-
Penyeragaman kemasan rokok dinilai berpotensi picu "perang" legal dan ilegal.
-
Kebijakan ini melanggar HAKI dan menyulitkan bedakan rokok legal-ilegal.
-
Penyebab rokok remaja tinggi adalah rokok ilegal yang harganya murah.
Suara.com - Wacana pemerintah untuk menerapkan kebijakan plain packaging atau penyeragaman kemasan rokok dan produk tembakau dinilai berpotensi menimbulkan masalah baru di industri hasil tembakau (IHT).
Kebijakan ini disebut tidak menyentuh akar persoalan dan justru bisa memicu 'perang' antara rokok legal dan ilegal di pasar.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (DPN APTI), Agus Parmuji, mengatakan kebijakan tersebut bisa menimbulkan persoalan serius terhadap perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), karena setiap produk rokok legal sudah memiliki pengakuan resmi dari Kementerian Hukum dan HAM, termasuk logo dan hak cipta.
"Kalau ini disahkan, maka yang akan terjadi, dalam pemikiran kami, rokok-rokok yang legal itu dipaksa perang untuk bertempur dengan rokok ilegal," ujar Agus di Jakarta, Rabu (29/10/2025).
Ia menilai, jika semua kemasan rokok dibuat seragam, masyarakat akan kesulitan membedakan mana produk legal dan mana yang ilegal.
Kondisi ini dapat menimbulkan ketimpangan regulasi dan secara tidak langsung melegitimasi keberadaan rokok ilegal di pasar
Selain itu, Agus menegaskan bahwa upaya menekan jumlah perokok pemula tidak bisa dilakukan hanya dengan mengubah tampilan kemasan.
Menurutnya, maraknya peredaran rokok ilegal dengan harga jauh lebih murah merupakan penyebab utama tingginya konsumsi di kalangan remaja.
"Yang pertama, bagaimana Kemenkes, Kementerian Perindustrian (Kemenperin), dan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker), saling berkoordinasi dan berkomunikasi dalam membuat aturan. Jangan lari ke gambar dulu," imbuhnya.
Baca Juga: Kemenperin Sebut Penyeragaman Kemasan Rokok Berisiko Jadi Hambatan Perdagangan
Agus mengungkapkan bahwa ia hadir dalam rapat koordinasi Kemenkes yang membahas draft Rancangan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) terkait plain packaging.
Dalam forum itu, Kemenkes menyampaikan bahwa kebijakan ini diperlukan untuk menekan prevalensi perokok pemula. Namun, Agus menilai penyeragaman kemasan justru akan berdampak sebaliknya.
Selain itu, Agus juga mengkritisi proses penyusunan kebijakan yang dinilai tidak melibatkan semua pihak terkait, termasuk petani tembakau. Ia menyebut bahwa pembahasan kebijakan pengendalian tembakau selama ini cenderung dilakukan secara tertutup dan hanya berfokus pada aspek kesehatan.
"Setiap perancangan kebijakan yang berkaitan dengan pengendalian tembakau, tidak melibatkan semua komponen. Mereka hanya membuat sesuai kepentingan kesehatan saja," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 18 Juni 2026 Wilayah Jogja Jateng, Cek Daftar Lokasinya
- Motor Baru Harley-Davidson Harga Cuma Rp40 Jutaan, Tenaga Setara Motor 250cc
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
- Viva Sunscreen Foundation SPF Berapa? Banyak Dapat Review Positif dari Pengguna
- KPK Ungkap Dugaan Modus 'Pinjam Bendera' di Proyek Gedung Pemkab Lamongan Rp151 Miliar
Pilihan
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
Terkini
-
Kabar Baik bagi MBR! Menteri PKP Pastikan Bunga KPR FLPP Tetap 5 Persen, Meski BI Rate Naik
-
Polemik MBG Saat Libur Sekolah, Gapembi Kritik BGN
-
Pekan Kreatif Nusantara 2026, LPDB Koperasi Ajak Daerah Perkuat Ekonomi Kreatif Berbasis Koperasi
-
Bukan Cuma Cegah Abrasi, Inilah Manfaat Mangrove Bagi Keberlanjutan Ekonomi Pesisir
-
Amar Bank Tebar Dividen Rp110 Miliar
-
Makan Biaya Rp553 Miliar, Bandara International Minangkabau Dipercantik Nuansa Minang
-
UMKM RI Diajari Smart Factory oleh Korea Selatan, Produksi Siap Berbasis AI
-
Tak Cuma Pegadaian, Kini Masyarakat Punya Pilihan Baru untuk Gadai Barang
-
Gapembi Klarifikasi Sikap soal SE MBG, Soroti Tata Kelola Kebijakan
-
Sempat Tolak IMF dan World Bank, Purbaya Kini Cari Utang Rp 17,8 T ke China lewat Panda Bond