Bisnis / Makro
Rabu, 17 Juni 2026 | 11:23 WIB
Ilustrasi perhiasan. (Freepik/bearfotos)
Baca 10 detik
  • Ekspor perhiasan Indonesia sepanjang 2025 meningkat signifikan sebesar 64,73 persen menjadi 9,1 miliar dolar AS secara nasional.
  • Pemerintah mendorong penguatan ekosistem industri melalui inovasi teknologi serta peningkatan kualitas produk demi menjaga keberlanjutan daya saing.
  • Kementerian Perindustrian memacu transformasi digital dan penerapan Industri 4.0 agar efisiensi produksi meningkat di pasar internasional.

Suara.com - Industri perhiasan nasional mencatat pertumbuhan ekspor yang signifikan sepanjang 2025. Nilai ekspor barang perhiasan dan barang berharga Indonesia mencapai 9,1 miliar dolar AS, meningkat 64,73 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 5,5 miliar dolar AS.

Pemerintah menilai momentum pertumbuhan ekspor tersebut perlu dijaga melalui penguatan daya saing industri, mulai dari peningkatan kualitas produk, inovasi desain, hingga pemanfaatan teknologi dalam proses produksi.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengatakan industri perhiasan memiliki karakteristik yang memadukan kreativitas, keterampilan, budaya, dan teknologi untuk menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.

"Industri perhiasan menjadi salah satu sektor unggulan yang memiliki nilai tambah tinggi dan kontribusi penting terhadap ekspor manufaktur Indonesia," ujar Agus kepada wartawan, Rabu (17/6/2026).

Menurutnya, tidak hanya berperan sebagai penghasil devisa negara, tetapi juga menjadi wadah pelestarian produk bernilai budaya serta penciptaan lapangan kerja yang tersebar di berbagai daerah.

Agus menjelaskan, peningkatan nilai ekspor menjadi indikasi produk perhiasan Indonesia semakin diterima di pasar internasional. Oleh karena itu, penguatan ekosistem industri perlu terus dilakukan agar mampu menjaga keberlanjutan pertumbuhan tersebut.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. [Suara.com/Yaumal Asri Adi Hutasuhut]

"Peningkatan ekspor ini menjadi bukti bahwa industri perhiasan Indonesia memiliki prospek yang sangat baik. Momentum ini harus terus dijaga melalui penguatan ekosistem industri yang mampu mendorong inovasi, produktivitas, dan daya saing secara berkelanjutan," bebernya.

Meski mencatat kinerja positif, industri perhiasan nasional masih menghadapi sejumlah tantangan. Mulai dari ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi harga bahan baku, perubahan preferensi konsumen, hingga tuntutan transformasi digital yang semakin cepat.

Karena itu, pemerintah terus mendorong kolaborasi antara pelaku usaha, asosiasi, dan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat daya tahan industri terhadap perubahan pasar.

Baca Juga: Domestik Lesu, SIG Mau Kirim 1 Juta Ton Semen ke Pasar AS Lewat Dermaga Baru

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian,.Reni Yanita, mengatakan transformasi digital dan penerapan industri 4.0 menjadi salah satu faktor penting dalam memperkuat daya saing industri perhiasan Indonesia.

"Transformasi digital dan penerapan Industri 4.0 memungkinkan industri perhiasan bekerja lebih efisien, menghasilkan produk yang lebih presisi, serta mampu merespons kebutuhan konsumen secara lebih cepat dan tepat," ujarnya.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Kemenperin telah melakukan penilaian Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0) terhadap sejumlah perusahaan industri aneka, termasuk sektor logam mulia dan perhiasan.

Hasil penilaian menunjukkan tingkat kematangan yang cukup baik dalam penerapan teknologi digital. 

Mulai dari digitalisasi sistem manajemen, pemanfaatan kecerdasan buatan, penguatan keamanan siber, pengembangan produk cerdas terkustomisasi, hingga integrasi teknologi pintar dalam proses produksi.

"Hasil tersebut menunjukkan bahwa industri logam mulia dan perhiasan mampu mengintegrasikan teknologi modern dengan kreativitas dan keterampilan sumber daya manusia untuk menghasilkan produk yang inovatif dan bernilai tambah tinggi. Kami berharap semakin banyak pelaku industri yang melakukan transformasi serupa guna meningkatkan efisiensi, kualitas, dan daya saing produknya," jelas Reni.

Load More