- IHSG diprediksi bergerak variatif pekan ini dengan support 8.031 akibat ketegangan geopolitik Timur Tengah memicu penguatan Dolar AS.
- Krisis global berpotensi menaikkan harga komoditas, namun inflasi dan pelemahan Rupiah menjadi risiko jika harga energi terlalu tinggi.
- Kebijakan tarif impor AS pada panel surya dan peringatan S&P mengenai beban fiskal Indonesia meningkatkan kewaspadaan investor.
Suara.com - Pasar modal Indonesia diprediksi bergejolak hari ini, seiring tekanan geopolitik dan pasar dunia imbas memanasnya timur tengah.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bakal bergerak variatif (volatile) dengan kecenderungan konsolidasi.
"Untuk pekan ini, IHSG berpotensi fluktuatif dengan titik support di level 8.031 dan hambatan resistance di posisi 8.437," jelas Imam dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (2/3/2026).
Faktor utama yang membayangi pasar adalah memanasnya konfrontasi militer antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat.
Ketegangan ini memberikan tekanan luar biasa pada Selat Hormuz, jalur nadi yang mengalirkan sekitar 20-25% pasokan minyak mentah dan LNG dunia setiap harinya.
Imam menyoroti beberapa dampak sistemik dari krisis ini:
- Penguatan Dolar AS: Ketidakpastian global memicu investor memindahkan dana ke aset aman (safe haven), yang berisiko menekan arus modal keluar dari pasar negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.
- Lonjakan Komoditas: Sisi positifnya, kenaikan harga minyak dan batu bara global dapat menjadi katalis bagi emiten sektor energi dan pertambangan di bursa domestik sebagai instrumen lindung nilai (hedging).
- Risiko Inflasi & Kurs: Jika harga energi melambung terlalu tinggi dalam waktu lama, beban impor migas akan membengkak, yang pada gilirannya menekan nilai tukar Rupiah dan stabilitas makroekonomi.
Dunia usaha juga sedang mencermati dinamika kebijakan perdagangan di Amerika Serikat.
Setelah Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian besar tarif impor global era Donald Trump, sang presiden merespons dengan rencana menaikkan tarif impor global menjadi 15%.
Kabar buruk bagi industri hijau Indonesia datang dari Departemen Perdagangan AS yang menetapkan bea masuk anti-subsidi untuk panel surya asal Indonesia dengan tarif fantastis antara 86% hingga 143,3%.
Baca Juga: IHSG Loyo, Kapitalisasi BEI Merosot 1,03% Pekan Ini, Jadi Rp 14.787 triliun
Kebijakan ini diprediksi akan memukul ekspor sektor energi terbarukan nasional ke pasar Amerika.
Dari dalam negeri, kewaspadaan investor meningkat setelah lembaga pemeringkat S&P Global Ratings memberikan peringatan mengenai beban fiskal Indonesia.
Rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara diperkirakan telah menyentuh atau bertahan di atas level kritis 15%.
"Peringatan ini menjadi sinyal bagi pasar akan potensi penurunan peringkat kredit (downgrade) di masa depan jika rasio tersebut tidak segera membaik, meskipun saat ini outlook Indonesia masih di level stabil," tambah Imam.
Memasuki awal Maret, investor disarankan memantau rilis sejumlah data ekonomi krusial yang akan menentukan arah pasar ke depan:
Domestik: PMI Manufaktur (Februari), Neraca Perdagangan (Januari), Inflasi (Februari), dan posisi Cadangan Devisa.
Global: PMI Manufaktur & Jasa AS (ISM), PMI NBS China, serta data ketenagakerjaan AS (Non-farm Payrolls dan tingkat pengangguran).
Pergerakan IHSG dalam jangka pendek akan sangat bergantung pada apakah lonjakan harga energi tetap suportif bagi emiten komoditas atau justru berubah menjadi guncangan inflasi yang merusak stabilitas ekonomi nasional.
DISCLAIMER:
Analisis pasar modal ini bersifat informatif dan merujuk pada proyeksi analis PT Indo Premier Sekuritas per Maret 2026. Investasi saham memiliki risiko fluktuasi harga dan kerugian modal.
Berita Terkait
-
Diplomasi Panas: Sikap Tegas Kedubes Iran di Jakarta dan Tawaran Mediasi dari Prabowo Subianto
-
IHSG Bisa Loyo Perdagangan Besok, Ini Saham-saham yang Bisa Dibidik
-
Bukan Sekadar Menyesal: Langkah Mengejutkan Indonesia untuk Mendinginkan Konflik AS - Iran
-
Momen Haru Penyiar TV Iran Pecah Tangis Umumkan Kematian Ali Khamenei
-
Apakah Indonesia Aman dari Perang Dunia Ke-3? Persiapkan Diri, Situasi Global Makin Memanas
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- DPR Pertanyakan, Pemerintah Menjawab, Dari Mana Datang Isu Kipas Angin Rp1,8 T untuk Kopdes?
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- Kulit Sawo Matang Jangan Salah Pilih Warna Lipstik! Ini 8 Pilihan yang Bikin Wajah Cerah Seketika
Pilihan
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
Terkini
-
Keuangan Makin Bersinar, 5 Shio Ini Diprediksi Penuh Keberuntungan 21 Juli 2026
-
Profil Pau Cubarsi, Bek Spanyol yang Raih Penghargaan Pemain Muda Terbaik Piala Dunia 2026
-
Aturan Hak-hak Ojol Tak Masuk RUU LLAJ, DPR Janjikan Bakal Punya UU Sendiri
-
Lepas Status WNI Biayanya Naik 5 Kali Lipat, Menteri Supratman: Bukan Masalah Buat Bangsa
-
Timur Tengah di Ambang Perang Besar! Kematian 3 Tentara Picu Serangan Brutal AS ke Iran
-
Gendong Ransel Hitam dan Bertopi Biru, Bupati Lombok Barat Resmi Masuk Gedung Merah Putih KPK
-
Ledakan Guncang Grand Polonia Medan, Lima Rumah Alami Kerusakan
-
Penembak Sekuriti dan Warga Negara Maroko di Bali Punya Izin Senpi
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Menembus Macet demi Langit Bersih: Catatan Acara Lintas Komunitas Kemenhub