Bisnis / Energi
Kamis, 28 Mei 2026 | 15:30 WIB
Warga yang terkena pemadaman listrik massal di sumatra. [Antara]
Baca 10 detik
  • Pemadaman listrik di Sumatra menegaskan pentingnya memperkuat jaringan transmisi sebagai jalur vital penyaluran energi listrik antarprovinsi yang andal.
  • Pembangunan SUTET 500 kV dalam RUPTL bertujuan memperkuat interkoneksi, namun terkendala pembebasan lahan serta proses perizinan lintas wilayah.
  • Kolaborasi pemerintah dan masyarakat diperlukan untuk mempercepat pembangunan transmisi guna meningkatkan ketahanan sistem kelistrikan dari risiko gangguan.

Suara.com - Pemadaman listrik atau blackout yang terjadi di Sumatra dinilai menjadi pengingat penting bahwa sistem kelistrikan tidak hanya bergantung pada kapasitas pembangkit, tetapi juga kekuatan jaringan transmisi sebagai jalur utama penyaluran listrik antardaerah.

Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagio mengatakan penguatan jaringan transmisi menjadi hal krusial untuk menjaga keandalan sistem interkoneksi Sumatra yang membentang lintas provinsi.

Menurut dia, selama ini perhatian publik lebih banyak tertuju pada pembangunan pembangkit listrik, padahal transmisi memiliki peran vital dalam menjaga kestabilan pasokan listrik.

"Pembangkit sering menjadi perhatian utama, padahal transmisi memegang peran vital karena menjadi jalur utama penyaluran listrik dalam sistem interkoneksi," ujar Agus di Jakarta, Kamis (28/5/2026).

Ilustrasi sutet (Pixabay)

Ia menjelaskan, pengembangan jaringan transmisi di Sumatra, termasuk pembangunan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kilovolt (kV), sebenarnya telah masuk dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) terbaru.

Proyek tersebut ditujukan untuk memperkuat interkoneksi kelistrikan Sumatra agar lebih tahan terhadap gangguan sistem.

Namun, Agus menilai pembangunan transmisi berskala besar kerap menghadapi berbagai kendala, mulai dari pembebasan lahan hingga proses perizinan lintas wilayah.

"Pembangunan transmisi tidak hanya persoalan teknis. Ada proses pembebasan lahan, penyesuaian tata ruang, perizinan lintas wilayah, hingga komunikasi dengan masyarakat di sekitar jalur transmisi yang semuanya membutuhkan waktu dan koordinasi," katanya.

Menurut dia, semakin luas sistem interkoneksi Sumatra, kebutuhan terhadap penguatan jalur utama dan keandalan penyaluran listrik antardaerah juga semakin penting.

Baca Juga: Blackout di Sumatra Jadi Alarm untuk Penguatan Sistem Kelistrikan Nasional

Di sisi lain, keterlambatan pembangunan transmisi dinilai dapat meningkatkan risiko gangguan sistem seiring pertumbuhan kebutuhan listrik dan aktivitas ekonomi di Sumatra.

Agus menambahkan, penyelesaian aspek sosial dalam proyek infrastruktur strategis perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak berkembang menjadi konflik agraria atau persoalan berkepanjangan.

Karena itu, ia menilai dukungan masyarakat dalam proses pembebasan lahan menjadi penting agar pembangunan infrastruktur kelistrikan dapat berjalan lebih optimal.

Selain itu, Agus juga mendorong penguatan koordinasi dan percepatan proses perizinan lintas wilayah agar proyek strategis dapat berjalan lebih efektif.

"Karena jalurnya melewati banyak wilayah, pembangunan transmisi memang membutuhkan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaksana proyek, dan masyarakat," jelasnya.

Ia menegaskan blackout di Sumatra seharusnya menjadi momentum untuk mempercepat pembangunan jaringan transmisi demi memperkuat ketahanan sistem kelistrikan nasional.

"Blackout di Sumatra harus menjadi momentum bersama untuk mempercepat penguatan jaringan transmisi. Tanpa percepatan pembangunan transmisi, risiko gangguan sistem akan terus meningkat seiring pertumbuhan kebutuhan listrik dan aktivitas ekonomi di Sumatra," tuturnya.

Load More