- Surplus Januari 2026 USD0,95 miliar, terendah sejak 2021 akibat ekspor yang merosot tajam.
- Indonesia cetak rekor surplus 69 bulan beruntun sejak Mei 2020 meski angka kian menipis.
- Defisit dagang dengan Tiongkok membengkak hingga USD2,47 miliar pada awal tahun 2026.
Suara.com - Kinerja perdagangan Indonesia mengawali tahun 2026 dengan catatan yang kurang menggigit. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan surplus neraca perdagangan RI pada Januari 2026 hanya menyentuh angka USD0,95 miliar, merosot tajam dibandingkan capaian Desember 2025 yang masih gagah di angka USD2,51 miliar.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa meski angka ini menciut, Indonesia setidaknya masih mampu menjaga napas panjang tren positif selama 69 bulan berturut-turut.
"Pada kondisi Januari tahun 2026, neraca perdagangan barang mencatat surplus sebesar USD0,95 miliar. Ini berarti Indonesia telah mencatat surplus selama 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020," ujar Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (2/3/2026).
Penyusutan surplus yang signifikan ini bukan tanpa alasan. Ateng menjelaskan, penurunan kinerja ekspor yang lebih drastis dibandingkan impor menjadi biang kerok menyempitnya jarak surplus.
Secara bulanan, ekspor memang melemah. Namun jika ditarik secara tahunan (year-on-year), nilai ekspor Januari 2026 yang sebesar USD22,16 miliar sebenarnya masih naik 3,39 persen. Masalahnya, impor melaju jauh lebih kencang dengan kenaikan 18,21 persen secara tahunan menjadi USD21,20 miliar.
"Surplus menipis karena penurunan ekspor lebih dalam jika dibandingkan dengan penurunan impornya. Baik komoditas migas maupun nonmigas sama-sama mengalami penurunan," jelasnya.
Beruntung, sektor nonmigas masih mampu menyumbang surplus sebesar USD3,22 miliar. Kekuatan utama ekspor RI masih bersandar pada tiga komoditas "klasik":
- Lemak dan minyak hewan nabati (HS 15/CPO).
- Bahan bakar mineral (HS 27/Batu bara).
- Besi dan baja (HS 72).
Di sisi lain, Indonesia masih punya "pekerjaan rumah" besar terkait ketergantungan pada produk impor tertentu. Tiongkok kembali menjadi negara penyumbang defisit terdalam bagi neraca dagang RI.
"Negara penyumbang defisit terdalam yaitu Tiongkok, tercatat sebesar USD2,47 miliar," tutur Ateng. Selain Negeri Tirai Bambu, Indonesia juga mencatatkan rapor merah perdagangan dengan Australia (USD0,96 miliar) dan Prancis (USD0,47 miliar).
Baca Juga: BPS Pantau Dampak Perang AS-Israel Vs Iran ke Perdagangan RI
Berita Terkait
Terpopuler
- Apakah Jateng Tak Punya Gubernur? Ketua TPPD: Buktinya Pertumbuhan Ekonomi Jateng Nomor Dua di Jawa
- Ayatollah Ali Khamenei Diklaim Tewas, Foto Jasadnya Ditunjukkan ke Benjamin Netanyahu
- Terpopuler: 5 HP Samsung RAM 8 GB Termurah, Sinyal Xiaomi 17T Series Masuk Indonesia
- Promo Indomaret 26 Februari Sampai 1 Maret 2026, Diskon Besar Minyak Goreng dan Pampers
- PERANG DIMULAI: Amerika dan Israel Serang Ibu Kota Iran
Pilihan
-
Ahok Adu Mulut dengan Pengacara Kasus LNG, Hakim Sampai Harus Turun Tangan
-
Kabar Duka, Wakil Presiden ke-6 RI Try Sutrisno Meninggal Dunia di RSPAD Pagi Ini
-
Terungkap! Begini Cara CIA Melacak dan Mengetahui Posisi Ayatollah Ali Khamenei
-
Iran Klaim Hantam Kapal Induk USS Abraham Lincoln Pakai 4 Rudal, 3 Tentara AS Tewas
-
BREAKING: Mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad Dilaporkan Tewas dalam Serangan Israel
Terkini
-
Perang Makin Memanas, IHSG Langsung Terkapar 2,66% dan 704 Saham Merosot
-
BPS Pantau Dampak Perang AS-Israel Vs Iran ke Perdagangan RI
-
Gas Mako Masuk Tahap Implementasi FID, Sinyal Investasi Hulu Migas Kembali Bergairah
-
Wujudkan Hunian Layak dan Berkualitas, BRI Perkuat Program Gentengisasi melalui Skema KUR Perumahan
-
Kena Sentimen Perang AS-Iran, Rupiah Ambruk ke Rp 16.868/USD
-
Emiten Properti LPKR Bukukan Laba Bersih Rp 470 Miliar Sepanjang 2025
-
BEI Umumkan Ketentuan Liquidity Provider Saham, Termasuk Regulasi Free Float
-
BPS: 33 Provinsi Inflasi, Tekanan Terbesar dari Ayam dan Cabai
-
Perang Timur Tengah, Harga BBM RI Bakal Naik Drastis?
-
Purbaya Mau Audit Wajib Pajak Buntut Restitusi Tembus Rp 360 Triliun