- Pengamat ITB Kevin Marojahan menyatakan perubahan pola iklim meningkatkan kompleksitas dalam pengelolaan stabilitas jaringan transmisi listrik modern.
- Variabilitas cuaca ekstrem memicu potensi gangguan berantai pada sistem interkoneksi besar akibat kombinasi berbagai faktor lingkungan.
- Operator perlu memperkuat infrastruktur dan memanfaatkan teknologi monitoring real-time untuk meningkatkan ketahanan sistem kelistrikan terhadap cuaca.
Suara.com - Perubahan pola iklim dinilai menjadi tantangan baru bagi pengelolaan sistem kelistrikan modern. Meningkatnya perubahan cuaca membuat operator jaringan listrik harus memperhitungkan lebih banyak faktor dalam menjaga stabilitas sistem interkoneksi berskala besar.
Pengamat sistem tenaga listrik Institut Teknologi Bandung (ITB), Kevin Marojahan Banjar Nahor mengatakan kondisi cuaca kini menjadi salah satu parameter penting dalam pengoperasian jaringan transmisi listrik tegangan tinggi.
Menurutnya, berbagai faktor lingkungan seperti temperatur, kecepatan angin, curah hujan, hingga kelembapan dapat memengaruhi karakteristik mekanis maupun kelistrikan konduktor saat beroperasi.
"Dalam sistem tenaga modern, kondisi cuaca menjadi salah satu parameter penting yang diperhitungkan dalam pengoperasian jaringan transmisi," ujarnya di Jakarta, Jumat (29/5/2026).
Kevin menjelaskan, perubahan pola iklim tidak selalu berarti satu kejadian cuaca ekstrem langsung menyebabkan gangguan pada sistem kelistrikan. Namun, meningkatnya variabilitas cuaca membuat pengelolaan jaringan transmisi menjadi semakin kompleks.
"Perubahan iklim tidak selalu berarti satu kejadian ekstrem langsung menyebabkan gangguan sistem. Namun variabilitas cuaca yang meningkat dapat menambah tantangan dalam pengoperasian jaringan transmisi," katanya.
Menurut dia, pada sistem interkoneksi besar seperti yang digunakan di Sumatra, gangguan tidak selalu dipicu oleh satu faktor tunggal. Dalam banyak kasus, gangguan muncul akibat kombinasi berbagai faktor yang terjadi secara bersamaan.
"Gangguan pada sistem interkoneksi besar bersifat probabilistik. Dalam kondisi operasi tertentu, gangguan yang pada awalnya bersifat lokal berpotensi berkembang menjadi gangguan berantai (cascading disturbance) apabila gangguan tersebut berdampak pada aliran daya serta stabilitas sistem tenaga listrik," imbuhnya..
Ia menambahkan, semakin besar sistem interkoneksi yang dibangun, semakin tinggi pula tingkat kompleksitas yang harus dikelola operator sistem. Meski sistem besar memberikan keuntungan berupa efisiensi dan fleksibilitas penyaluran energi, risiko terhadap stabilitas jaringan juga menjadi lebih menantang.
Baca Juga: Jangan Salah, Angin Kencang Bisa Sebabkan Kabel Listrik Putus dan Picu Blackout
Karena itu, penggunaan teknologi monitoring real-time, analisis kondisi sistem berbasis data, hingga inspeksi jaringan menggunakan drone menjadi semakin penting untuk mendeteksi potensi gangguan lebih dini.
"Perkembangan teknologi monitoring dan proteksi sekarang memungkinkan operator membaca kondisi sistem lebih cepat sehingga respons terhadap gangguan juga bisa dilakukan lebih dini," ujarnya.
Selain pemanfaatan teknologi, Kevin menilai penguatan infrastruktur transmisi dan pembangkitan juga perlu terus dilakukan guna meningkatkan ketahanan sistem terhadap berbagai potensi gangguan yang muncul akibat kondisi cuaca yang semakin dinamis.
Ia mengatakan, tantangan tersebut tidak hanya dihadapi Indonesia, tetapi juga menjadi perhatian berbagai negara yang mengoperasikan sistem interkoneksi listrik berskala besar.
"Di berbagai negara, isu power system resiliency terhadap perubahan pola cuaca memang menjadi perhatian utama dalam pengembangan sistem ketenagalistrikan modern," imbuhnya.
Berdasarkan hasil investigasi awal gabungan Bareskrim, Puslabfor, dan PLN, gangguan diduga berkaitan dengan putusnya kabel transmisi pada area sambungan atau mid span jointing yang dipengaruhi kombinasi faktor cuaca dan tekanan mekanis.
Peristiwa tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa di tengah perubahan pola iklim yang semakin dinamis, ketahanan sistem kelistrikan modern tidak hanya bergantung pada kapasitas pembangkit, tetapi juga kemampuan jaringan dalam beradaptasi terhadap perubahan kondisi lingkungan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
- Persija Sudah Temukan Pengganti Mauricio Souza, Target Juara Super League Musim Depan
- 5 Moisturizer Mengandung SPF untuk Pagi Hari, Melembapkan dan Mencerahkan Kulit
Pilihan
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
-
Live 'Pocong Jadi-Jadian' Hebohkan Warga Sragen, 3 Pelajar Diamankan Polisi
Terkini
-
ESDM Kantongi 24 Ribu Hektare Lahan untuk Proyek PLTS
-
Rohis Pegadaian Wujudkan Satu Ketulusan Sejuta Kebermanfaatan: Distribusi 4.500 Paket Daging Kurban
-
Emiten MPMX Tebar Dividen Rp 170 per Saham
-
Memahami Pentingnya Layanan Keuangan Terdaftar dan Diawasi OJK
-
Jangan Salah, Angin Kencang Bisa Sebabkan Kabel Listrik Putus dan Picu Blackout
-
Siasat DSI Kurung Devisa CPO dan Batu Bara di Dalam Negeri, Rupiah Bakal Perkasa Juara?
-
Resmi, Pemerintah Izinkan BLU Impor Minyak dan LPG
-
PT DSI Kendalikan Ekspor, ESDM Rampungkan Konsolidasi Data Pertambangan dengan Danantara
-
Rupiah Melemah Hampir Sentuh Rp18.000 per Dolar, Bagaimana Nasib Harga Pertalite?
-
MSCI Berlaku Hari Ini, IHSG Berakhir di Zona Merah ke Level 6.127