- Bank Indonesia mencatat inflasi domestik Mei 2026 stabil di angka 0,28 persen bulanan dan 3,08 persen tahunan.
- Stabilitas harga terjaga berkat konsistensi kebijakan moneter serta sinergi erat antara Bank Indonesia, TPIP, dan TPID.
- Lonjakan harga pangan dan penyesuaian harga energi global menjadi pemicu kenaikan inflasi pada beberapa kelompok komoditas.
Suara.com - Bank Indonesia (BI) memastikan bahwa laju inflasi domestik sepanjang bulan Mei 2026 tetap bergerak stabil dan berada dalam kisaran sasaran yang telah ditetapkan pemerintah.
Berdasarkan rilis data resmi Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Mei 2026 tercatat berada di angka 0,28 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Sementara itu, secara tahunan, realisasi inflasi kumulatif menyentuh level 3,08 persen (year-on-year/yoy).
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menyampaikan bahwa capaian positif ini menjadi bukti otentik dari efektivitas bauran kebijakan moneter yang dieksekusi bank sentral. Keberhasilan menjaga stabilitas harga ini juga ditopang oleh koordinasi solid lintas instansi.
Sinergi pengendalian inflasi nasional terus diperkuat melalui peran aktif Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), serta didukung penuh oleh perluasan Program Ketahanan Pangan Nasional di berbagai wilayah.
"Inflasi yang tetap terjaga dalam kisaran sasaran merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter serta eratnya sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah," ujar Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Melihat tren pergerakan yang kondusif ini, Bank Indonesia optimistis angka inflasi nasional untuk sepanjang tahun 2026 dan 2027 akan tetap berada dalam koridor target sasaran sebesar 2,5 persen dengan rentang toleransi plus minus 1 persen.
Membongkar data berdasarkan komponennya, inflasi inti pada Mei 2026 mencatatkan pertumbuhan sebesar 0,22 persen secara bulanan. Realisasi ini sedikit lebih rendah jika dibandingkan dengan pencapaian bulan April 2026 yang menyentuh 0,23 persen.
Akan tetapi, jika ditarik secara tahunan, inflasi inti menanjak dari posisi 2,44 persen di bulan sebelumnya menjadi 2,59 persen pada Mei 2026.
Kenaikan inflasi inti ini utamanya dipicu oleh pergeseran harga komoditas minyak goreng di pasar retail. Meski ada kenaikan, ekspektasi inflasi masyarakat secara umum dinilai tetap berada pada level yang terukur sehingga mendukung stabilitas makroekonomi nasional.
Baca Juga: Perang Timur Tengah Picu Gejolak Ekonomi Global, Bos BI Waspadai Arus Modal Keluar
Sementara itu, kelompok harga pangan bergejolak (volatile food) mencatatkan inflasi sebesar 0,22 persen secara bulanan. Angka ini berbalik arah (rebound) setelah pada bulan April 2026 sempat mengalami deflasi yang cukup dalam hingga sebesar 0,88 persen.
Secara tahunan, inflasi kelompok volatile food melesat ke level 6,24 persen, naik signifikan dari posisi April 2026 yang sebesar 3,37 persen.
Lonjakan di sektor pangan ini utamanya dipicu oleh kenaikan harga komoditas dapur seperti cabai merah, bawang merah, tomat, serta komoditas pokok beras.
Penyusutan pasokan di pasar terjadi akibat gangguan produksi di tingkat petani yang dipengaruhi oleh fenomena cuaca ekstrem, bersamaan dengan mulai berakhirnya momentum musim panen raya nasional.
Kondisi ini kian ditekankan oleh peningkatan permintaan masyarakat untuk persiapan menyambut Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Adha.
Guna meredam gejolak ini, BI memastikan pasokan pangan ke depan akan tetap dikendalikan melalui penguatan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) yang diintegrasikan bersama TPIP dan TPID.
Berita Terkait
-
Inflasi Mei 2026 Naik Lagi, Harga Cabai hingga Bawang Merah Tekan Daya Beli Masyarakat
-
Bank Indonesia Bongkar Penyebab Rupiah Terus Tertekan
-
Rupiah Sekarat Menuju Rp18.000: Kebijakan BI Dinilai Terlambat Jinakkan Bom Waktu Fiskal dan Global
-
Rupiah Melemah Terus-menerus Akibat Kebijakan Pemerintah
-
Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
FIFA Buka Voting Tim Terbaik Piala Dunia 2026: Argentina Sumbang 5 Pemain, Spanyol?
-
Dari Pameran Kudatuli, Megawati Titip Pesan untuk Generasi Muda Indonesia
-
Kasus Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya, Polisi Telusuri Perjalanan hingga Kuala Lumpur
-
Bukan Sekedar Catatan Masa Lalu, Peristiwa Kudatuli Merupakan Simbol Perjuangan Lawan Ketidakadilan
-
Usut Aliran Rp 91 Miliar Suap Bea Cukai, KPK Tetapkan Tersangka Baru
-
Korupsi Disebut Kejahatan HAM, Mengapa Hak Korban Belum Jadi Perhatian?
-
Aksesori Estetik Makin Digemari, Ini Tempat Belanja Lengkap Incaran Reseller hingga Jastiper
-
Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi
-
Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget
-
Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan