- Pendekatan THR jadi solusi realistis turunkan risiko bagi perokok dewasa yang sulit berhenti.
- Prof. Amaliya analogikan produk alternatif seperti sabuk pengaman untuk kurangi dampak fatal.
- Riset BRIN: Tanpa pembakaran TAR, produk alternatif kurangi risiko kesehatan hingga 90%.
Suara.com - Perkembangan sains dan inovasi kini membuka babak baru dalam upaya penanganan masalah rokok di Indonesia. Melalui pendekatan berbasis pengurangan risiko atau Tobacco Harm Reduction (THR), produk tembakau alternatif kini menawarkan opsi yang lebih realistis bagi perokok dewasa yang ingin menurunkan risiko kesehatan, terutama bagi mereka yang kesulitan untuk berhenti secara total.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, Profesor Amaliya, menjelaskan bahwa produk seperti rokok elektronik, produk tembakau dipanaskan, dan kantung nikotin merupakan bagian dari strategi meminimalkan dampak buruk. Beliau menganalogikan inovasi ini layaknya penggunaan helm atau sabuk pengaman saat berkendara.
"Bukan menghilangkan risiko secara keseluruhan, tetapi secara nyata mengurangi potensi dampak fatal," ujar Prof. Amaliya, Minggu (17/5/2026).
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa THR harus dipahami sebagai instrumen kebijakan kesehatan publik berbasis bukti. Implementasinya pun wajib dikawal ketat oleh regulasi, edukasi, dan pengawasan agar tepat sasaran bagi perokok aktif, bukan menjadi pintu masuk bagi non-perokok atau anak muda.
Pendekatan ilmiah ini diperkuat oleh hasil riset domestik. Penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bertajuk “Evaluation of Laboratory Tests for E-Cigarettes in Indonesia Based on WHO's Nine Toxicants” menemukan bahwa kadar senyawa toksikan pada produk tembakau alternatif secara signifikan lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.
Kunci utamanya terletak pada ketiadaan proses pembakaran, sehingga produk-produk alternatif ini tidak menghasilkan zat berbahaya bernama TAR.
"Karena tidak adanya proses pembakaran yang menghasilkan TAR, produk tembakau alternatif mengindikasikan potensi penurunan risiko kesehatan hingga 80-90 persen dibandingkan rokok bakar," ungkap Peneliti BRIN, Profesor Bambang Prasetya.
Melalui bukti ilmiah ini, para ahli mendorong pemerintah agar kebijakan kesehatan tidak hanya berfokus pada larangan semata, melainkan bergerak ke arah strategi yang lebih aplikatif dan berdampak nyata bagi perlindungan masyarakat luas.
Baca Juga: Setelah Baja, Industri Rokok Juga Ikut Terancam Gulung Tikar
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
- 5 HP Samsung 5G Termurah 2026, Fitur Lengkap dan Performa Stabil untuk Jangka Panjang
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- Golkar Sulsel Memanas, Ini Alasan Pendukung Appi Alihkan Dukungan ke IAS
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Saham Dinilai Sudah Terlalu Murah, Gimana Nasib BBNI?
-
Astra Perkuat Desa Sejahtera Kemiren, Budaya Osing Jadi Penggerak Ekonomi Warga
-
Peserta JKN Tembus 282,7 Juta Jiwa, BPJS Kesehatan Perkuat Fondasi SDM Unggul Indonesia
-
B50 Resmi Jalan, Ekonom UGM Ingatkan Ancaman APBN, Minyak Goreng hingga Deforestasi
-
Danantara Belum Juga Rilis Laporan Keuangan 2025
-
Kemendag Tagih PLN Penuhi Hak Pelanggan Korban Pemadaman, Kompensasi Masih Tunggu Investigasi
-
Saham Perbankan Masih Menarik, BBCA dan BMRI Layak Dikoleksi
-
Mengapa Investor Mulai Menjauh dari Indonesia?
-
Pedagang Online Dukung Kewajiban NIB, Tapi Minta Pemerintah Ikut Atur Potongan Komisi E-commerce
-
PNM Borong GCG Awards 2026, Layani 23,3 Juta Perempuan Prasejahtera hingga Mei