Bisnis / Makro
Senin, 04 Mei 2026 | 10:32 WIB
apa itu cng pengganti lpg (dibuat menggunakan AI)
Baca 10 detik
  • Pemerintah Indonesia mendorong penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif energi rumah tangga pengganti LPG yang bergantung impor.
  • CNG adalah gas alam terkompresi bertekanan tinggi yang diklaim ramah lingkungan serta lebih efisien dibandingkan bahan bakar LPG.
  • Menteri ESDM menyatakan harga CNG berpotensi lebih murah 30 hingga 40 persen karena bersumber dari produksi dalam negeri.

Suara.com - Kamu mungkin mulai sering mendengar istilah CNG belakangan ini, apalagi saat pemerintah mencari cara untuk mengurangi ketergantungan pada LPG. Wacana ini muncul di tengah tantangan pasokan energi dan kebutuhan menjaga stabilitas harga di masyarakat.

Selama ini, LPG sudah jadi andalan utama untuk kebutuhan rumah tangga, terutama memasak. Tapi di balik kemudahannya, ada persoalan besar seperti impor yang masih tinggi dan tekanan terhadap anggaran negara.

Karena itu, pemerintah mulai melirik alternatif energi yang lebih berkelanjutan dan bisa diproduksi dari dalam negeri. Salah satu yang sedang dikaji serius adalah Compressed Natural Gas atau CNG.

Menariknya, selain disebut lebih ramah lingkungan, CNG juga diklaim punya potensi harga yang lebih murah. Bahkan, pemerintah menyebut selisihnya bisa mencapai puluhan persen dibanding LPG.

Direktur Utama PGN Gagas, Santiaji Gunawan, menegaskan bahwa pengembangan CNG merupakan solusi konkret. Foto ist

Apa Itu CNG Pengganti LPG?

Dinukil dari laman resmi Perusahaan Gas Negara (PGN), CNG atau Compressed Natural Gas adalah gas alam yang dikompresi pada tekanan sangat tinggi, biasanya di atas 200 bar. Proses kompresi ini membuat gas lebih padat sehingga lebih mudah disimpan dan didistribusikan ke berbagai wilayah.

Gas alam sendiri terdiri dari campuran hidrokarbon, seperti metana, etana, propana, dan butana. Dalam CNG, kandungan metana menjadi yang paling dominan, bahkan bisa mencapai lebih dari 95 persen.

Kalau dibandingkan dengan LPG, perbedaan utamanya ada pada bentuk dan cara penyimpanan. LPG merupakan campuran propana dan butana yang disimpan dalam bentuk cair, sementara CNG tetap dalam bentuk gas tetapi dengan tekanan tinggi.

Sementara itu, ada juga LNG (Liquefied Natural Gas) yang sama-sama berasal dari gas alam, namun didinginkan hingga suhu sangat rendah agar berubah menjadi cair. Jadi, meski sama-sama “gas,” cara pengolahan dan penyimpanannya berbeda.

Dalam praktiknya, CNG sebenarnya bukan hal baru. Bahan bakar ini sudah lama digunakan di sektor transportasi sebagai bahan bakar kendaraan, karena dinilai lebih bersih dan efisien.

Baca Juga: Disparitas Harga Jadi Pemicu Penyalahgunaan BBM Subsidi dan LPG 3Kg

Selain itu, CNG juga dimanfaatkan di sektor industri untuk mendukung proses produksi. Bahkan, penggunaannya mulai merambah ke sektor rumah tangga, seperti untuk memasak dan pemanas air.

Pemerintah pun mulai memperluas pemanfaatannya. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut CNG sudah digunakan di sejumlah hotel, restoran, hingga dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Bahlil Lahadalia di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (27/4/2026). [Suara.com/Novian Ardiansyah]

CNG Diklaim Lebih Murah 40 Persen

Salah satu alasan utama pemerintah mendorong penggunaan CNG adalah faktor harga. Dibandingkan LPG, biaya penggunaan CNG disebut bisa lebih hemat secara signifikan.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa ongkos CNG bisa lebih murah sekitar 30 hingga 40 persen dibanding LPG, khususnya untuk ukuran tabung rumah tangga seperti 3 kilogram.

Efisiensi ini tidak lepas dari sumber bahan bakunya yang berasal dari dalam negeri. Artinya, pemerintah tidak perlu terlalu bergantung pada impor seperti halnya LPG, yang selama ini masih didatangkan dari luar negeri dalam jumlah besar.

Selain itu, proses distribusi CNG yang berbasis jaringan atau pengangkutan tabung bertekanan juga dinilai bisa menekan biaya logistik dalam jangka panjang, terutama jika infrastrukturnya sudah matang.

Load More