- BPS mencatat nilai ekspor Indonesia periode Januari hingga April 2026 mencapai 92,15 miliar Dolar AS, naik 5,48 persen.
- Peningkatan ekspor nonmigas sebesar 6,28 persen didorong oleh performa sektor industri pengolahan seperti nikel dan minyak kelapa sawit.
- Tiongkok, Amerika Serikat, dan India menjadi negara tujuan utama yang berkontribusi 44,52 persen terhadap total ekspor nonmigas Indonesia.
Suara.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan kalau nilai ekspor Indonesia mencapai 92,15 miliar Dolar AS selama periode Januari hingga April 2026. Capaian ini naik 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini merinci dari total ekspor tersebut, ekspor migas mencapai 4,41 miliar Dolar AS atau turun 8,30 persen secara tahunan (year on year atau yoy).
Sementara ekspor non migas mencapai 87,4 miliar Dolar AS atau naik 6,28 persen secara yoy. Peningkatan nilai ekspor nonmigas ini secara kumulatif terjadi di sektor industri pengolahan.
"Sektor industri pengolahan ini menjadi pendorong utama atas peningkatan kinerja ekspor non-migas sepanjang Januari hingga April 2026 dengan andil sebesar 7,71 persen terhadap kenaikan total ekspor," katanya dalam konferensi pers yang disiarkan virtual, Selasa (2/6/2026).
Ia menjelaskan, ekspor sektor industri pengolahan yang naik cukup besar adalah produk olahan nikel, minyak kelapa sawit, kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian, kimia dasar anorganik lainnya, serta semikonduktor dan komponen elektronik lainnya.
Nilai ekspor RI per April 2026
Khusus periode April 2026, Pudji menyebut nilai ekspor mencapai 25,30 miliar Dolar AS atau naik 21,98 persen yoy dibandingkan April 2025.
"Nilai ekspor migas tercatat senilai 1,15 miliar Dolar AS atau turun 1,20 persen, sementara nilai ekspor non-migas tercatat naik sebesar 23,36 persen dengan nilai 24,15 miliar Dolar AS," paparnya.
Ia menjelaskan, kenaikan nilai ekspor April 2026 secara tahunan terutama didorong oleh kenaikan nilai ekspor non-migas, yaitu pada komoditas lemak dan minyak hewani atau nabati (HS15) yang naik 66,59 persen dengan andil 5,91 persen terhadap kenaikan total ekspor.
Baca Juga: BPS: Harga Beras Naik per Mei 2026, Dari Penggilingan hingga Eceran
Komoditas kedua adalah nikel dan barang daripadanya (HS75) naik 75,52 persen dengan andil 2,17 persen. Ketiga yakni mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya atau HS84 naik 57,90 persen dengan andil 1,47%.
Komoditas ekspor unggulan RI
Pudji juga menjelaskan soal kinerja ekspor komoditas unggulan Indonesia selama Januari hingga April 2026 yang mencakup besi dan baja, Crude Palm Oil (CPO) dan turunannya, hingga batu bara.
"Total ketiganya ini memberikan share sekitar 28,30 persen dari total ekspor non-migas Indonesia pada Januari hingga April 2026," lanjutnya.
Rincinya, nilai ekspor besi dan baja naik 2,54% secara kumulatif. Kemudian nilai ekspor CPO dan turunannya naik 16,59 persen secara kumulatif, lalu nilai ekspor batu bara turun 7,27 persen secara kumulatif.
China jadi negara tujuan ekspor RI
Berita Terkait
-
BPS: Harga Beras Naik per Mei 2026, Dari Penggilingan hingga Eceran
-
BPS Ungkap Harga Emas Perhiasan per Mei 2026 Alami Deflasi Tiga Bulan Beruntun
-
Saham Wilmar di Singapura Anjlok, Usai Pemerintah RI Bidik Dugaan Manipulasi Ekspor Sawit
-
Pemerintah Resmi Izinkan BUMN Impor Migas Tanpa Tender, Berlaku Saat Kondisi Darurat
-
Prabowo Beri Perlakuan Khusus Buat Donald Trump di Aturan Devisa Hasil Ekspor
Terpopuler
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Motor yang Jadi Mimpi Buruk Mekanik, Montir Langsung Pura-Pura Sibuk
- realme C100i Jadi Andalan Anak Muda, Baterai Awet 6 Tahun dan Reverse Charging
- Akhir Dilema PCX vs Vario: Skutik Baru Honda Hadir Bawa Kamera Dashcam dan Mesin Lebih Buas
Pilihan
-
674 Korban Kebakaran Kemayoran Mengungsi, Posko Bantuan dan Layanan Kesehatan Disiagakan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
Terkini
-
Digendong GoTo dan Grab, Sayurbox dan HappyFresh Mau Merger?
-
Rupiah Ambruk, Plesiran Warga RI ke Luar Negeri Ikutan Anjlok
-
Viral Tagihan Listrik Naik di Medsos, PLN Ungkap Penyebabnya
-
Teddy Klaim Prabowo Pakai Dana Pribadi untuk Kunjungan Luar Negeri, Celios: Buktinya Mana?
-
IHSG Masih Betah di Zona Hijau ke Level 6.195, Besok Berpeluang Lanjut
-
Rupiah Melemah, Harga Kedelai Melonjak: Pengrajin Tahu dan Tempe di Lebak Terancam Gulung Tikar
-
Pintu PHK 20 Persen Karyawan, Industri Kripto RI Mulai Goyang?
-
Perundingan AS-Iran Alot, Harga Minyak Mentah Global Tertahan di Level Tinggi
-
Danantara Mau Merger Asuransi BUMN, AAJI Buka Suara
-
BPS: Harga Beras Naik per Mei 2026, Dari Penggilingan hingga Eceran