- Bank Indonesia mencatat Rp 5,96 triliun modal asing keluar pada Januari 2026, didominasi dari pasar saham dan SBN.
- Penyebab utama keluarnya modal adalah ketidakpastian global, namun faktor domestik seperti independensi BI juga berperan.
- Dampak keluarnya modal asing mencakup pelemahan nilai tukar rupiah dan berpotensi meningkatkan harga barang impor.
Suara.com - Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing yang keluar dari Indonesia cukup deras di awal tahun 2026, mencapai Rp 5,96 triliun pada pekan ketiga bulan ini, yakni di periode transaksi 19-22 Januari 2026.
Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya mengatakan aliran modal asing atau foreign flows yang keluar semakin deras itu disebabkan oleh meningkatnya ketidakpastian global.
Sementara para ekonom bilang, keluarnya modal asing di awal tahun adalah alarm atau peringatan dini untuk pemerintah. Ada banyak faktor pemicunya, termasuk terpilihnya Thomas Djiwandono, keponakan Presiden Prabowo Subianto jadi Deputi Gubernur Bank Indonesia. Dampaknya ke masyarakat sangat beragam. Mulai dari melemahnya nilai tukar rupiah hingga naiknya harga barang.
Lalu apa sebenarnya modal asing itu? Mengapa keluar dari Indonesia dan apa dampaknya?
Modal Asing, Apa itu?
Modal asing adalah aliran duit investor asing atau non-residen yang masuk atau keluar dari pasar keuangan ini Indonesia. Ada dua jalur utama foreign flows: investasi langsung dan portofolio asing.
Investasi langsung biasanya bersifat jangka panjang, ketika investor membangun atau memperoleh aset produksi di Indonesia, seperti mendirikan pabrik, membeli perusahaan, atau proyek infrastruktur. FDI cenderung stabil dan tidak mudah ditarik keluar.
Investasi Portofolio Asing di sisi lain sifatnya jangka pendek dan lebih likuid. Contoh mudahnya adalah saat investor membeli saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan surat utang negara.
Apa Saja Modal Asing Hengkang?
Baca Juga: Purbaya Ungkap Alasan Rupiah Menguat: Bukan Karena Thomas Djiwandono
Lantas dari mana saja modal asing yang keluar pada awal Januari 2026?
Menurut Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso, modal asing yang hengkang berasal dari pasar saham dengan nilai Rp 2,67 triliun, Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 1,44 triliun dan dari Sekuritas Rupiah Bank Indonesia senilai Rp 1,85 triliun.
Mengapa Modal Asing Tinggalkan Indonesia?
Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan modal asing keluar dari Indonesia karena ketidakpastian global.
"Meningkatnya ketidakpastian keuangan global mendorong aliran keluar modal asing pada investasi portofolio," kata Perry.
Penjelasan ini diamini Rizal Taufiqurrahman dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef). Ia menegaskan faktor domestik memang berpengaruh, tetapi risiko ketidakpastian global lebih menjadi patokan perilaku investor.
"Aliran modal asing yang keluar dalam waktu singkat lebih tepat dibaca sebagai respons rasional investor terhadap perubahan risiko global, bukan anomali domestik semata," beber Rizal kepada Suara.com, Selasa (27/1/2026).
Ia menjelaskan lingkungan eksternal masih ditandai oleh penguatan dolar AS, suku bunga global yang bertahan tinggi, serta eskalasi ketidakpastian geopolitik, yang secara alamiah mendorong reposisi portofolio ke aset aman.
Dia menambahkan arus keluar modal asing di awal tahun tidak bisa serta-merta ditafsirkan sebagai erosi kepercayaan investor terhadap kebijakan ekonomi Indonesia secara struktural.
"Investor global bersifat oportunistik dan sangat sensitif terhadap sentimen jangka pendek, sehingga fluktuasi awal tahun masih tergolong wajar," tegas dia.
Tapi menurut Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira, faktor domestik justru punya pengaruh besar. Terpilihnya Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI ia nilai membuat pasar risau bank sentral tak lagi independen.
Kedua adalah melebarnya defisit APBN hingga hampir 3 persen dan meningkatnya utang pemerintah. Ketiga terus melemahnya permintaan domestik, khususnya dari kelompok kelas menengah dan terakhir turunnya harga komoditas ekspor utama.
