Bisnis / Makro
Sabtu, 21 Maret 2026 | 12:26 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Q1-2026 mencapai 5,6 hingga 5,7 persen karena daya beli masyarakat terjaga. [Antara]
Baca 10 detik
  • Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Q1-2026 mencapai 5,6 hingga 5,7 persen karena daya beli masyarakat terjaga.
  • Pemerintah melakukan mitigasi dampak konflik global agar tidak terlalu terasa pada aktivitas ekonomi domestik saat ini.
  • Pemerintah akan memperkuat permintaan domestik melalui dukungan swasta dan pengelolaan subsidi untuk menjaga pertumbuhan ekonomi.

Suara.com - Daya beli masyarakat yang terjaga selama periode Ramadhan akan mendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026 hingga mencapai 5,7 persen demikian disampakan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Jakarta, Sabtu (21/3/2026).

Purbaya, yang ditemui usai menunaikan Salat Idul Fitri di Jakarta, mengatakan capaian ini penting di tengah krisis global akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah yang memengaruhi pasokan serta harga minyak dunia.

“Kalau angka terakhir sih pertumbuhan ekonomi bisa 5,6–5,7 persen,” kata Purbaya.

Purbaya menyebut angka proyeksi itu relatif baik mengingat perekonomian global saat ini yang terdampak dinamika konflik Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Menkeu menaruh angka optimistis lantaran meyakini dampak gejolak global belum terasa pada perekonomian domestik. Menurut dia, ekonomi dalam negeri tetap terjaga berkat berbagai langkah mitigasi yang diambil oleh pemerintah.

“Dampak global ke sini masih belum terasa karena di-absorb oleh pemerintah. Jadi, kami menjaga betul supaya masyarakat bisa beraktivitas dengan normal dalam keadaan sekarang. Semaksimal mungkin ke depan akan dijaga seperti itu,” ujarnya.

Bendahara negara pun tetap optimistis terhadap prospek ekonomi setelah Idul Fitri.

Perekonomian nasional, kata dia, bisa jadi melambat bila ketegangan geopolitik terus tereskalasi. Namun, Purbaya menyatakan bakal terus memperkuat permintaan dalam negeri agar ekonomi domestik tetap terjaga.

Langkah yang akan diambil mencakup dukungan terhadap sektor swasta, menjaga daya beli masyarakat, mengelola harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi dari dampak harga minyak global, hingga mendorong belanja pemerintah agar terserap tepat waktu.

Baca Juga: Belum Ada Keputusan Pemangkasan, Menkeu Purbaya Pastikan Anggaran MBG Aman

“Walaupun global begitu, tapi permintaan (domestik) masih kencang. Mungkin (ekonomi) akan melambat kalau (konflik) naik terus. Tapi saya akan jaga permintaan domestik,” tuturnya.

Secara keseluruhan, dia menilai perekonomian nasional relatif terjaga, yang terlihat pada berbagai indikator ekonomi serta tinjauan lapangan yang dia lakukan pada Ramadhan.

Sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto juga mengaku optimistis pertumbuhan ekonomi nasional pada Kuartal I-2026 bisa mencapai target sebesar 5,5 persen berkat berkat belanja dan konsumsi masyarakat yang meningkat selama Ramadan dan Lebaran.

“Kelihatannya target 5,5 bisa dicapai dari geliat selama Ramadhan kemarin,” ujar Airlangga ditemui usai salat Idul Fitri di Jakarta, Sabtu.

Dia juga menyoroti dinamika inflasi yang kemungkinan lebih tinggi dibandingkan kuartal pertama tahun lalu. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya lagi program diskon tarif listrik sebesar 50 persen yang sempat menekan inflasi sepanjang Januari-Februari 2025.

Tanpa adanya potongan tersebut, lanjut dia, pengeluaran masyarakat untuk membayar listrik kembali ke level normal sehingga secara statistik inflasi tercatat lebih tinggi.

Load More