- Lesunya penyaluran kredit perbankan disebabkan oleh permintaan yang melambat akibat daya beli masyarakat yang lemah.
- Dana SAL pemerintah sebesar Rp 271 triliun justru menambah likuiditas perbankan, bukan menjadi masalah utama.
- Ketidakpastian ekonomi global dan sikap *wait and see* pelaku usaha turut menghambat ekspansi kredit perbankan nasional.
Suara.com - Isu yang mengatakan perbankan malas atau tidak efektif dalam menyalurkan kredit dinilai keliru. Para pengamat dan ekonom menilai permasalahan utama lesunya kredit adalah pada daya beli masyarakat yang masih lemah.
Adapun guyuran dana SAL atau Saldo Anggaran Lebih dari pemerintah yang disalurkan perbankan ke pasar justru berdampak positif ke industri dan perekonomian.
Pengamat Perbankan Paul Sutaryono mengatakan penempatan dana SAL sebesar Rp 271 triliun justruk bermanfaat untuk menambah likuiditas perbankan.
"Sesungguhnya likuiditas industri perbankan masih terjaga aman. Dana SAL itu merupakan sisi penawaran (supply side) dalam kredit perbankan," jelas Paul kepada Suara.com di Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Ia mengatakan penyaluran kredit yang lesu lebih disebabkan oleh permintaan yang melambat karena daya beli anjlok dan dunia usaha yang belum melakukan ekspansi karena permintaan pasar yang tidak pasti.
"Isu perbankan tidak efektif itu tidak benar. Alasannya karena daya beli anjlok," tegas Paul.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Pengamat perbankan sekaligus Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan.
"Saya belum melihat ke sana," kata Trioksa saat ditanya soal isu kurang efektifnya bank-bank Himbara menyalurkan kredit ke pasar.
Trioksa mengungkapkan permintaan kredit perbankan lesu karena daya beli masyarakat yang juga masih lemah.
Baca Juga: Optimisis, BCA Targetkan Penyaluran Kredit Tumbuh 10 Persen di 2026
"Lesunya kredit bank lebih karena permintaan kredit yang juga lesu. Permintaan kredit yang lesu karena perusahaan terhambat ekspansi akibat melemahnya daya beli masyarakat," terang dia.
Dana SAL yang diberikan pemerintah dan sudah disalurkan oleh perbankan belum terlihat efektif karena undisbursed loan atau kredit nganggur bank juga masih sangat besar.
"Dana SAL belum terlihat efektif karena undisbursed loan bank juga masih sangat besar, namun harapannya dapat menekan biaya dana bank yang berdampak pada penurunan bunga kredit," imbuhnya.
Paul menambahkan semakin tebalnya ketidakpastian ekonomi global yang diakibatkan tekanan geopolitik perang Rusia-Ukraina, Israel-Hamas, penyerbuan AS ke Venezuela dan disrupsi rantai pasok (supply chain) turut memengaruhi ekonomi nasional dan membuat penyaluran kredit tersendat.
"Kondisi demikian menyebabkan daya beli (purchasing power) masyarakat yang turun sejak pandemi Covid-19 belum pulih seluruhnya," beber Paul.
Sebagai akibatnya barang dan jasa yang diproduksi oleh dunia usaha termasuk pelaku UMKM kurang terjual atau tidak terserap pasar. Kondisi ini akan berlanjut ketika tak ada terobosan yang signifikan untuk meningkatkan daya beli masyarakat.
Berita Terkait
-
Bukan Perbankan Malas Salurkan Kredit, Tapi Pasar Masih Wait and See
-
Modal Asing Mengalir Tinggalkan Indonesia, Apa yang Terjadi dan Mengapa Kita Semua Merugi?
-
Kredit Perbankan Lesu Karena Daya Beli Masyarakat Masih Lemah
-
Purbaya Ungkap Alasan Rupiah Menguat: Bukan Karena Thomas Djiwandono
-
Lewat Paripurna DPR, Thomas Djiwandono Resmi Jadi Deputi Gubernur BI
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
-
Sempat Hilang Kontak, Ain Karyawan Kompas TV Meninggal dalam Kecelakaan KRL di Bekasi
-
4 Pemain Anyar di Skuad Timnas Indonesia untuk TC Piala AFF 2026, 2 Statusnya Debutan!
Terkini
-
Duduk Lesu dan Baju Lusuh saat Tragedi KRL Bekasi, Harta Kekayaan Dirut KAI Bobby Rasyidin Disorot
-
Airlangga Soroti Sepinya IPO Pasar Saham RI di Q1 2026, Ini Penyebabnya
-
Kemendag Siapkan Karpet Merah Regulasi KBLI 2025, Busan: Agar Dunia Usaha Makin Adaptif!
-
Rel KRL dan Kereta Jarak Jauh di Bekasi Harus Dipisah
-
UEA Keluar OPEC, Siap Gelontorkan Pasokan Minyak ke Pasar Dunia Tanpa Kuota!
-
Bukukan Pendapatan Rp2,3 triliun, AVIA Catat Pertumbuhan 16,8 Persen
-
Tak Cuma Motor Listrik, Menperin Buka Opsi Adanya Subsidi Mobil Listrik
-
Menperin Bocorkan Nasib Subsidi Motor Listrik Rp 5 Juta dari Menkeu Purbaya
-
Bukalapak Lapor: Kuartal I 2026 Rugi Rp425 Miliar dan PHK 5 Karyawan
-
Profil Ildong Pharmaceutical, Perusahaan Obat Raksasa Asal Korea Selatan