- Perang di Timur Tengah memicu gejolak global yang menyebabkan perlambatan ekonomi dunia serta peningkatan inflasi pada tahun 2026.
- Bank Indonesia menyoroti kebijakan moneter Amerika Serikat yang ketat serta kenaikan imbal hasil obligasi memicu pelarian modal asing.
- Ekonomi Indonesia tetap tumbuh positif sebesar 5,61 persen pada triwulan I 2026 yang ditopang kuat oleh permintaan domestik.
Suara.com - Bank Indonesia (BI) menilai bahwa tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah semakin memperburuk kondisi dan prospek perekonomian dunia.
Penutupan Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan tekanan terhadap ekonomi global.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan kondisi ini juga berdampak pada terganggunya produksi, distribusi, serta rantai pasok perdagangan antarnegara yang mendorong kenaikan harga berbagai komoditas dunia.
"Situasi tersebut menjadi perhatian Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global dan tekanan inflasi dunia, " katanya dalam siaran pers yang diterima, Jumat (22/5/2026).
Menurut Perry Warjiyo, prospek pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2026 diperkirakan melambat menjadi sebesar 3,0 persen, sementara inflasi global meningkat hingga sekitar 4,3 persen.
Kebijakan moneter global pun diperkirakan semakin ketat seiring sejumlah bank sentral mulai menaikkan suku bunga acuannya.
Bank Indonesia menilai suku bunga kebijakan moneter Amerika Serikat atau Fed Funds Rate (FFR) diperkirakan belum akan turun hingga akhir 2026 dan berpotensi kembali naik pada 2027 karena inflasi AS masih tinggi.
Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun menjadi 4,66 persen dan tenor 2 tahun sebesar 4,11 persen per 19 Mei 2026.
"Di pasar keuangan global, memburuknya kondisi global tersebut mendorong berlanjutnya pelarian modal keluar dari berbagai negara, termasuk negara Emerging Markets, ke aset yang memberikan imbal hasil tinggi dan aman (safe-haven assets) khususnya obligasi AS, "jelasnya.
Baca Juga: Pemerintah Resmi Perpanjang Kebijakan WFH 2 Bulan Imbas Perang AS vs Iran
Selain itu, kondisi global yang semakin menantang mengharuskan adanya penguatan respons kebijakan serta sinergi antara fiskal dan moneter guna memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendukung pertumbuhan ekonomi domestik Indonesia.
Di sisi lain, Bank Indonesia mencatat momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia masih terjaga positif.
Pertumbuhan ekonomi meningkat dari 5,39 persen secara tahunan pada triwulan IV 2025 menjadi 5,61 persen secara tahunan pada triwulan I 2026. Kinerja tersebut ditopang kuat oleh permintaan domestik.
Konsumsi rumah tangga meningkat seiring naiknya mobilitas masyarakat selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan dampak positif stimulus pemerintah.
Sementara itu, konsumsi pemerintah tumbuh tinggi didorong realisasi program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) serta peningkatan belanja pegawai melalui gaji ke-14 atau Tunjangan Hari Raya (THR).
Investasi, khususnya investasi bangunan, juga mengalami peningkatan yang dipengaruhi Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN). Namun, ekspor tercatat menurun akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi global.
Ke depan, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional tetap berada pada level yang baik melalui optimalisasi belanja pemerintah yang bersinergi dengan bauran kebijakan Bank Indonesia, termasuk pelonggaran kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran guna mendukung ekonomi digital serta keuangan inklusif.
Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada dalam kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen di tengah tantangan ekonomi global yang masih tinggi.
Berita Terkait
-
Rupiah Jebol Rp17.700, Dasco Batal Sambangi BI di Tengah Kepanikan Pasar
-
Rupiah Melemah, Minyak Dunia Tetap di atas 100 Dolar AS, Ini Harga BBM di Indonesia!
-
Harga Minyak Dunia Jatuh Usai Trump Buka Ruang Negosiasi dengan Iran
-
Rupiah Terpuruk, DPR Desak Gubernur BI Perry Warjiyo Mundur
-
Wall Street Ditutup Bervariasi di Tengah Lonjakan Harga Minyak Dunia
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 3 Pimpinan BGN Dilaporkan ke Ombudsman, Diduga Rangkap Jabatan di BUMN
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 6 Sunscreen Pencerah di Indomaret yang Worth It Masuk Keranjang Belanja
Pilihan
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
Terkini
-
Sudah Dapat 4 Juta Ha Lahan, Agrinas Akan Buka 400.000 Ha Kebun Sawit Baru
-
Penyeragaman Kemasan Rokok Akan Picu Masalah-masalah Baru
-
Agrinas Palma Buka 20.000 Lowongan Pekerjaan di Perkebunan Sawit Hasil Sitaan Satgas PKH
-
Riwayat Pinjol Kecil 'Dihapus' dari SLIK OJK, Ajukan KPR Kini Bisa Lebih Mudah
-
Ekonomi Kreatif Disiapkan Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Jakarta, OJK Perkuat Akses Pembiayaan
-
Utang di Bawah Rp1 Juta Tidak Masuk SLIK OJK, Ini Penjelasan Lengkapnya
-
Lagi-lagi SLIK Biang Masalah, Bikin Susah MBR Punya Rumah Murah
-
Terungkap! Masifnya Aliran Dana Investasi Kripto RI Rata-rata Hasil Penipuan
-
AI Berpotensi Perkuat Industri Keuangan Syariah
-
Emiten UVCR Perluas Distribusi Voucher Digital, Sasar Mobile Banking