- Rahmat, seorang kurir di Jakarta, mempertimbangkan beralih ke BBM murah akibat kenaikan harga Pertamax sejak 10 Juni 2026.
- Pekerja lapangan khawatir penggunaan BBM subsidi dapat menurunkan performa kendaraan yang menjadi aset utama mencari nafkah sehari-hari.
- Kurir saat ini menghitung ulang pengeluaran operasional guna memastikan keseimbangan antara kebutuhan penghematan dan kondisi mesin motor mereka.
Suara.com - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi membuat sebagian pengguna kendaraan bermotor mulai mencari cara untuk menekan pengeluaran. Namun bagi pekerja yang mengandalkan motor sebagai alat mencari nafkah, keputusan beralih ke bahan bakar yang lebih murah tidak selalu mudah dilakukan.
Dilema itu dirasakan Rahmat (33), seorang kurir paket yang setiap hari berkeliling mengantarkan barang ke sejumlah wilayah di Jakarta. Ia mengaku selama ini menggunakan Pertamax karena dinilai lebih cocok untuk menunjang aktivitasnya yang padat di jalan.
Namun setelah harga Pertamax kembali mengalami kenaikan, Rahmat mulai mempertimbangkan untuk beralih ke Pertalite. Di sisi lain, ia khawatir perubahan tersebut dapat memengaruhi performa kendaraannya yang digunakan hampir sepanjang hari.
"Kalau lihat pengeluaran, tentu saya pengennya cari yang lebih murah. Tapi motor ini dipakai kerja dari pagi sampai malam. Jadi saya juga mikir soal kondisi mesinnya," kata Rahmat kepada Suara.com, Rabu (10/6/2026).
Menurut dia, motor merupakan aset utama yang menunjang pekerjaannya sebagai kurir. Karena itu, menjaga kondisi kendaraan menjadi hal yang tidak bisa diabaikan meski biaya operasional terus meningkat.
Rahmat mengaku belum mengambil keputusan untuk langsung beralih ke Pertalite. Saat ini ia masih mencoba menghitung selisih pengeluaran yang harus dikeluarkan setiap bulan jika tetap menggunakan Pertamax.
Belum lagi antrean Pertalite yang lebih ramai membuatnya berpikir ulang untuk beralih ke BBM subsidi itu.
"Yang saya pikirkan bukan cuma harga bensin hari ini. Kalau motor sampai lebih sering masuk bengkel atau performanya turun, nanti ada biaya lain lagi yang keluar," ujarnya.
Dalam sehari, Rahmat bisa menempuh puluhan hingga lebih dari 100 kilometer tergantung jumlah paket yang harus diantarkan. Kondisi tersebut membuat konsumsi BBM menjadi salah satu pengeluaran terbesar yang harus ditanggungnya.
Baca Juga: Harga Pertamax Naik, Pengecer 'Pertamini' Tes Ombak Jual 18 ribu per Liter
Ia mengatakan kenaikan harga BBM memang tidak langsung menghentikan aktivitas para kurir. Namun perubahan harga tersebut membuat mereka harus lebih cermat mengatur pengeluaran agar pendapatan yang dibawa pulang tidak semakin tergerus.
"Kalau kerja di lapangan seperti kami, biaya bensin itu bukan pengeluaran kecil. Setiap ada kenaikan pasti langsung terasa karena motor dipakai terus," tuturnya.
Rahmat juga mengaku sejumlah rekannya sesama kurir mulai membicarakan kemungkinan beralih ke jenis BBM yang lebih murah. Meski demikian, tidak sedikit yang masih ragu karena mempertimbangkan kondisi kendaraan masing-masing.
"Banyak yang mulai berhitung. Ada yang bilang mau pindah ke Pertalite, ada juga yang masih bertahan karena takut motornya jadi kurang nyaman dipakai kerja," katanya.
Menurut Rahmat, situasi tersebut membuat para kurir berada dalam posisi serba salah. Di satu sisi mereka ingin menghemat biaya operasional, tetapi di sisi lain kendaraan harus tetap dalam kondisi prima karena menjadi sumber penghasilan utama.
"Mau hemat penting, tapi motor juga harus tetap siap dipakai kerja setiap hari. Jadi memang sekarang saya lagi menimbang mana yang lebih menguntungkan dalam jangka panjang," ucapnya.
Ia berharap harga BBM tidak kembali mengalami kenaikan dalam waktu dekat. Sebab, setiap kenaikan harga akan menambah beban pekerja lapangan yang mengandalkan kendaraan pribadi untuk mencari nafkah.
"Yang paling terasa memang buat orang yang setiap hari hidup di jalan. Kalau bensin naik, kami pasti ikut menghitung ulang semua pengeluaran," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Beda Cushion Wardah Colorfit Hijau dan Krem: Intip Harga, Kandungan, dan Manfaatnya
- 5 HP Android dengan Kualitas Setara iPhone 13 Pro dan iPhone 13 Pro Max
Pilihan
-
Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
-
Namanya Terseret Isu Dugaan Korupsi BGN, Yahya Golkar: Semua Anggota Komisi IX DPR Tak Terlibat!
-
Perhatian! Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250/Liter
-
Susunan Pemain Timnas Indonesia vs Mozambik di FIFA Matchday Malam Ini
-
Menkes Budi Gunadi Sadikin Susul Chatib Basri dan Luhut ke Istana
Terkini
-
Harga Pertamax Naik, Pengecer 'Pertamini' Tes Ombak Jual 18 ribu per Liter
-
Gaji Tak Ikuti Kenaikan Harga Pertamax, Kurir Paket Mau Beralih Pertalite
-
Peneliti IPI Apresiasi 'Dasco Effect': DPR Berperan Strategis Jembatani Menkeu dan BI
-
Luhut Ungkap Prabowo Mau Kasih Bansos Tunai Rp5,4 Juta/Orang, Penerimanya Disaring Pakai AI
-
KAI Pajang Aset Siap Bisnis, dari Stasiun hingga Lahan Komersial
-
BBM Langka Usai Kenaikan Harga, SPBU Vivo Hentikan Operasional
-
Usai Isu Reshuffle Menkeu, Purbaya Kini Janji Lakukan Penghematan Belanja Besar-besaran
-
Ekonom Sayangkan Harga BBM Naik Terlalu Tinggi, Padahal Pemerintah Bisa Cegah Sejak Awal
-
BI Rate Naik, Bank Mandiri Segera Sesuaikan Bunga Kredit dan Tabungan
-
Stok BBM di SPBU BP, Vivo dan Shell Langka setelah Pertamina Naikkan Harga