Bisnis / Makro
Senin, 18 Mei 2026 | 07:55 WIB
Pergerakan IHSG terus melemah pada perdagangan Kamis (30/4/2026). [Antara].
Baca 10 detik
  • IHSG merosot 1,98 persen pekan lalu dengan aksi jual investor asing mencapai Rp1,35 triliun pada saham perbankan.
  • Ketegangan geopolitik di Selat Hormuz memicu kepanikan di Wall Street serta bursa Asia dan menekan pasar domestik.
  • Investor disarankan menerapkan manajemen risiko ketat serta mencermati sektor energi sebagai langkah antisipasi terhadap volatilitas pasar saat ini.

Suara.com - Investor patut meningkatkan kewaspadaan setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan lalu merosot cukup dalam sebesar 1,98 persen, dibarengi dengan aksi angkat kaki investor asing (net foreign sell) senilai fantastis, yakni mencapai Rp1.35 triliun.

Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar seperti BBRI, BMRI, dan BBCA, serta emiten komoditas AMMN dan ANTM menjadi sasaran utama pelepasan aset oleh pemodal internasional.

Kombinasi antara pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS dan memburuknya sentimen eksternal diperkirakan akan menjadi beban berat bagi pergerakan indeks hari ini.

Pelaku pasar kini cenderung bersikap defensif melihat eskalasi risiko di tingkat global yang terus meningkat.

Tekanan utama yang membayangi pasar domestik berasal dari ambruknya bursa saham Amerika Serikat, Wall Street, pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu.

Indeks Dow Jones merosot 1,07 persen, S&P 500 melemah 1,24 persen, dan indeks padat teknologi Nasdaq terkoreksi paling tajam hingga 1,54 persen.

Kepanikan di bursa New York dipicu oleh pernyataan keras dari Presiden AS Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi.

Pernyataan kedua tokoh tersebut memicu keraguan besar atas keberlanjutan proses gencatan senjata. Investor khawatir gangguan geopolitik di Selat Hormuz—jalur logistik energi paling strategis di dunia—akan memotong pasokan minyak global dan memicu lonjakan inflasi baru.

Kondisi ini diperparah oleh sentimen domestik AS seiring berakhirnya masa jabatan Jerome Powell sebagai Ketua The Fed. Suksesornya, Kevin Warsh, diprediksi akan menghadapi tekanan berat untuk kembali mengerek suku bunga acuan apabila inflasi global kembali meroket akibat konflik Timur Tengah.

Baca Juga: IHSG Terus Merosot, Dana Asing yang Keluar Rp40,823 Triliun Sepanjang Tahun 2026

Imbasnya, saham-saham semikonduktor raksasa dunia bertumbangan; NVIDIA anjlok 4,4 persen, AMD turun 5,7 persen, dan Intel merosot 6,2 persen.

Bursa Asia Berguguran, Saham Teknologi Korsel Anjlok

Kekhawatiran yang sama menjalar cepat ke kawasan Asia pada hari Jumat lalu, memicu aksi jual massal yang membuat bursa regional memerah.

Indeks Kospi Korea Selatan menjadi yang paling menderita dengan kejatuhan lebih dari 6 persen, dipimpin oleh rontoknya saham Samsung Electronics sebesar 8,6 persen dan SK Hynix yang terpangkas 7,7 persen.

Sementara itu, indeks Nikkei 225 Jepang juga tergelincir 1,99 persen, diikuti Hang Seng Hong Kong yang melemah 1,62 persen, dan ASX 200 Australia yang turun tipis 0,11 persen.

Di tengah situasi yang memanas, pasar sedikit mendapat angin segar dari kabar bahwa Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping telah mencapai kesepahaman untuk menolak kepemilikan senjata nuklir oleh Iran serta berkomitmen menjaga Selat Hormuz tetap terbuka bagi perdagangan internasional.

Load More