Suara.com - Pengamat pasar modal, Dipo Satria Ramli meningkatnya perhatian investor terhadap energi bersih turut membuka peluang yang lebih besar bagi perusahaan panas bumi untuk memperoleh pendanaan jangka panjang.
Minat investor global terhadap sektor energi bersih terus menunjukkan tren peningkatan seiring menguatnya komitmen berbagai negara dalam mencapai target net zero emission. Di tengah kebutuhan investasi yang semakin besar untuk mendukung transisi energi, proyek-proyek energi terbarukan dinilai memiliki peluang yang semakin luas untuk memperoleh akses pendanaan, termasuk pengembangan panas bumi di Indonesia.
“Memang ada beberapa tipe investor niche tertentu yang hanya fokus pada clean energy. Jadi, proyek-proyek panas bumi dengan prospek yang jelas akan sangat menarik bagi mereka,” katanya, Senin (15/6/2026).
Menurut Dipo, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) termasuk perusahaan yang berada dalam posisi menguntungkan karena memiliki portofolio proyek yang relatif matang dibandingkan banyak pengembang lainnya. Kesiapan proyek menjadi salah satu faktor utama yang diperhatikan investor sebelum menempatkan modalnya.
Pada awal Juni, tiga proyek panas bumi PGE berpotensi memperoleh dukungan pendanaan internasional setelah masuk dalam Green Book 2026 oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas). Ketiga proyek tersebut mencakup Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 3 (55 megawatt/MW), PLTP Lumut Balai Unit 4 (55 MW), serta PLTP Lahendong Unit 7–8 (50 MW).
Proyek yang telah memiliki kepastian offtaker, kesiapan infrastruktur pendukung, serta peta jalan pengembangan yang jelas akan lebih mudah memperoleh akses pembiayaan dari lembaga keuangan maupun investor internasional.
Selain kesiapan proyek, skema bisnis panas bumi di Indonesia juga dinilai memiliki daya tarik tersendiri. Dipo menuturkan, pendapatan dari penjualan listrik panas bumi kepada PT PLN (Persero) menggunakan denominasi dolar Amerika Serikat sehingga mampu mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar.
“Pembayaran revenue dari PLN untuk geothermal dilakukan dalam mata uang dolar AS. Jadi walaupun rupiah mengalami pelemahan, tetap menarik karena tidak ada currency risk atau risiko nilai tukar yang signifikan,” ucap Dipo.
Dipo menambahkan bahwa kebutuhan pendanaan untuk mendukung transisi energi global akan terus meningkat dalam beberapa dekade mendatang. Kondisi tersebut membuka peluang bagi proyek-proyek energi hijau yang memiliki prospek bisnis kuat untuk memperoleh sumber pendanaan yang lebih beragam.
Baca Juga: Bukan Energi Listrik Saja, Ini Cara Pertamina Dorong Pemanfaatan Panas Bumi untuk Ekonomi Rakyat
“Transisi energi membutuhkan investasi yang besar dan berkelanjutan. Dalam konteks itu, panas bumi Indonesia memiliki peluang yang sangat baik untuk menjadi magnet pendanaan global,” jelas Dipo.
Sebagai negara dengan potensi panas bumi terbesar kedua di dunia, Indonesia memiliki posisi strategis dalam menarik investasi hijau global. Energi panas bumi juga berperan penting dalam mendukung ketahanan energi nasional karena mampu menyediakan pasokan listrik stabil sepanjang waktu (baseload).
Sejalan dengan agenda transisi energi nasional, pengembangan panas bumi menjadi salah satu prioritas dalam RUPTL PLN 2025-2034 melalui target peningkatan kapasitas EBT. Meningkatnya minat investor terhadap sektor ini menjadi momentum penting untuk mempercepat pengembangan panas bumi sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam investasi energi bersih global. ***
Berita Terkait
-
Panas Bumi Indonesia Melesat, PGE Dapat Suntikan Dana Rp7,8 Triliun untuk 3 Proyek Strategis
-
Pertamina Akselerasi Transisi Energi Nasional Lewat Inovasi Dekarbonisasi dan Bisnis Rendah Karbon
-
Desa Energi Berdikari Keliki, Wujudkan Ketahanan Pangan Berbasis Energi Bersih
-
Misteri Jalan 'Tak Penting' di Gunung Ciremai, Warga Cium Aroma Proyek Geothermal Senyap
-
Alasan Panas Bumi Jadi Pusat Pengembangan Energi terbarukan
Terpopuler
- Aliansi BEM Bersatu: Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Tercatat Milik Adik Letjen Purn Setyo Sularso
- Milk Cleanser Viva untuk Umur Berapa? Ini Penjelasan dan 5 Pilihan Variannya
- 6 Sepatu Adidas Samba Lagi Diskon 50 Persen di Website Resmi, Kesempatan Langka Separuh Harga
- 4 Cushion Terbaik untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Anti Crack Samarkan Garis Halus Seharian
- Struktur Kuno Muncul Kembali di Sendang Kamulyan Trenggalek
Pilihan
-
'Sempurna Hanya Milik Allah!' Massa Gelar Aksi Damai Minta MBG Lanjut dan Sikat Koruptornya!
-
Link Live Streaming Portugal vs Kongo: Panggung Sesungguhnya CR7?
-
Demo Pakai Daster ke Istana, Aliansi Perempuan Tuntut Prabowo Turunkan Harga BBM dan Setop MBG
-
BREAKING NEWS: Kantor Dinas Pendidikan Sulsel Digeledah Kejati
-
Prediksi Argentina vs Aljazair: Head to Head, Susunan Pemain dan Fakta Menarik
Terkini
-
Tak Hanya Listrik, Limbah Panas Bumi Disulap Jadi Produk Bernilai Ekonomi
-
BI Diprediksi Tahan Suku Bunga di Level 5,50 Persen, Apa Pertimbangannya?
-
Jelang Pengumuman MSCI, Simak Saham-saham yang Layak Dilirik Hari Ini
-
OJK Minta Investor Lakukan Ini Jelang Pengumuman Baru MSCI
-
DJP Klaim Anggaran Pajak Indonesia Lebih Murah dari China
-
Banyak yang Mundur dari Manajer Kopdes Merah Putih, Ada Denda Rp100 Juta hingga Penempatan Diacak?
-
B50 Resmi Meluncur Juli 2026, ESDM Pastikan Stok Minyak Goreng Tetap Aman
-
Bos Baru Danantara dari WNA Tuai Polemik, Pakar: Yang Penting Kompeten, Bukan Paspor
-
Harga Pertamax Cs Berpotensi Turun, ESDM Beri Kabar Baik untuk Kantong Masyarakat
-
Bea Cukai Ungkap BYD & Wuling Biang Kerok 10.000 Kontainer Menumpuk di Tanjung Priok