- Rupiah menguat 0,51% ke Rp16.802 per dolar AS akibat sentimen global.
- Dolar AS loyo usai MA anulir tarif Trump dan data ekonomi AS yang lesu.
- Analis ingatkan waspada defisit anggaran domestik yang bisa tekan rupiah.
Suara.com - Nilai tukar rupiah sukses melanjutkan tren positif dengan parkir di zona hijau pada penutupan perdagangan awal pekan, Senin (23/2/2026). Melemahnya dolar AS akibat faktor politik dan ekonomi di Negeri Paman Sam menjadi angin segar bagi mata uang Garuda.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup pada level Rp16.802 per dolar AS. Angka ini mencerminkan kenaikan signifikan sebesar 0,51 persen dibandingkan penutupan Jumat (20/2/2026) yang sempat tertahan di posisi Rp16.888. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia turut menguat ke level Rp16.818 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut penguatan rupiah kali ini murni didorong oleh faktor eksternal. Keputusan Mahkamah Agung (MA) Amerika Serikat yang menganulir kebijakan tarif Donald Trump menjadi pukulan telak bagi the greenback.
"Rupiah menguat terhadap dolar AS yang melemah tajam setelah data pertumbuhan ekonomi AS berada jauh di bawah ekspektasi dan adanya keputusan MA yang menganulir tarif Trump," ujar Lukman saat dihubungi.
Meski sedang berada di atas angin, Lukman mengingatkan pelaku pasar untuk tetap waspada. Fokus investor diprediksi akan segera beralih ke isu-isu domestik yang berpotensi memberikan tekanan balik bagi rupiah.
Beberapa poin krusial yang perlu dipantau antara lain kekhawatiran pasar terhadap pengelolaan fiskal dalam negeri, prospek pemangkasan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI) dan sentimen terkait rebalancing indeks MSCI yang bisa memicu aliran modal keluar.
Merayakan pelemahan dolar. Mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau menguat berjamaah. Peso Filipina memimpin klasemen dengan lonjakan 1,02 persen, disusul dolar Taiwan (0,64 persen), dan ringgit Malaysia (0,42 persen).
Di barisan belakang, won Korea Selatan, yen Jepang, dan baht Thailand juga kompak terapresiasi. Tercatat hanya dolar Hong Kong yang harus gigit jari karena melemah tipis 0,03 persen terhadap dolar AS sore ini.
Baca Juga: Tarif Trump Berubah Jadi 10 Persen, Seskab Teddy: Kita Sedia Payung Sebelum Hujan
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- 3 Klub Pemain Timnas Indonesia Berhasil Raih Tiket Promosi Musim Ini
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- HP Vivo yang Bagus Seri Apa? Ini Rekomendasi Seri X, V, dan Y Sesuai Kebutuhan
- 4 Rekomendasi Sampo Urang-Aring untuk Menghitamkan dan Menyuburkan Rambut
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
Terkini
-
Pelindo Lakukan Soft Launching Layanan Kepelabuhanan di Perairan Nipa
-
Setelah Sah Jadi BUMN, Danantara Mulai Audisi Direksi DSI
-
Danantara Punya Yayasan Filantropi, Fokus Benahi Kesehatan dan Pendidikan
-
BRI Salurkan KUR Perumahan Rp9,2 Triliun, Menteri PKP Maruarar Sirait Ungkap Manfaat untuk UMKM
-
Viral Pantai Kartika di Konawe Selatan Hancur Digempur Tambang, Ini Perusahaan Pemilik Konsesinya
-
Qita by BRI Diluncurkan, Permudah Pengelolaan Finansial dan Gaya Hidup Digital
-
Pegadaian dan ANTAM Perkuat Sinergi Strategis untuk Kembangkan Ekosistem Emas Nasional
-
Industri Keramik Mulai Bangkit, Utilisasi Industri Naik ke 75 Persen Tahun Ini
-
Prabowo Siapkan Pelatihan Industri Semikonduktor untuk 15 Ribu Anak Muda
-
PLTS Berkapasitas 71,9 MW Resmi Dibangun, Terbesar di Sektor Semen RI