- BPS melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada triwulan pertama 2026 secara tahunan di Jakarta, Selasa (5/5/2026).
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan data tersebut membuktikan perekonomian Indonesia tetap tangguh di tengah isu resesi global.
- Meskipun terjadi kontraksi kuartalan sebesar 0,77 persen, pemerintah menilai hal tersebut merupakan pola musiman yang wajar terjadi.
Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengklaim data Badan Pusat Statistik (BPS) soal pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61 persen di triwulan pertama 2026 adalah bukti Indonesia masih tahan krisis global.
Menkeu Purbaya mengatakan kalau capaian ini sekaligus membantah para prediksi ekonom yang mengatakan Indonesia masuk resesi ekonomi, bahkan krisis 1998.
“Pada kecele, salah prediksi. Boro-boro resesi, malah naik. Apalagi krisis,” katanya dalam konferensi pers APBN KiTa edisi Maret 2026 di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Purbaya juga menjelaskan siklus ekonomi Indonesia yang biasa terjadi. Polanya yakni ekonomi tumbuh, lambat, barulah resesi.
Untuk saat ini, Bendahara Negara mengklaim RI bisa saja mengalami resesi. Namun krisis bisa terjadi apabila resesi terlalu dalam, sedangkan saat ini RI justru tumbuh.
Menkeu Purbaya juga menyinggung soal kabar ekonomi Indonesia seperti krisis 1998 yang banyak beredar di TikTok. Ia menegaskan kalau saat ini ekonomi RI justru mulai tumbuh.
“Padahal mereka nggak pernah lihat data ekonominya 97-98. Jadi data ini, pertumbuhan ekonomi triwulan pertama ini menunjukkan bahwa reformasi ekonomi yang dilakukan sudah memberikan dampak kepada perekonomian. Dan kita sepertinya akan terus mengalami pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat,” pungkasnya.
Diketahui Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 4,87 persen.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, mengatakan capaian tersebut tercermin dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atas dasar harga berlaku yang mencapai Rp6.187,2 triliun, sementara atas dasar harga konstan sebesar Rp3.447,7 triliun.
Baca Juga: Kurangi Subsidi BBM Alasan Menkeu Purbaya Sepakat Berikan Insentif Kendaraan Listrik Mulai Juni
“Ekonomi Indonesia berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) pada triwulan satu 2026 atas dasar harga berlaku sebesar 6.187,2 triliun rupiah, atas dasar harga konstan 3.447,7 triliun rupiah, sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan satu 2026 bila dibandingkan triwulan satu 2025 atau secara year on year tumbuh 5,61 persen,” jelas Amalia di Kantor BPS RI, Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Meski secara tahunan tumbuh kuat, secara kuartalan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi 0,77 persen dibanding triwulan IV 2025.
"Secara triwulanan, ekonomi Indonesia triwulan satu 2026 mengalami kontraksi sebesar 0,77 persen,” ujarnya.
Menurut BPS, kontraksi kuartalan tersebut merupakan pola musiman, sementara secara tahunan kinerja ekonomi menunjukkan penguatan yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya.
Tag
Berita Terkait
-
Kurangi Subsidi BBM Alasan Menkeu Purbaya Sepakat Berikan Insentif Kendaraan Listrik Mulai Juni
-
BPS: Angka Pengangguran di Jakarta Capai 334 Ribu
-
Airlangga Klaim MBG Ikut Dorong Pertumbuhan Ekonomi RI Q1 2026
-
Disokong Pertumbuhan Ekonomi, IHSG Bangkit ke Level 7.000 Lagi
-
Pertumbuhan Ekonomi RI 5,61% di Q1 2026, Pemerintah Klaim Lebih Tinggi dari China-AS
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Purbaya Sidak Pabrik Baja Asal China, Diduga Akali Pajak karena Cuma Bayar Rp 20 M
-
Bitcoin dkk Diramal Bisa Jadi Sistem Finansial Alternatif RI Dalam Waktu 3 Tahun
-
5 Tahun Holding UMi: Lebih Mudah, Dekat dan Berdampak untuk Nasabah PNM Mekaar
-
Delapan Klaster Program Prioritas Nasional di 2027
-
Bahlil Minta Lebih Banyak Lahan untuk Sawit demi Ambisi B80
-
Bahlil Stop Ekspor Batu Bara Usai PLN Kekurangan Pasokan
-
Sandiaga Uno Suntik Modal MUTU, Pasar Karbon RI Jadi Incaran
-
Jasa Marga Tingkatkan Komitmen Pengelolaan Green Toll Road dan Transformasi Rest Area Berkelanjutan
-
LPS Naikkan Bunga Penjaminan Simpanan Rupiah, Kini Tembus 3,75%
-
Toko Online Wajib Punya NIB, Termasuk Penjual Barang Bekas: Ini Ketentuannya