- Saham Wilmar jatuh 10,5% usai terseret investigasi ekspor sawit.
- Pemerintah selidiki dugaan transfer pricing dan under-invoicing.
- Ketidakpastian aturan ekspor bikin pasar sawit dan investor gelisah.
Suara.com - Saham Wilmar International anjlok tajam setelah pemerintah Indonesia memasukkan perusahaan tersebut ke dalam daftar perusahaan yang sedang diselidiki terkait dugaan praktik penyimpangan ekspor sawit.
Saham Wilmar yang tercatat di Bursa Singapura sempat merosot hingga 10,5% pada perdagangan 28 Mei 2026, menjadi penurunan intraday terdalam dalam hampir enam tahun terakhir. Meski kemudian memangkas sebagian kerugian, saham perusahaan itu tetap ditutup melemah sekitar 4% pada jeda perdagangan siang di level SGD 3,38.
Menukil straitstimes, Selasa (2/6/2026) tekanan terhadap Wilmar muncul setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa Wilmar dan Musim Mas Group termasuk dalam 10 perusahaan sawit yang tengah diperiksa atas dugaan praktik under-invoicing dan transfer pricing ekspor. Praktik tersebut diduga membuat potensi penerimaan negara dari sektor ekspor komoditas strategis tidak optimal.
Penyelidikan ini menjadi bagian dari langkah pemerintah memperketat pengawasan ekspor sumber daya alam, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang ingin negara memiliki kendali lebih besar terhadap perdagangan komoditas utama Indonesia.
Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Singapura, Wilmar menyatakan belum menerima pemberitahuan resmi terkait penyelidikan tersebut. Namun perusahaan mengaku telah berkoordinasi dengan otoritas terkait untuk memahami persoalan yang menjadi perhatian pemerintah.
"Perusahaan akan memberikan pembaruan kepada pasar apabila telah menerima pemberitahuan resmi," tulis manajemen Wilmar.
Penyelidikan terbaru ini menambah daftar tantangan yang harus dihadapi Wilmar di Indonesia. Sebelumnya pada 2025, perusahaan tersebut harus merelakan dana deposito senilai Rp11,8 triliun kepada Kejaksaan Agung dalam perkara terpisah yang juga berkaitan dengan ekspor minyak sawit.
Kasus demi kasus yang membelit pemain besar industri sawit membuat investor semakin waspada terhadap risiko regulasi di Indonesia. Apalagi sektor sawit merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar negara.
Tidak hanya menghantam harga saham, rencana pemerintah mengubah tata kelola ekspor komoditas juga memicu gejolak di pasar sawit domestik.
Baca Juga: Menkeu Mengaku Stres Rupiah Rp17.800: Bagaimana Nasib Dompet Rakyat?
Pelaku industri masih menunggu kejelasan mengenai mekanisme baru ekspor yang akan diterapkan pemerintah. Ketidakpastian tersebut membuat sejumlah tender minyak sawit mentah (CPO) milik perusahaan negara terhenti, sementara sebagian pabrik pengolahan memilih menunda pembelian tandan buah segar (TBS) dari petani.
Kondisi ini berpotensi memberikan tekanan langsung kepada petani sawit yang bergantung pada penjualan hasil panen harian. Jika ketidakjelasan kebijakan berlanjut, harga TBS berisiko semakin tertekan dan aktivitas perdagangan sawit nasional dapat melambat.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
Pilihan
-
674 Korban Kebakaran Kemayoran Mengungsi, Posko Bantuan dan Layanan Kesehatan Disiagakan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
Terkini
-
Rupiah Terus Melemah: Pengusaha MBG Protes, Harga Sabun hingga Popok Naik
-
IHSG Masih Kuat Bertahan Menghijau ke Level 6.218 di Sesi I
-
Inflasi Mei 2026 Naik Lagi, Harga Cabai hingga Bawang Merah Tekan Daya Beli Masyarakat
-
Desa Energi Berdikari Keliki, Wujudkan Ketahanan Pangan Berbasis Energi Bersih
-
Tiket Pesawat Berpotensi Naik, Pemerintah Izinkan Maskapai Kenakan Fuel Surcharge hingga 50 Persen
-
Dewan Komisaris Pertamina Tinjau Keandalan Fasilitas Operasi dan Stabilitas Pasokan Energi di Bali
-
Rupiah Melemah! Wisatawan Singapura Mulai Serbu Jakarta untuk Belanja, Mulai Kemang Hingga SCBD
-
Dukung Kualitas Pendidikan & SDM,Dewan Komisaris Pertamina Berbagi Inspirasi di Sekolah Area Operasi
-
Pemerintah Resmi Izinkan BUMN Impor Migas Tanpa Tender, Berlaku Saat Kondisi Darurat
-
Telkom Akses Raih Penghargaan IRCA 2026 atas Komitmen Tata Kelola dan Kepatuhan Regulasi