, Yadi juga menyampaikan keprihatinan atas sejumlah regulasi yang dianggap masih membebani petani, khususnya petani tembakau.
Ia menyinggung kebijakan cukai rokok yang dinilai berdampak besar terhadap industri hasil tembakau dan berdampak langsung pada kesejahteraan petani komoditas tersebut.
"KTNA saat ini menaruh perhatian khusus terhadap petani tembakau yang sering kali ditekan oleh regulasi, seperti kebijakan cukai rokok yang berpengaruh besar terhadap industri hasil tembakau. Karena itu, semoga apa pun aturan dari pemerintah yang terkait dengan petani bisa dikaji lebih dalam lagi," kata dia.
Di sisi lain, Yadi menekankan pentingnya pelibatan petani dalam proses perumusan kebijakan. Ia berharap pemerintah tidak hanya membuat kebijakan dari atas ke bawah, melainkan turut mengajak petani berdiskusi untuk memastikan bahwa regulasi yang diterapkan benar-benar berpihak kepada mereka.
"Ia juga meminta pemerintah untuk melibatkan para petani dalam proses pembuatan kebijakan. Sebab, petani sejatinya merupakan mitra strategis pemerintah dalam perumusan dan implementasi kebijakan pertanian," pungkas dia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apakah Jateng Tak Punya Gubernur? Ketua TPPD: Buktinya Pertumbuhan Ekonomi Jateng Nomor Dua di Jawa
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- HP yang Awet Merek Apa? Ini 6 Rekomendasi Terbaik dengan Performa Kencang
Pilihan
-
Iran Akui Ayatollah Ali Khamenei Meninggal Dunia, Umumkan Masa Berkabung 40 Hari
-
Iran Bantah Klaim AS dan Israel: Ali Khamenei Masih Hidup!
-
Ayatollah Ali Khamenei Diklaim Tewas, Foto Jasadnya Ditunjukkan ke Benjamin Netanyahu
-
Iran Klaim 200 Tentara Musuh Tewas, Ali Khamenei Masih Hidup
-
Israel Klaim Ali Khamenei Tewas, Menlu Iran: Ayatollah Masih Hidup
Terkini
-
Harga BBM Pertamina Melonjak per 1 Maret, Pertamax Dibanderol Rp 12.300/Liter
-
Usaha Mining Bitcoin Milik Donald Trump Rugi Besar
-
IHSG Melemah Sepekan, Saham BUMI Jadi Salah Satu Faktor
-
Realisasi Penjualan CLEO Kuartal III 2023 Capai Rp2,09 Triliun
-
Perang Timur Tengah: Sejumlah Penerbangan di Bandara Soetta Resmi Dibatalkan
-
Harta Kekayaan Riva Siahaan, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga
-
Harga Emas Stabil di Pegadaian, Bertahan Kisaran 3 Jutaan pada 1 Maret 2026
-
Analis Prediksi Harga Minyak Awal Maret: Tidak Lagi Menyala, Namun Terbakar!
-
Iran Tutup Selat Hormuz, Harga Minyak Diprediksi Naik Dua Kali Lipat!
-
Garda Revolusi Iran Disebut Tutup Selat Hormuz, Mengapa Dunia Harus Panik?