- Presiden Donald Trump menerima draf kesepakatan dari Iran di Florida pada Sabtu, 2 Mei 2026 untuk mengakhiri krisis Timur Tengah.
- Iran menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan syarat menunda pembahasan program nuklir ke tahap akhir negosiasi diplomatik tersebut.
- AS tetap membuka opsi serangan militer jika Iran melakukan tindakan provokatif atau gagal memenuhi kesepakatan terkait isu nuklir tersebut.
Suara.com - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan telah menerima poin-poin draf kesepakatan baru dari Teheran untuk mengakhiri krisis di Timur Tengah.
Kendati demikian, Trump menegaskan bahwa dirinya masih menunggu rincian kalimat per kalimat dari proposal tersebut sebelum mengambil keputusan final, sembari tetap membuka opsi serangan militer jika Iran dianggap melakukan tindakan provokatif.
Dalam keterangannya sebelum bertolak ke Miami dari West Palm Beach, Florida, Sabtu (2/5/2026), Trump mengakui adanya kemajuan dalam jalur komunikasi.
"Mereka telah memberi tahu saya tentang konsep kesepakatannya. Sekarang, mereka akan menyerahkan draf redaksi pastinya kepada saya," ujar Trump kepada awak media, dikutip via Reuters pada Minggu pagi.
Namun, melalui saluran media sosial pribadinya, Trump tampak pesimistis. Ia meragukan usulan tersebut akan dapat diterima sepenuhnya oleh Washington, mengingat ia menganggap Iran belum "membayar harga yang setimpal" atas gangguan keamanan yang telah terjadi.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan dimulainya kembali serangan udara, Trump menjawab dengan waspada. "Jika mereka berperilaku buruk atau melakukan sesuatu yang fatal, kita akan lihat nanti. Namun, kemungkinan itu (serangan militer) tetap ada," tegasnya.
Kabar ini disambut dengan penurunan harga minyak dunia. Minyak mentah turun 2% menuju angka US$ 110, sedangkan minyak brent juga menurun di angka US$ 108.
Proposal Iran: Buka Jalur Minyak, Tunda Isu Nuklir
Di sisi lain, seorang pejabat senior Iran mengungkapkan bahwa Teheran telah mengajukan tawaran diplomatik yang cukup signifikan.
Baca Juga: Donald Trump Ancam Iran Pakai Gambar AI Berpistol: No More Mr Nice Guy!
Poin utama dari proposal tersebut adalah kesediaan Iran untuk membuka kembali lalu lintas kapal di Selat Hormuz dan mengakhiri blokade AS, namun dengan syarat pembahasan mengenai program nuklir dilakukan di tahap akhir.
Selat Hormuz, yang merupakan urat nadi bagi 20 persen pasokan minyak dan gas dunia, telah tersumbat selama lebih dari dua bulan akibat aksi blokade Iran.
Hal ini memicu lonjakan harga bahan bakar di Amerika Serikat dan memberikan tekanan politik domestik bagi Partai Republik menjelang pemilihan sela Kongres pada November mendatang.
Media lokal Iran melaporkan bahwa terdapat 14 poin utama dalam proposal mereka, antara lain:
- Penarikan pasukan AS dari wilayah sekitar Iran.
- Pencabutan blokade laut dan pembukaan kembali Selat Hormuz.
- Pencairan aset Iran yang dibekukan serta pembayaran kompensasi.
- Penghentian perang di semua lini, termasuk Lebanon.
- Pembentukan mekanisme kontrol baru untuk jalur perairan internasional tersebut.
- Diplomasi di Tengah Ancaman Resesi Global
Meski serangan udara AS dan Israel telah ditangguhkan selama empat minggu terakhir, kesepakatan permanen tampaknya masih sulit tercapai.
Washington tetap pada pendiriannya bahwa perang tidak akan berakhir tanpa jaminan Iran tidak akan memiliki senjata nuklir—tujuan utama yang mendasari serangan pertama AS pada Februari 2026 lalu.
Pejabat Iran yang berbicara secara anonim menyebutkan bahwa memisahkan isu nuklir dari isu pembukaan jalur laut adalah langkah strategis untuk menciptakan suasana yang lebih kondusif.
"Di bawah kerangka kerja ini, negosiasi mengenai masalah nuklir yang lebih rumit telah dipindahkan ke tahap akhir untuk mempermudah tercapainya kesepakatan awal," ungkap pejabat tersebut.
Di pihak lain, Trump juga menghadapi dilema kemanusiaan. Ia menyatakan lebih memilih jalur non-militer namun menegaskan kepada pemimpin Kongres bahwa ia memiliki otoritas penuh untuk memperpanjang durasi operasi militer jika gencatan senjata dianggap gagal.
Berita Terkait
-
AS Bayar AI Rp1,6 Triliun untuk Berburu Ranjau Iran di Selat Hormuz
-
Iran Tegaskan Dominasi di Selat Hormuz, Aturan Baru Teluk Persia Diumumkan
-
Sebut Angkatan Laut AS Bajak Laut, Trump: Ini Bisnis yang Sangat Menguntungkan
-
Hubungan Memanas, Militer Iran Klaim Miliki Bukti AS Siapkan Konflik Baru
-
Iran Walk Out dari Kongres FIFA 2026, Infantino Takut dan Tunduk pada AS
Terpopuler
- Aliansi BEM Bersatu: Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Tercatat Milik Adik Letjen Purn Setyo Sularso
- Milk Cleanser Viva untuk Umur Berapa? Ini Penjelasan dan 5 Pilihan Variannya
- 6 Sepatu Adidas Samba Lagi Diskon 50 Persen di Website Resmi, Kesempatan Langka Separuh Harga
- 4 Cushion Terbaik untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Anti Crack Samarkan Garis Halus Seharian
- Struktur Kuno Muncul Kembali di Sendang Kamulyan Trenggalek
Pilihan
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
-
'Sempurna Hanya Milik Allah!' Massa Gelar Aksi Damai Minta MBG Lanjut dan Sikat Koruptornya!
-
Link Live Streaming Portugal vs Kongo: Panggung Sesungguhnya CR7?
-
Demo Pakai Daster ke Istana, Aliansi Perempuan Tuntut Prabowo Turunkan Harga BBM dan Setop MBG
-
BREAKING NEWS: Kantor Dinas Pendidikan Sulsel Digeledah Kejati
Terkini
-
Luhut Warning Prabowo: Ancaman Ekonomi Mengintai RI Setelah Juli 2026
-
Sah! OJK Restui Jeffrey Hendrik Jadi Bos BEI 2026-2030, Ini Susunan Lengkap Direksinya
-
IHSG Sesi I Merosot 1,06% ke Level 6.154, Saham Sektor Infrastruktur Jadi Biang Kerok
-
Minyak Dunia Anjlok di Bawah 80 Dolar AS, Pertamina Buka Suara soal Harga Pertamax Series!
-
Besok Diumumkan, MSCI Ancam Turunkan Status RI? Dana Asing Rp230 T Bakal Kabur?
-
Ramai-Ramai Mundur, Panselnas Akhirnya Hapus Denda Rp100 Juta Manajer Koperasi Desa Merah Putih
-
Operasional 2 Perusahan Ini Disetop Diduga Tawarkan Jasa Penipuan Pinjol
-
Dunia Kerja Berubah! Ini 5 Kompetensi yang Dicari Perusahaan di Era AI
-
Purbaya Kantongi Utang Rp 302,8 T dari China, Biayai Proyek Pemerintah hingga 2029
-
APWNU Gandeng Investor, Siapkan Sejumlah Program Ekonomi Baru