- IHSG melanjutkan tren positif menguat pada perdagangan Selasa, 24 Februari 2026, ditutup pada level tertinggi 8.433.
- Pada pagi hari tersebut, terjadi transaksi 2,24 miliar saham senilai Rp 1,22 triliun, dengan saham naik lebih banyak daripada yang turun.
- Proyeksi analis memprediksi IHSG bergerak terbatas atau mendatar akibat sentimen global yang cenderung campuran dan volatilitas pasar.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih lanjutkan tren positif menguat pada perdagangan, Selasa, 24 Februari 2026. IHSG menghijau ke level 8.428.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 09.04 WIB, IHSG masih nyaman di zona hijau dengan naik 0,45 persen ke level 8.433.
Pada perdagangan pada waktu itu, sebanyak 2,24 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp 1,22 triliun, serta frekuensi sebanyak 177.000 kali.
Dalam perdagangan di waktu tersebut, sebanyak 281 saham bergerak naik, sedangkan 213 saham mengalami penurunan, dan 464 saham tidak mengalami pergerakan.
Adapun, beberapa saham yang menjadi Top Gainers pada waktu itu diantaranya, MEGA, TFAS, DIVA, AIMS, NTBK, YELO, SOFA, MGLV, KING, KIOS, TOSK.
Sedangkan, saham yang masuk dalam Top Loser diantaranya, INDS, KSIX, SKBM, CSIS, SOTS, IFSH, DPUM, BEER, SHID, ISSP, AHAP.
Proyeksi IHSG
IHSG diperkirakan bergerak terbatas pada perdagangan Selasa, di tengah sentimen global yang cenderung campuran dan meningkatnya volatilitas pasar.
Berdasarkan riset harian Samuel Sekuritas Indonesia, IHSG berpotensi bergerak mendatar setelah sebelumnya ditutup menguat 1,5 persen ke level 8.396.
Baca Juga: Siapa Pengemplang Pajak Rp2,6 M yang Sahammya Diblokir Purbaya?
“IHSG diperkirakan bergerak mendatar di tengah sentimen campuran dari pasar regional dan komoditas,” tulis tim analis dalam riset Morning Market Update,.
Pasar saham Amerika Serikat ditutup melemah pada perdagangan Senin (23/2). Dow Jones turun 1,66 persen ke 48.804, S&P 500 terkoreksi 1,04 persen ke 6.838, dan Nasdaq melemah 1,13 persen.
Koreksi terjadi seiring investor kembali mencermati kekhawatiran terkait kebijakan tarif serta gangguan di sektor kecerdasan buatan (AI). Volatilitas juga meningkat di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun 5,4 basis poin ke level 4,03 persen. Sementara itu, indeks dolar AS melemah tipis 0,08 persen ke 97,72.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
- Menkop Ferry Minta Alfamart dan Indomaret Stop Ekspansi Karena Mengancam Koperasi Merah Putih
Pilihan
-
SBY Sentil Doktrin Perang RI: Kalau Serangan Udara Hancurkan Jakarta, Bagaimana Hayo?
-
Kasus Pembakaran Tenda Polda DIY: Perdana Arie Divonis 5 Bulan, Hakim Perintahkan Bebas
-
Bikin APBD Loyo! Anak Buah Purbaya Minta Pemerintah Daerah Stop Kenaikan TPP ASN
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
Terkini
-
Donald Trump Dituntut Kembalikan Dana Tarif Rp 2.700 Triliun
-
Siapa Pengemplang Pajak Rp2,6 M yang Sahammya Diblokir Purbaya?
-
Kontribusi Rp 710 Triliun ke PDB, Industri Hasil Tembakau Minta Kebijakan Lebih Adil
-
Dorong Ekonomi Digital, Gubernur Bank Indonesia Perkuat Talenta Muda
-
Danantara Gandeng Perusahaan Asal Inggris Arm Mau Ciptakan Chip
-
7 Fakta Menarik Perusahaan IPO Saham Februari 2026
-
SIG Pasok 36 Ribu Bata Interlock Untuk Percepat Huntap Sumbar
-
Minat Umrah Generasi Muda Sangat Tinggi, BSI Bidik Target 1 Juta Nasabah
-
Pedagang Ini Catat Lonjakan Penjualan 38% Lewat Strategi Affiliate di Ramadan
-
Harga Emas Galeri 24 dan UBS Naik di Pegadaian Hari Ini 24 Februari 2026