- Public Virtue kritik wacana penertiban pengamat yang dilontarkan Presiden Prabowo.
- PVRI nilai pernyataan Prabowo ancam demokrasi di tengah teror aktivis KontraS.
- Negara dianggap gagal jamin kebebasan berpendapat akibat retorika penertiban kritik.
Suara.com - Lembaga kajian demokrasi, Public Virtue Research Institute (PVRI), mempertanyakan pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai antikritik. Pernyataan tersebut disampaikan hanya dalam hitungan jam setelah insiden penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus.
PVRI memandang kebebasan berpendapat di Indonesia kini tengah menuju preseden yang semakin mengkhawatirkan.
Direktur Eksekutif PVRI, Muhammad Naziful Haq, menyoroti bahwa belum genap 24 jam setelah tragedi yang menimpa Andrie, Presiden justru melontarkan wacana untuk menertibkan para pengkritik dan pengamat yang dianggap tidak patriotik.
Menurut Nazif, langkah mengotak-kotakkan pengamat berdasarkan loyalitas sangat membahayakan demokrasi karena seolah menjadi isyarat untuk mengeliminasi suara kritis.
“Istilah penertiban dalam sejarah politik Indonesia kenyataannya lebih sering berwujud tindakan represif daripada ketertiban yang sesungguhnya,” ujar Nazif dalam keterangan resminya, Minggu (15/3/2026).
Nazif menyayangkan ketidakmampuan penyelenggara negara dalam membedakan antara patriotisme dan kritik kebijakan.
Ia menilai kritik kebijakan seharusnya didasarkan pada data dan sains, bukan sekadar kecintaan submisif kepada negara.
“Negara mengurus hajat hidup orang banyak, sehingga harus dikelola secara kritis. Suara kritis semestinya dilindungi, bukan dimentahkan, apalagi diteror,” tegasnya.
Peneliti PVRI, Zikra Wahyudi, menambahkan bahwa pernyataan Presiden tersebut berpotensi memberi ruang bagi kekerasan terhadap kebebasan berpendapat untuk semakin leluasa.
Baca Juga: Negara Janji Tanggung Biaya Pengobatan Aktivis KontraS Korban Teror Air Keras
Selama ini, praktik premanisme politik yang membungkam aktivis sering kali tidak terungkap aktor intelektualnya, menciptakan zona abu-abu yang terstruktur.
“Apakah Andrie dapat dikategorikan sebagai pengamat yang tidak patriotik? Saat ini, kepercayaan publik terhadap pemerintah dan kepolisian telah merosot tajam. Jika pelaku penyerangan Andrie tidak segera ditemukan, maka komitmen negara terhadap demokrasi dan HAM patut dipertanyakan,” ungkap Zikra.
Ia menilai pernyataan Presiden merupakan ancaman serius bagi masyarakat sipil.
“Prabowo menganggap kritik sebagai sebuah kekacauan yang harus ditertibkan. Padahal, yang seharusnya dievaluasi adalah orientasi kebijakan dan tindakan pemerintah itu sendiri,” tambahnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menuding sejumlah pengamat tidak memiliki sikap patriotik dan mengeklaim mereka mencari keuntungan finansial dari mengkritik pemerintah.
Dalam rapat kabinet di Istana Kepresidenan, Jumat (13/3/2026), Prabowo menyatakan ada pengamat yang tidak menginginkan keberhasilan pemerintah karena memiliki motif tertentu.
“Menurut saya, sikap mereka itu sempit dan tidak patriotik,” ujar Prabowo dalam forum tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Siapa Ipda Ambarita? Ini Profil Polisi yang Viral Saat Pengamanan Bentrok Matraman
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
BNI Sekuritas Buka Suara soal Dugaan Perundungan yang Seret Nama Pegawai di Media Sosial
-
Fashion Show dari Limbah hingga Bazar UMKM Ramaikan Alun-alun Cilegon
-
Ketika Penyandang Disabilitas Didorong Membangun Bisnis Berkelanjutan
-
KPK Tahan 4 Tersangka Baru Korupsi Asuransi Fiktif PT Pelni Rp263 Miliar
-
Limbah Sianida vs Kemarau Panjang: Saat Sungai Cikaniki Mati Rasa dan Warga Berjuang Demi Air Bersih
-
Askrindo Pertajam Strategi Pertumbuhan, Fokus Diversifikasi Produk hingga Digitalisasi
-
Optimalkan Pelayanan Publik, Mendagri: Pentingnya Penguatan Kapasitas & Dukungan Bagi Kepala Daerah
-
Nyaris Beredar! Polisi Gagalkan Distribusi 784 Ribu Butir Obat Keras Ilegal di Bandung
-
Semakin Praktis, Pembayaran Transportasi Umum Kini Cukup Tempel HP
-
Polisi Sita Parang hingga Golok Jelang Aksi Ribuan PSHT di Surabaya