Bisnis / Properti
Selasa, 26 Mei 2026 | 07:12 WIB
Pantai Kuta Mandalika (Dokumentasi Pribadi/Hafsah J.)
Baca 10 detik
  • MOJO garap 8 proyek resort di Lombok Selatan.
  • Rimba dan Secret Villas sudah sold out.
  • Mandalika jadi magnet baru investasi hospitality.

Suara.com - Aktivitas pengembangan properti di kawasan selatan Lombok terus menunjukkan pertumbuhan dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah meningkatnya minat investor terhadap sektor hospitality, MOJO Developments menjadi salah satu pengembang yang saat ini menggarap sejumlah proyek resort secara bersamaan di kawasan Kuta Mandalika dan sekitarnya.

Perusahaan tersebut tercatat memiliki delapan proyek yang berada dalam berbagai tahap pengembangan, mulai dari perencanaan hingga konstruksi. Salah satu proyek utama mereka, Rimba, dijadwalkan rampung pada Mei 2026 dan dilaporkan telah terjual habis. Proyek lain seperti Secret Villas juga sudah sold out.

Sementara itu, sejumlah proyek lain masih dalam tahap pemasaran dan pembangunan. The Swell, Sora, dan The Retreat masih dipasarkan kepada investor, sedangkan proyek Zaya dan Casa Brava tengah memasuki fase konstruksi. MOJO juga menyiapkan satu proyek tambahan bernama Aera sebagai pengembangan berikutnya.

MOJO didirikan oleh Gorka, Jorge, dan Shane. Dengan tim sekitar 15 orang, mayoritas tenaga kerja perusahaan berasal dari wilayah Nusa Tenggara Barat.

Menurut Gorka, keputusan perusahaan untuk berinvestasi di Lombok merupakan bagian dari strategi jangka panjang melihat potensi pertumbuhan kawasan tersebut, terutama setelah berkembangnya kawasan Mandalika Special Economic Zone.

“Kami memilih berinvestasi di Lombok karena melihat potensi pertumbuhan kawasan ini dalam jangka panjang. Dengan berada dekat dengan proyek, kami juga bisa memastikan setiap proses berjalan sesuai standar yang kami tetapkan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, model bisnis yang dijalankan MOJO dirancang untuk menjawab kebutuhan investor yang ingin memiliki aset properti tanpa harus terlibat langsung dalam pengelolaan operasional harian.

Dalam skema tersebut, investor membeli unit villa melalui pembayaran bertahap mengikuti progres pembangunan. Setelah proyek selesai, unit akan dikelola sebagai bagian dari operasional resort dan investor memperoleh pendapatan dari hasil penyewaan.

Pengembangan proyek dilakukan di sejumlah titik strategis di Lombok Selatan, termasuk kawasan sekitar sirkuit Pertamina Mandalika International Circuit dan perbukitan Kuta. Penyebaran lokasi ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk menjangkau pasar wisatawan dan investor yang lebih luas.

Baca Juga: Mengapa Rupiah Melemah saat Mata Uang Lain Menguat? Investor Tak Percaya Pemerintah!

Jorge mengatakan, sejak awal perusahaan memang tidak dirancang untuk mengembangkan satu proyek semata, melainkan membangun portofolio jangka panjang di kawasan tersebut.

“Kami ingin membangun portofolio yang berkelanjutan di kawasan ini. Bukan hanya satu proyek, tetapi ekosistem yang bisa berkembang dalam jangka panjang,” katanya.

Menurutnya, pertumbuhan sektor pariwisata dan pembangunan infrastruktur di kawasan Mandalika menjadi faktor utama yang mendukung prospek pengembangan properti di Lombok Selatan.

Dari sisi konstruksi, MOJO melibatkan kontraktor serta tenaga kerja lokal. Tim teknik berbasis Lombok menangani pembangunan proyek secara langsung dengan pengawasan manajemen perusahaan. Selain tenaga kerja lokal, sebagian anggota tim juga berasal dari Jakarta dan Yogyakarta.

Sejumlah proyek yang saat ini berjalan diperkirakan masih akan terus berlanjut dalam beberapa tahun mendatang. Penyelesaian proyek Rimba pada 2026 akan menjadi proyek pertama yang mulai beroperasi penuh di bawah pengelolaan MOJO.

Meningkatnya perhatian investor terhadap Lombok sebagai kawasan pertumbuhan baru dinilai mendorong perubahan pola pengembangan properti di sektor hospitality. Pengembang kini tidak hanya fokus membangun proyek, tetapi juga mengintegrasikan sistem pengelolaan untuk menciptakan model bisnis jangka panjang.

Load More