- Fitch Ratings resmi menetapkan peringkat nasional jangka panjang 'A-(idn)' dengan outlook stabil bagi PT Bank Jago Tbk.
- Kekuatan kredit Bank Jago didorong oleh ekspansi perbankan digital serta perbaikan profitabilitas yang dinilai cukup tangguh.
- Manajemen risiko melalui asuransi kredit berhasil menjaga rasio kredit bermasalah tetap rendah di tengah pertumbuhan agresif.
Suara.com - Lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings Indonesia, resmi mengafirmasi Peringkat Nasional Jangka Panjang PT Bank Jago Tbk (ARTO) pada level 'A-(idn)'. Prospek atau outlook dari peringkat tersebut ditetapkan berada pada posisi 'Stabil'.
Sebagai informasi, peringkat nasional di kategori 'A' mencerminkan ekspektasi pasar terhadap tingkat risiko gagal bayar (default risk) yang relatif rendah jika dibandingkan dengan emiten atau obligasi lain di negara yang sama.
Peringkat ini menegaskan bahwa tingkat kelayakan kredit intrinsik standalone Bank Jago dinilai cukup tangguh, yang didorong oleh keberhasilan ekspansi bisnis perbankan digital serta perbaikan profitabilitas yang berkelanjutan.
Meski demikian, Fitch memberikan catatan bahwa keunggulan peringkat tersebut masih diimbangi oleh struktur portofolio yang terkonsentrasi, laju ekspansi kredit yang sangat pesat, serta orientasi penyaluran dana ke segmen nasabah yang memiliki profil risiko lebih tinggi.
Penilaian Fitch terhadap profil risiko Bank Jago sangat dipengaruhi oleh kebijakan target pertumbuhan bank yang ambisius. Portofolio emiten bank digital ini dinilai masih condong kepada sektor kredit tanpa agunan untuk kategori ritel serta Usaha Kecil dan Menengah (UKM).
Karakteristik segmen ini dinilai membawa tingkat risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata industri perbankan sejenis, yang berpotensi menahan beban kerugian penurunan nilai serta biaya kredit (cost of credit) di level yang tinggi.
Namun, manajemen risiko Bank Jago dinilai berhasil mengompensasi tekanan tersebut melalui skema asuransi kredit dan pengalihan kredit bermasalah kepada pihak ketiga.
Berkat strategi ini, rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) Bank Jago mampu terjaga rendah di level 0,8 persen per akhir Maret 2026.
Ke depan, Fitch memproyeksikan rasio NPL Bank Jago berpotensi mengalami kenaikan ke rentang 1,1 persen hingga 1,2 persen seiring dengan potensi berkurangnya cakupan asuransi kredit.
Baca Juga: RI Raih Nilai Jelek dari Fitch, Airlangga: Ekonomi Dunia Tertekan Perang
Walau begitu, penerapan bunga kredit yang memadai serta diversifikasi portofolio yang kian matang diyakini mampu menjaga biaya kredit tetap berada pada tingkat yang dapat dikelola, yakni di kisaran 4,5 persen.
Tren Penurunan Modal Inti Utama (CET1)
Pesatnya pertumbuhan aset tertimbang menurut risiko (ATMR) akibat ekspansi kredit yang agresif diperkirakan akan berdampak pada penurunan rasio kecukupan modal bank.
Fitch mencatat rasio modal inti utama atau Common Equity Tier 1 (CET1) Bank Jago bertengger di level 28,8 persen per akhir Maret 2026.
Mengingat model bisnis bank digital memerlukan bantalan permodalan yang lebih besar untuk menyerap risiko, rasio CET1 ini diproyeksikan akan menyusut, namun tetap dikategorikan memadai dalam jangka pendek karena didukung oleh peningkatan kemampuan bank dalam membentuk modal secara internal (internal capital generation).
Indikator Sensitivitas Peringkat Fitch untuk Bank Jago:
- Pemicu Penurunan Peringkat: Peringkat dapat diturunkan jika agresivitas di segmen berisiko tinggi memicu pembengkakan rasio NPL di atas 6 persen atau penurunan rasio CET1 di bawah 20 persen secara berkepanjangan.
- Pemicu Kenaikan Peringkat: Peringkat berpeluang dinaikkan jika bank mampu melakukan diversifikasi portofolio kredit secara berkelanjutan dengan selera risiko yang terkendali, yang dibuktikan lewat perbaikan biaya kredit yang signifikan tanpa memperburuk rasio NPL.
Berita Terkait
-
Gontor dan Jago Syariah Kolaborasi Edukasi Finansial untuk Santri
-
Laba Bank Jago Melonjak 42 Persen di Kuartal I 2026, Tiga Arahan Jadi Kunci
-
RUPST Bank Jago: Laba Tumbuh 115 Persen, Tetapkan Direksi Baru
-
Bank Jago Raup Laba Rp86 Miliar di Kuartal I 2026, Naik 42%
-
Bank Jago Perkuat Aplikasi, Fitur Kantong dan Investasi Terintegrasi Makin Lengkap
Terpopuler
- 5 Motor yang Jadi Mimpi Buruk Mekanik, Montir Langsung Pura-Pura Sibuk
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- realme C100i Jadi Andalan Anak Muda, Baterai Awet 6 Tahun dan Reverse Charging
- Akhir Dilema PCX vs Vario: Skutik Baru Honda Hadir Bawa Kamera Dashcam dan Mesin Lebih Buas
Pilihan
-
IHSG Diproyeksi Menguat Lagi, Investor Bisa Cermati Saham-saham Ini
-
Prabowo Copot Dadan Hindayana, Nanik S Dayang Resmi Jadi Kepala BGN!
-
674 Korban Kebakaran Kemayoran Mengungsi, Posko Bantuan dan Layanan Kesehatan Disiagakan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
Terkini
-
IHSG Diproyeksi Menguat Lagi, Investor Bisa Cermati Saham-saham Ini
-
Ratusan Bank dan Bank Syariah Resmi Merger Massal, Ini Dampaknya!
-
Dari Sedekah Muncul Ide Usaha, Sandal Produksi Rumahan Ini Kini Tembus Pasar Nasional
-
Rapor Perbankan April 2026: Bank Mandiri Solid, Bagaimana dengan BCA?
-
IHSG Hari Ini: Analis Sarankan Fokus Saham 'Big Banks' dan Konglomerasi, Kenapa?
-
Diversifikasi Aset ke Luar Negeri, Strategi Timeless Amankan Kekayaan?
-
Dasco: DPR Malam Ini Lembur Kerjakan UU P2SK, Akan Difinalisasi Besok
-
Dadan Hindayana Berencana MBG Dibagikan di Arab Saudi Sebelum Dicopot
-
Neraca Perdagangan RI Surplus 72 Bulan Beruntun di April 2026, Tapi Terendah dalam 5 Tahun
-
Impor RI Melonjak 25,21 Miliar USD April 2026, Sektor Migas Naik Tajam 82%