Bisnis / Keuangan
Senin, 18 Mei 2026 | 17:09 WIB
IHSG masih melemah karena Rupiah ambruk. [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Indeks Harga Saham Gabungan melemah 1,85 persen ke level 6.599 pada penutupan perdagangan Senin, 18 Mei 2026.
  • Pelemahan dipicu sentimen negatif global, ketegangan Amerika Serikat-Iran, serta depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika.
  • Tekanan rupiah memicu spekulasi kenaikan suku bunga Bank Indonesia yang berdampak pada penurunan minat investor saham domestik.

Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup sesuai prediksi melemah hingga akhir perdagangan, Senin, 18 Mei 2026. IHSG ditutup turun 1,85 persen ke level 6.599.

Berdasarkan riset Phintraco Sekuritas, pelemahan IHSG ini di tengah tekanan sentimen global dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Mengutip riset Phintraco Sekuritas, IHSG ditutup turun 1,85 persen ke level 6.599,24.

Phintraco Sekuritas menyebut pelemahan mayoritas indeks saham global serta depresiasi rupiah menjadi sentimen negatif utama bagi pasar domestik di tengah minimnya katalis positif.

"Mayoritas indeks di bursa Asia bergerak melemah (18/5), akibat kekhawatiran akan meningkatnya kembali ketegangan AS-Iran," tulis Phintraco dalam risetnya.

IHSG masih melemah karena Rupiah ambruk. [Suara.com/Alfian Winanto]

Pasar juga dibayangi kenaikan harga minyak mentah dunia yang kembali memicu kecemasan terhadap potensi lonjakan inflasi global.

Ketegangan geopolitik meningkat setelah hubungan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Kondisi tersebut membuat investor cenderung mengurangi aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang.

Dari dalam negeri, pelemahan nilai tukar rupiah turut menjadi tekanan tambahan bagi pergerakan IHSG.

Pada perdagangan Senin, rupiah ditutup melemah 0,4 persen ke level Rp 17.668 per dolar AS. Level tersebut menjadi posisi penutupan terlemah sepanjang sejarah.

Baca Juga: Lebih Sibuk dari Hormuz, Selat Malaka Jadi Ancaman 'Bom Waktu' Ekonomi Global

Phintraco menilai tekanan terhadap rupiah memunculkan spekulasi bahwa Bank Indonesia berpeluang menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate pada pertemuan yang digelar Selasa-Rabu pekan ini.

"Tekanan terhadap Rupiah ini mendorong munculnya perkiraan bahwa BI berpeluang menaikkan BI Rate pada pertemuan di hari Selasa-Rabu pekan ini (19-20/5)," tulis Phintraco.

Kekhawatiran pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga dinilai dapat menekan minat investor terhadap pasar saham karena biaya dana menjadi lebih mahal.

Pelemahan IHSG hari ini juga sejalan dengan tekanan yang terjadi di sejumlah bursa Asia akibat meningkatnya ketidakpastian global dan kekhawatiran terhadap arah kebijakan moneter bank sentral.

Trafik Perdagangan

Pada perdagangan hari ini, sebanyak 29,89 juta saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp 20,70 triliun, serta frekuensi sebanyak 2,54 juta kali.

Load More