Bisnis / Keuangan
Rabu, 03 Juni 2026 | 11:29 WIB
Pekerja berjalan di dekat layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (21/5/2026). [ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/wsj]
Baca 10 detik
  • Rupiah melemah ke Rp17.910, dolar bank swasta tembus Rp18.100.
  • IHSG anjlok 4,11 persen ke 5.936 akibat aksi jual besar-besaran.
  • 704 saham merah, investor khawatir modal asing terus keluar.

Suara.com - Tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia kian sulit dibendung. Di saat nilai tukar rupiah terpuruk mendekati level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), pasar saham domestik juga mengalami guncangan hebat dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 4 persen pada perdagangan Rabu (3/6/2026).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah ke level Rp17.910 per dolar AS pada awal Juni. Pelemahan tersebut langsung berdampak pada kenaikan harga jual dolar AS di sejumlah perbankan nasional. Bahkan, beberapa bank swasta telah menjual mata uang Negeri Paman Sam di atas Rp18.000 per dolar AS.

Kondisi ini menjadi sinyal meningkatnya tekanan terhadap stabilitas pasar keuangan domestik di tengah derasnya arus modal asing yang keluar dari Indonesia.

Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Selasa (19/5/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]

Di sektor perbankan, kurs jual dolar AS di bank-bank pelat merah masih berada di bawah Rp18.000. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menjual dolar AS pada kisaran Rp17.900 hingga Rp17.940 per dolar AS. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI mematok kurs jual Rp17.930-Rp17.940, sementara PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menjual dolar AS hingga Rp17.990 per dolar AS.

Namun situasi berbeda terlihat di bank swasta. PT HSBC Indonesia telah menjual dolar AS pada level Rp18.110 untuk layanan e-rate dan Rp18.185 untuk transaksi bank notes. Sementara PT Bank SMBC Indonesia Tbk menetapkan kurs jual dolar AS sebesar Rp18.100 per dolar AS.

Lonjakan harga dolar di perbankan terjadi bersamaan dengan ambruknya IHSG. Hingga pukul 11.00 WIB, indeks merosot 4,11 persen ke level 5.936,05 dari posisi pembukaan 6.207,10.

Tekanan jual yang sangat besar membuat IHSG bergerak ekstrem. Setelah sempat menyentuh level tertinggi harian 6.213,80, indeks langsung terperosok ke titik terendah di 5.936,05.

Aksi jual masif tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi nasional. Sentimen negatif juga diperburuk oleh kabar penggeledahan Kantor Pusat Badan Gizi Nasional (BGN) oleh Kejaksaan Agung setelah Kepala BGN Dadan Hindayana dicopot dari jabatannya.

Dari sisi kapitalisasi pasar, nilai pasar seluruh emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia masih berada di kisaran Rp10.418 triliun. Namun koreksi tajam IHSG berpotensi menghapus ratusan triliun rupiah nilai kekayaan investor hanya dalam hitungan jam perdagangan.

Baca Juga: IHSG Ambruk 4 Persen, Indeks Saham Turun ke Level 5.000-an

Aktivitas transaksi menunjukkan kepanikan pasar yang cukup tinggi. Volume perdagangan mencapai 18,70 miliar saham dengan nilai transaksi Rp11,89 triliun dan frekuensi perdagangan mencapai 1,42 juta kali transaksi.

Tekanan jual juga terjadi hampir di seluruh sektor. Bursa mencatat hanya 61 saham yang berhasil menguat, sedangkan 704 saham melemah dan 194 saham bergerak stagnan.

Load More