- Prabowo & Trump teken ART, perkuat rantai pasok mineral kritis RI-AS secara strategis.
- RI hapus pembatasan ekspor mineral kritis dan tanah jarang khusus untuk pasar Amerika Serikat.
- Fokus pada investasi hilirisasi, AS berkomitmen tanam modal di sektor pertambangan Indonesia.
Suara.com - Indonesia dan Amerika Serikat resmi membuka babak baru dalam hubungan ekonomi bilateral. Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump resmi menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART) di Washington D.C., sebuah kesepakatan strategis yang bakal mengubah peta rantai pasok global.
Salah satu poin krusial dalam dokumen tersebut adalah pelonggaran arus ekspor mineral kritis dari Indonesia menuju Negeri Paman Sam.
Dalam kesepakatan yang dikutip pada Jumat (20/2/2026), Indonesia berkomitmen menghapus pembatasan ekspor komoditas industri tertentu ke AS guna memperkuat konektivitas rantai pasok kedua negara.
"Indonesia harus menghapus pembatasan ekspor ke Amerika Serikat atas komoditas industri, termasuk mineral kritis," bunyi salah satu poin penting dalam perjanjian tersebut.
Tak hanya soal ekspor, kesepakatan ini mewajibkan kedua negara meningkatkan kolaborasi demi menjamin percepatan pasokan mineral kritis yang aman, termasuk unsur tanah jarang (rare earths).
Indonesia diminta bersinergi dengan korporasi asal AS dalam ekosistem pertambangan, mulai dari pengolahan hingga produksi hilir yang berbasis pertimbangan komersial.
Merujuk pada Keputusan Menteri ESDM No. 296.K/MB.01/MEM.B/2023, daftar mineral kritis RI mencakup komoditas strategis seperti nikel, bauksit, tembaga, hingga logam tanah jarang.
Menanggapi hal ini, Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menegaskan bahwa poin-poin dalam ART lebih menitikberatkan pada komitmen investasi Amerika Serikat di tanah air, bukan sekadar pengiriman bahan mentah secara cuma-cuma.
"Itu lebih di bidang investasi ya, mereka akan berinvestasi di Indonesia. Untuk detailnya akan dibahas lebih lanjut lagi nanti," ujar Anggia singkat.
Baca Juga: Tekstil RI Bebas Tarif ke AS, 4 Juta Pekerja Bisa Bernapas Lega
Langkah ini dipandang sebagai sinyal kuat bahwa Indonesia mulai melunak dalam kebijakan ekspor demi menarik raksasa teknologi dan industri otomotif AS untuk membangun basis produksi di dalam negeri.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Terpopuler: Waktu yang Ideal untuk Ganti HP, Rekomendasi HP untuk Jangka Panjang
- Bacaan Niat Puasa Ramadan Sebulan Penuh, Kapan Waktu yang Tepat untuk Membacanya?
- Tak Hanya di Jateng, DIY Berlakukan Pajak Opsen 66 Persen, Pajak Kendaraan Tak Naik
- LIVE STREAMING: Sidang Isbat Penentuan 1 Ramadan 2026
- Pemerintah Puasa Tanggal Berapa? Cek Link Live Streaming Hasil Sidang Isbat 1 Ramadan 2026
Pilihan
-
Impor Mobil India Rp 24 Triliun Berpotensi Lumpuhkan Manufaktur Nasional
-
Jadwal Imsak Jakarta Hari Ini 20 Februari 2026, Lengkap Waktu Subuh dan Magrib
-
Tok! Eks Kapolres Bima AKBP Didik Resmi Dipecat Buntut Kasus Narkoba
-
Bisnis Dihimpit Opsen, Pengusaha Rental Mobil Tuntut Transparansi Pajak
-
Pesawat Pengangkut BBM Jatuh di Krayan Timur, Pencarian Masuk ke Hutan Belantara
Terkini
-
Kemenkeu Dukung Proyek Kapal Riset BRIN lewat Skema KPBU
-
Tekstil RI Bebas Tarif ke AS, 4 Juta Pekerja Bisa Bernapas Lega
-
Sektor Eksternal RI Tangguh! Defisit Transaksi Berjalan 2025 Cuma 0,1 Persen PDB
-
Deal Dagang Prabowo-Trump: Hilirisasi hingga Perpanjangan Freeport jadi 'Gula-gula' Pemerintah RI
-
Efisiensi Jadi Harga Mati Industri Logistik Indonesia
-
Negosiasi Dagang Rampung, RI Siap Borong Produk Energi AS Senilai Rp235 Triliun
-
Sandiaga Uno Mau Startup Muda RI Tembus Pasar Internasional
-
Ciri File APK yang Bisa Kuras Rekening, Bercermin dari Hilangnya Miliaran Rupiah di Batang
-
Indonesia Impor Energi dari AS Senilai USD 15 Miliar: Mulai dari Batubara hingga Bensin Olahan!
-
BRI Optimistis 2026: 3 Program Dorong Kredit Produktif