Bisnis / Keuangan
Selasa, 02 Juni 2026 | 12:05 WIB
Ilustrasi. Pengunjung melihat barang yang dijual saat berbelanja pada salah satu Pusat Perbelanjaan di Jakarta, Jumat (5/5/2023). [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Rupiah melemah, wisatawan Singapura makin gencar belanja di Jakarta.
  • Kasus kriminal viral tak mengurangi minat turis asing berkunjung.
  • Daya beli dolar Singapura dorong sektor ritel dan wisata Jakarta.

Suara.com - Maraknya pemberitaan soal aksi kejahatan jalanan di Jakarta belakangan ini ternyata belum mampu mengurangi minat wisatawan asing untuk datang ke ibu kota. Alih-alih takut, banyak turis asal Singapura justru memanfaatkan pelemahan nilai tukar rupiah untuk berburu barang murah dan wisata kuliner.

Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah video viral memperlihatkan aksi penjambretan yang menargetkan wisatawan asing di sejumlah titik Jakarta. Bahkan, muncul perbandingan antara Jakarta dan Gotham City, kota fiksi yang identik dengan tingkat kriminalitas tinggi dalam komik Batman.

Meski demikian, daya tarik ekonomi Jakarta masih jauh lebih kuat di mata sebagian wisatawan, terutama dari Singapura. Nilai tukar dolar Singapura yang menguat terhadap rupiah membuat biaya belanja, makan, hingga berwisata di Jakarta terasa jauh lebih murah dibandingkan beberapa tahun lalu.

Noraini Rahmat (52), wisatawan asal Singapura yang menghabiskan akhir pekan bersama dua saudarinya di Jakarta pada 22-25 Mei 2026, mengaku tidak terlalu terpengaruh oleh pemberitaan mengenai kejahatan jalanan.

"Tidak ada waktu untuk takut, terlalu banyak tempat belanja yang harus dikunjungi," ujarnya sambil berseloroh menukil straitstimes, Selasa (2/6/2026).

Noraini dan keluarganya menghabiskan waktu berburu busana muslim di pusat perbelanjaan Thamrin City, mengunjungi berbagai merek lokal populer, hingga mencicipi kuliner di kawasan Blok M. Mereka bahkan memaksimalkan jatah bagasi pesawat 30 kilogram untuk membawa pulang lapis legit dan berbagai camilan khas Indonesia.

Menurutnya, pelemahan rupiah membuat pengalaman berbelanja di Jakarta terasa semakin menguntungkan.

Sentimen serupa disampaikan Marcus Tan (38), wisatawan Singapura yang sengaja memperpanjang perjalanan liburannya selama tiga hari di Jakarta setelah berwisata ke Nusa Tenggara Timur.

"Seratus dolar Singapura bisa digunakan jauh lebih banyak di sini. Saya bisa belanja lebih banyak, makan lebih banyak, tetapi pengeluarannya tetap terasa lebih hemat dibandingkan di Singapura," kata Marcus.

Baca Juga: Belanja Sambil Jajan Kuliner Jepang? Pengalaman Ini Kini Bisa Dinikmati di Jakarta Utara

Saat ini, satu dolar Singapura diperdagangkan di kisaran Rp13.800, mendekati level tertinggi terhadap mata uang Indonesia. Kondisi tersebut meningkatkan daya beli wisatawan Singapura selama berada di Indonesia.

Bahkan untuk sejumlah merek internasional yang juga tersedia di Singapura, Marcus menilai harga produk di Jakarta masih lebih murah setelah dikonversi ke mata uang negaranya.

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Jakarta dan kepolisian terus berupaya meredam kekhawatiran publik terkait meningkatnya kasus kejahatan jalanan. Pada 22 Mei 2026, Polda Metro Jaya mengumumkan telah mengungkap 171 kasus kejahatan jalanan dan menangkap 103 tersangka sepanjang lima bulan pertama tahun ini.

Gubernur Jakarta Pramono Anung juga menegaskan bahwa aksi penjambretan dan premanisme tidak boleh dibiarkan karena dapat merusak citra Jakarta sebagai kota global.

Pemprov Jakarta bahkan tengah menyiapkan integrasi sistem kamera pengawas (CCTV) milik pemerintah, kepolisian, gedung swasta, hingga berbagai institusi lainnya dalam satu jaringan pemantauan terpadu guna mempercepat deteksi dan penanganan tindak kriminal.

Meski demikian, bagi sebagian wisatawan Singapura, faktor keamanan belum menjadi alasan untuk membatalkan perjalanan ke Jakarta.

Nur Syarifah (29), yang berlibur bersama lima temannya dan seorang anak berusia tiga tahun, mengaku tetap merasa nyaman berwisata di Jakarta. Kelompoknya mengunjungi berbagai restoran viral dan kafe populer di kawasan Kemang hingga Sudirman Central Business District (SCBD).

"Kami tidak akan datang jika benar-benar merasa kota ini berbahaya. Dibandingkan beberapa kota di Eropa yang terkenal dengan pencopet, Jakarta masih terasa cukup aman bagi kami," ujarnya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Singapura merupakan sumber wisatawan asing terbesar kedua bagi Indonesia setelah Malaysia. Sepanjang kuartal I-2026, lebih dari 320 ribu wisatawan Singapura tercatat berkunjung ke Indonesia.

Load More