Bisnis / Makro
Jum'at, 20 Februari 2026 | 14:24 WIB
Ilustrasi logistik. Sektor logistik darat Indonesia kini berada di persimpangan jalan krusial menjelang tahun 2026. Di tengah ledakan aktivitas e-commerce dan manufaktur, industri ini masih dibayangi hantu lama yakni biaya logistik yang mencekik. Foto ist.
Baca 10 detik
  • Biaya logistik Indonesia capai 23% PDB, tertinggi global dan gerus daya saing.
  • TransTRACK tawarkan sistem real-time untuk pangkas BBM 25% dan naikkan utilisasi.
  • Transformasi data jadi kunci efisiensi logistik darat di era distribusi modern.

Suara.com - Sektor logistik darat Indonesia kini berada di persimpangan jalan krusial menjelang tahun 2026. Di tengah ledakan aktivitas e-commerce dan manufaktur, industri ini masih dibayangi hantu lama yakni biaya logistik yang mencekik.

Data terbaru menunjukkan rasio biaya logistik Indonesia masih tertahan di angka 23 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan biaya distribusi tertinggi di dunia, yang secara otomatis menggerus daya saing industri nasional dan memicu kenaikan harga barang di tingkat konsumen.

Tantangan ini kian nyata jika melihat Indeks Kinerja Logistik (LPI) Indonesia tahun 2023 yang melorot ke peringkat 46. Infrastruktur yang belum merata serta integrasi teknologi yang setengah hati menjadi biang kerok sulitnya mencapai efisiensi optimal.

"Tekanan operasional semakin kompleks. Mulai dari harga BBM yang fluktuatif, kenaikan tarif tol, hingga perilaku mengemudi yang boros. Tanpa pemantauan akurat, pemborosan ini sering kali tidak terdeteksi," ungkap para analis ekonomi.

Di lapangan, masalah klasik seperti kendaraan yang menganggur (idle) hingga perjalanan tanpa muatan masih sering terjadi. Padahal, standar layanan pelanggan kini menuntut ketepatan waktu dan transparansi posisi barang secara real-time.

Menghadapi 2026, transformasi digital bukan lagi sekadar pemanis presentasi bisnis, melainkan kebutuhan hidup-mati bagi perusahaan logistik. Menjawab tantangan ini, TransTRACK memperkenalkan solusi Fleet Management System yang terintegrasi.

“Data real-time menjadi kebutuhan mendesak logistik 2026, bukan lagi sekadar pelengkap operasional,” tegas Terryus Wijaya, Marketing Lead TransTRACK.

Sistem telematika modern ini diklaim mampu memberikan dampak instan pada laporan keuangan perusahaan:

  • Efisiensi BBM: Mampu menekan konsumsi bahan bakar hingga 25 persen.
  • Utilisasi Armada: Meningkatkan produktivitas kendaraan antara 15 hingga 40 persen.
  • Manajemen Risiko: Mengubah pola kerja dari reaktif menjadi proaktif melalui peringatan perawatan dini dan skor keselamatan pengemudi.

Implementasi teknologi ini sudah mulai membuahkan hasil di berbagai sektor. Di industri konsumsi (FMCG), fitur live tracking berhasil meminimalisir penalti akibat keterlambatan. Sementara di sektor alat berat, pemantauan jam mesin mampu menekan angka downtime kendaraan secara signifikan.

Baca Juga: Hapus Budaya Seremonial dan Pangkas Perjalanan Dinas, Prabowo Klaim Hemat Rp 280 T dalam 3 Bulan

Ke depan, jumlah armada yang besar bukan lagi jaminan kemenangan di pasar. Pemenang di era distribusi modern 2026 adalah mereka yang mampu mengelola data operasional secara transparan dan cepat dalam mengambil keputusan berbasis risiko.

Load More