Bisnis / Ekopol
Senin, 01 Juni 2026 | 12:58 WIB
Presiden Prabowo Subianto saat berpidato. (dok. KSP)
Baca 10 detik
  • Presiden Prabowo Subianto menyerukan penerapan ekonomi Pancasila pada 1 Juni 2026 guna memastikan kekayaan alam dinikmati rakyat Indonesia.
  • Indonesia telah mencapai swasembada pangan dan menjadi produsen utama komoditas teknologi tinggi di tengah tantangan krisis global.
  • Pemerintah akan melakukan transformasi ekonomi melalui hilirisasi total agar nilai tambah produk dikelola sepenuhnya di dalam negeri.

"Kita harus mengakui, sudah terlalu lama kekayaan kita tak sepenuhnya untuk kemakmuran rakyat. Sudah terlalu lama nilai tambah sumber daya kita dinikmati di luar negeri. Sudah terlalu lama rakyat menjadi penonton kekayaan bangsanya sendiri."

Transformasi Menuju Ekonomi Pancasila

Sebagai solusi dari ketimpangan tersebut, Presiden Prabowo menegaskan komitmen pemerintah untuk melakukan transformasi ekonomi secara fundamental.

Fokus utama dari kebijakan ini adalah implementasi nyata dari Ekonomi Pancasila, sistem ekonomi yang tidak hanya mengejar pertumbuhan (growth), tetapi juga pemerataan (equity) dan kedaulatan (sovereignty).

Transformasi ini akan berfokus pada hilirisasi total, di mana tidak ada lagi komoditas mentah yang diekspor tanpa pengolahan.

Dengan cara ini, industri manufaktur dalam negeri diharapkan tumbuh pesat, menyerap jutaan tenaga kerja, dan menciptakan ekosistem teknologi tinggi yang mandiri.

"Adalah tugas saya mentransformasi bangsa, terutama ekonomi nasional. Sistem ekonomi kita belum sepenuhnya berdasarkan Pancasila. Kita akan menuju ekonomi yang sungguh-sungguh Pancasila," kata Prabowo.

Langkah ini dipandang sebagai upaya berani untuk melepaskan diri dari ketergantungan pada fluktuasi harga komoditas global.

Dengan mendorong nilai tambah di dalam negeri melalui Ekonomi Pancasila, pemerintah berharap Indonesia tidak hanya menjadi sumber bahan baku bagi kemajuan negara lain, melainkan menjadi motor penggerak ekonomi dunia melalui produk-produk jadi yang memiliki daya saing global.

Baca Juga: Merenungkan Kembali 1 Juni: Sudahkah Kita Menjadi Pancasilais yang Sebenarnya?

Load More