- Menteri Rosan Roeslani menyatakan realisasi PMA 2025 hanya tumbuh 0,1 persen menjadi Rp 900,9 triliun akibat dinamika global.
- Perlambatan PMA 2025 disebabkan sentimen geopolitik dan geoekonomi global, bukan karena minat investor asing melemah.
- PMDN 2025 mencapai Rp 1.030,3 triliun, melampaui PMA, didukung percepatan eksekusi investasi domestik.
Suara.com - Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani membeberkan akar masalah investor asing atau penanaman modal asing (PMA) sepanjang 2025 yang terlihat melambat jika dibandingkan capaian tahun sebelumnya.
Menurut Rosan, kondisi tersebut tidak bisa dilepaskan dari dinamika global yang masih penuh ketidakpastian.
Berdasarkan data realisasi investasi, PMA sepanjang Januari–Desember 2025 tercatat mencapai Rp 900,9 triliun atau hanya tumbuh tipis sebesar 0,1 persen. Angka ini kontras dengan PMA 2024 yang mampu melonjak hingga 21 persen.
Rosan menilai, perlambatan tersebut perlu dilihat secara proporsional. Ia menegaskan, bukan berarti minat investor asing terhadap Indonesia melemah, melainkan terdapat faktor lain yang memengaruhi perbandingan laju pertumbuhan investasi.
"Sebetulnya bukan PMA-nya yang melambat, kalau saya melihatnya, dalam negerinya yang lebih cepat," ujarnya saat konferensi pers realisasi investasi di kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Menurut Rosan, capaian PMA 2025 yang lebih kecil dibanding 2024 dipengaruhi sejumlah sentimen global. Mulai dari kondisi geopolitik, geoekonomi, hingga ketegangan ekonomi dunia yang masih membayangi keputusan investasi lintas negara.
Meski begitu, Rosan menegaskan bahwa perusahaan asing yang masuk ke Indonesia sepanjang 2025 tetap sesuai dengan target yang dicanangkan Pemerintah Pusat. Ia menilai, kualitas dan arah investasi asing tersebut masih sejalan dengan agenda pembangunan nasional.
Rosan juga menyampaikan optimisme terhadap prospek PMA pada 2026. Ia meyakini, arus investasi asing tahun depan akan kembali meningkat seiring hadirnya katalis baru dalam ekosistem investasi nasional.
Salah satu faktor pendorong yang disebut Rosan adalah peran Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Lembaga tersebut direncanakan akan masuk ke berbagai sektor strategis yang dinilai memiliki daya tarik tinggi bagi investor.
Baca Juga: Penguatan Infrastruktur Teknologi Himbara Jadi Fokus Danantara di 2026
"Ada faktor Danantara akan berinvestasi di beberapa sektor, baik itu dihilirisasi, sektor chemical, sektor health care atau kesehatan, di plasma darah, kemudian juga di beberapa sektor lainnya. Belum lagi nanti, ya itu yang waste to energy kan juga masuk," kata dia.
Di sisi lain, Rosan menilai keberadaan Danantara juga berkontribusi besar terhadap tingginya realisasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) sepanjang 2025. Tercatat, PMDN tahun lalu mencapai Rp1.030,3 triliun, melampaui nilai PMA.
Ia menjelaskan, proses investasi dalam negeri kini berjalan jauh lebih cepat dibandingkan periode sebelumnya. Percepatan tersebut, menurut Rosan, tidak terlepas dari peran Danantara dalam memperkuat kepercayaan dan eksekusi investasi domestik.
"Saya kasih perumpaan, kalau dulu larinya biasanya 10 kilometer jadi 15 kilometer per jam karena ada faktor Danantaranya. Mungkin itu yang bisa membuat perbedaan kenapa percepatan di dalam negerinya, investasinya, itu menjadi lebih cepat," pungkas Rosan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
Pilihan
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
-
Rambah Cempaka: Perempuan yang Bersemayam di Batu Lumpang
-
Jay Idzes Tercoret! Ini Daftar Pemain Timnas Indonesia Hadapi FIFA Matchday
-
Evaluasi Besar-besaran: 8.182 SPPG Pernah Ditangguhkan, 2.213 Masih Berstatus Suspend
Terkini
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
-
Purbaya Minta Pegawai Kemenkeu Terapkan Nilai Pancasila untuk Kelola Keuangan Negara
-
Aturan DHE SDA Berlaku Hari Ini, Purbaya Minta Kepatuhan Repatriasi Wajib 100 Persen
-
Purbaya Rayu Eksportir lewat Insentif Jika Mau Simpan DHE SDA ke Bank Pemerintah
-
Rupiah Berhasil Menguat saat Hari Pancasila, tapi Masih Nyaman di Level Rp17.840
-
Riset LPEI: Indonesia Masih Pengekspor Minyak Kelapa Terbesar Kedua di Dunia
-
Harga Emas Antam Tetap Dibanderol Rp 2.799.000/Gram Hari Ini
-
IRESS: Masyarakat Lebih Butuh Listrik Andal daripada Kompensasi Blackout
-
Konflik Israel - Lebanon Memanas, Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 2 persen
-
SMBC Indonesia Perluas Strategi Bisnis, Salah Satunya Bidik Nasabah Ini