- Rupiah melemah 0,08 persen terhadap dolar AS menjadi Rp16.800 pada penutupan perdagangan Senin, 2 Februari 2026.
- Pelemahan rupiah dipicu sentimen MSCI, penguatan dolar AS, dan data deflasi inflasi Indonesia Januari.
- Sebagian besar mata uang Asia cenderung melemah pada hari itu, kecuali rupee India dan yuan China.
Suara.com - Pergerakan nilai tukar rupiah berbalik melemah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Senin, 2 Februari 2026.
Data Bloomberg pada sore ini menunjukkan rupiah bergerak di sekitar level Rp 16.800 per dolar AS. Rupiah pun melemah 0,08 persen dibandingkan penutupan Jumat (30/1) lalu yang ada di level Rp 16.786.
Dalam hal ini, Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi oleh sentimen adanya pertemuan Bursa Efek Indonesia dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI).
"Secara umum, penguatan dolar AS oleh nominasi Kevin Warsh sebagai kepala the Fed berikutnya, sentimen risk off pada umumnya dan IHSG khususnya masih tertekan masalah seputar MSCI," katanya saat dihubungi Suara.com.
Dia mengatakan, bahwa rupiah juga tertekan dengan data inflasi. Sebab, pada bulan Januari memperlihatkan bahwa Indonesia mengalami deflasi yang memberikan sentimen negatif terhadap rupiah.
"Berdasarkan dari perdagangan yang lebih baik sedikit mendukung, namun data inflasi yang lebih lemah dan menunjukkan defalsi di bulan Januari menekan rupiah," jelasnya.
Sementara itu, pergerakan mata uang di Asia bervariasi. pergerakan mata uang di Asia bervariasi dengan kecenderungan melemah. Di mana, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,96 persen.
Selanjutnya ada dolar Taiwan dan ringgit Malaysia yang sama-sama ambles 0,44 persen. Diikuti, baht Thailand yang terkikis 0,24 persen.
Berikutnya, dolar Singapura terdepresiasi 0,13 persen dan yen Jepang turun 0,08 persen.
Baca Juga: Berlawanan IHSG, Rupiah Justru Berjaya di Senin Pagi
Lalu peso Filipina terlihat ditutup melemah tipis 0,02 persen. Lalu, rupee India menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,39 persen. Disusul, yuan China yang terkerek 0,07 persen.
Kemudian ada dolar Hongkong yang menguat 0,05 persen terhadap the greenback.
Berita Terkait
Terpopuler
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- Anggota DPR Habiburokhman sampai Turun Tangan Komentari Kasus Erin Taulany vs eks ART
- 5 Cushion Anti Longsor 24 Jam, Makeup Tahan Lama Meski Cuaca Panas
- 8 Sepatu Skechers yang Diskon di MAPCLUB, Bisa Hemat hingga Rp700 Ribu
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
Terkini
-
Kebun Binatang Raksasa RI Siap Melantai di BEI, Taman Safari Segera IPO?
-
Menkeu Purbaya Buka Suara soal Pembentukan Badan Ekspor
-
Purbaya Klaim Rupiah Masih Aman usai Suntik Pakai APBN Rp 2 Triliun
-
Rupiah Tembus Rp17.679, Gelombang PHK Massal Menanti di Depan Mata
-
Dasco Harap Tanggal 29 Mei Ada Kejutan di Bursa Saham
-
Dasco Optimistis IHSG Menguat Setelah 29 Mei, Ada Strategi Rahasia
-
IHSG Semakin Ancur ke Level 6.300 pada Sesi I
-
Arus Petikemas IPC TPK Tembus 1,15 Juta TEUs, Priok Melejit 36 Persen
-
Pemerintah Mau Ubah Sampah Lama di TPA Diubah Jadi BBM Lewat Teknologi Pirolisis
-
Minyak Hampir USD120 per Barel, Dunia Masuk Era Suku Bunga Tinggi Lebih Lama