Dampaknya: Rupiah Melemah, Harga Barang Naik
Para ekonom sepakat, keluarnya modal asing akan melemahkan rupiah. Pasalnya ketika akan membeli saham di BEI investor harus menggunakan rupiah, sehingga meningkatkan permintaan rupiah di pasar valuta asing, yang pada akhirnya membuat kurs rupiah menguat.
Sebaliknya jika saham dijual, investor asing akan menukar kembali rupiah ke dolar sehingga nilai tukar melemah.
Ini, terang Bhima, bisa berimbas pada naiknya harga barang-barang, terutama yang diimpor dari luar negeri. Selain itu, suku bunga juga bisa naik yang berimbas pada meningkatnya bunga KPR.
"Modal asing keluar, rupiah melemah. Maka makin rentan ekonomi karena menciptakan biaya impor yang mahal. Masyarakat beli barang mahal. Ini namanya imported inflation. Suku bunga juga jadi tinggi untuk tahan arus modal asing yang keluar. Para debitur KPR pastinya keberatan kalau suku bunga naik," jelas dia.
Sementara dalam analisis Rizal, kaburnya modal asing itu adalah sebuah peringatan dini untuk pemerintah. Jika tekanan eksternal dibiarkan bertemu dengan ketidakpastian arah kebijakan domestik atau melemahnya fundamental, maka arus keluar berpotensi menjadi lebih persisten.
"Fenomena ini tetap menjadi sinyal peringatan dini. Di titik inilah konsistensi kebijakan, kejelasan arah reformasi, dan komunikasi ekonomi yang kredibel menjadi penentu utama dalam menjaga kepercayaan pasar," kata Rizal.
Ia menyarankan pemerintah dan Bank Indonesia (BI) untuk bekerja sama dalam menekan aliran modal asing yang keluar dengan memperkuat policy credibility.
"Disiplin fiskal menjadi kunci, terutama di tengah ekspansi belanja dan program prioritas berskala besar yang berpotensi menambah persepsi risiko pembiayaan. Koordinasi fiskal–moneter perlu dijaga secara konsisten, dengan BI tetap ditempatkan sebagai jangkar stabilitas nilai tukar dan ekspektasi inflasi.
"Di saat yang sama, pendalaman pasar keuangan domestik dan penguatan investor institusional dalam negeri harus dipercepat agar volatilitas arus modal asing tidak langsung menerjemah menjadi tekanan makroekonomi," tutup Rizal.
Berita Terkait
-
Rupiah Loyo, Modal Asing Kabur Rp 27 Triliun Sejak Awal Tahun
-
Sepanjang 2025, Aliran Modal Asing Rp 110,11 Triliun Keluar dari Pasar Saham
-
Berkah Libur Panjang, Aliran Modal Asing Masuk ke Indonesia Tembus Rp3,98 Triliun
-
Sepekan, Aliran Modal Asing ke Indonesia Masuk Tembus Rp240 Miliar
-
GGRP Resmi Jadi Emiten Modal Asing, Harga Sahamnya Meroket
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
Terkini
-
Pertamina EP Adera Sambung Harapan Anak Putus Sekolah Lewat Program Sekolah Kembali
-
Apa Itu Aplikasi AMPERA 24/7? Kini Warga Palembang Bisa Akses Layanan Polisi dari Ponsel
-
Murid Mengeluh Sepatunya Mengganjal saat Dipakai Sekolah, Isinya Diduga Paket Sabu
-
5 Fakta Mahasiswa KKN Tenggelam di Sungai Rawas, Perahu Terbalik Usai Tabrak Kayu
-
Ada Apa di Kejari Kabupaten Bogor? Kasi Pidsus Mendadak Dipanggil Kejagung
-
Pemenuhan Gizi Jadi Fondasi Tumbuh Kembang Anak, Ini yang Harus Diketahui Orang Tua
-
Dari Gudang hingga Rumah, Begini Perjalanan Produk Sebelum Sampai ke Tangan Konsumen
-
Ancaman Belum Usai: Sosiolog UNJ Ingatkan Bentrokan Matraman Rawan Dibajak Isu SARA
-
Tuntas Uji Coba 3 Bulan, Pemkab Bogor Godok Rute Baru Bus Listrik Bojong Gede - Exit Tol Citeureup
-
Ditahan KPK, Moch Mahrus Suap Anggota DPR Rp1,5 Miliar demi Raih Hibah Pokmas Jatim