- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah prediksi krisis dan resesi ekonomi Indonesia di hadapan Presiden Prabowo pada Jumat (13/3/2026).
- Purbaya menyatakan inflasi terkendali di 2,59 persen jika data subsidi listrik dihilangkan, serta indeks ekonomi membaik.
- Menteri Keuangan menegaskan Rupiah hanya terdepresiasi 0,3% dan investor asing masih menanamkan modal di Indonesia.
Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kembali melontarkan serangan tajam kepada para ekonom yang mengatakan bahwa Indonesia masuk masa krisis-resesi buntut perang Amerika Serikat vs Iran.
Kritik bertubi-tubi Purbaya disampaikan di depan Presiden RI Prabowo Subianto saat Sidang Kabinet Paripurna yang digelar di Istana Negara pada Jumat (13/3/2026) kemarin.
Suara.com merangkum beberapa pernyataan Purbaya yang mengkritik para ekonom di hadapan Presiden Prabowo. Berikut isinya.
1. Bantah ekonomi kepanasan
Dalam paparannya, Purbaya saat itu menerangkan soal keadaan inflasi Indonesia per Februari 2026. Ia menyampaikan kalau inflasi tembus 4,64 persen secara year on year (yoy).
Namun Purbaya menerangkan kalau kenaikan inflasi ini terjadi lantaran adanya kebijakan subsidi listrik pada Januari dan Februari 2026 lalu. Jika data itu dihilangkan, inflasi Indonesia hanya 2,59 persen.
"Kalau kita hilangkan data-data subsidi listrik bulan Januari Februari tahun lalu, sebetulnya inflasi kita hanya sekitar 2,59 persen, Pak. Jadi kita masih aman untuk tumbuh lebih cepat lagi. Ekonominya enggak kepanasan," katanya.
2. Ekonom aneh karena sebut RI masuk resesi dan morat-marit
Selanjutnya, Purbaya menerangkan data soal kondisi makro ekonomi Indonesia yang diklaim dalam tahap akselerasi setelah mengalami tekanan tahun lalu. Ia menunjukkan data mulai dari Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur, Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK), hingga Mandiri Spending Index (MSI).
"Sengaja saya taruh di sini karena di luar banyak yang bilang kita sudah resesi pak, ekonom-ekonom yang agak aneh itu bilang kita sudah resesi, tinggal hancurnya," kata Purbaya.
Purbaya mengatakan, dari sisi angka PMI Manufaktur per Februari 2026 tengah mencapai level tertinggi dalam dua tahun terakhir, yakni 53,8. Sementara itu IKK bergerak ke level 125,2.
Baca Juga: Pemerintah Bangun Ratusan Toilet dan Revitalisasi Sekolah di Kawasan Transmigrasi
Selain itu, MSI juga naik ke atas hingga 360,7. Bukti lainnya yakni penjualan mobil yang tumbuh 12,2 persen di Februari 2026.
"Ini bukan main-main Pak. Kalau dilihat tahun lalu kan negatif, sekarang sudah mulai positif dan makin kencang. Jadi kita jauh dari apa yang disebut ekonominya morat-marit, kata ekonom-ekonom di luar itu pak, di TikTok banyak itu pak," timpal dia.
3. Tolak klaim Rupiah hancur
Purbaya lalu menyebut kalau daya beli masyarakat terpukul. Namun kenyataannya, data PMI hingga survei kepercayaan menunjukkan sebaliknya.
"Banyak orang bilang katanya daya daya beli masyarakat terpukul ya. Kalau yang lagi susah ya susah tetap tapi kan kita lihat keadaan umum. Keadaan umum ditangkap dari survei kepercayaan konsumen. Jadi memang dari dia beri masyarakat membaik. Dan yang sebelah kanan saya, saya ulang lagi Purchasing Manager Index itu sekarang 53,8 tertinggi dalam beberapa tahun terakhir Pak," paparnya.
Bendahara Negara lalu menerangkan soal kondisi geopolitik yang tengah gonjang-ganjing dan mengganggu ekonomi, khususnya Rupiah. Ia menerangkan kalau mata uang Indonesia itu justru hanya terdepresiasi 0,3 persen.
"Ada yang bilang Rupiah hancur. Tapi kalau dikatakan betul Pak itu sejak perang, Rupiah hanya terdepresiasi sebesar 0,3. Jadi sebetulnya bagus daya tahan kita. Yang real, yang pemain yang punya duit betul, bilangnya seperti ini. Tapi yang enggak punya duit kali, Pak, jelek-jelekin Pak," umbarnya.
Tag
Berita Terkait
-
Pemerintah Bangun Ratusan Toilet dan Revitalisasi Sekolah di Kawasan Transmigrasi
-
CORE Wanti-wanti Ekonomi RI Bisa Menderita Efek Perang Iran-AS
-
PVRI Kritik Pernyataan 'Antikritik' Prabowo Usai Insiden Penyiraman Air Keras: Ini Sinyal Represif!
-
Jika Kritik Tak Lagi Aman, Ke Mana Arah Demokrasi Indonesia?
-
Siap-siap Trump Boncos Lagi, Iran Mau Hancurkan Perusahaan Amerika Serikat di Timur Tengah
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Siapa Ipda Ambarita? Ini Profil Polisi yang Viral Saat Pengamanan Bentrok Matraman
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Sempat Sebut PDIP, Ustaz Das'ad Latif Edit Unggahan soal Putusan MK Larang Dana Pendidikan untuk MBG
-
Kejagung Bongkar Alasan Periksa Tan Kian dan Ferry Boboho di Kasus Febrie Adriansyah
-
Alasan Keselamatan, Kejagung Titipkan Ferry Boboho Saksi Kunci Kasus TPPU Febrie Adriansyah ke LPSK
-
Angela Tanoesoedibjo Apresiasi Legislator yang Dinilai Berdampak bagi Masyarakat
-
Arus Peti Kemas IPC TPK Panjang Melonjak 73,7 Persen
-
Gandeng TP PKK Hingga Tingkat RT, Bupati Bogor Rudy Susmanto Pacu Kesejahteraan Warga
-
Kejagung Tetapkan Tersangka Baru TPPU Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Di Balik Profesi Petugas Damkar, Ada Risiko yang Tak Selalu Terlihat
-
Sepertiga Remaja Alami Masalah Kesehatan Mental, Skrining Tanpa Pendampingan Tak Berarti
-
BNI Sekuritas Buka Suara soal Dugaan Perundungan yang Seret Nama Pegawai di Media Sosial