- IHSG ditutup melemah 0,78 persen ke level 6.172 pada perdagangan Kamis, 18 Juni 2026 di Bursa Efek Indonesia.
- Pelemahan indeks dipicu oleh aksi jual bersih investor asing senilai Rp893,36 miliar di seluruh pasar saham Indonesia.
- Keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,75 persen turut menekan minat investor pada aset berisiko saham.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah pada perdagangan Kamis, 18 Juni 2026. IHSG terkoreksi 48,40 poin atau 0,78 persen ke level 6.172.
Berdasarkan riset Phillip Sekuritas, pelemahan IHSG terjadi di tengah aksi jual investor asing yang masih cukup besar.
Pada hari ini, investor asing membukukan net foreign sell di seluruh pasar sebesar Rp893,36 miliar. Secara year to date (YTD), arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia telah mencapai Rp79,72 triliun.
Meski IHSG melemah, aktivitas perdagangan terbilang ramai dengan volume transaksi mencapai 25,70 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp17,97 triliun. Sebanyak 258 saham menguat, 419 saham melemah, dan sisanya bergerak stagnan.
Aksi jual asing paling besar terjadi pada saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang mencatatkan net sell Rp557,26 miliar. Selanjutnya PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) sebesar Rp98,87 miliar, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) Rp84,98 miliar, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) Rp62,59 miliar, serta PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp59,85 miliar.
Sebaliknya, investor asing masih memburu sejumlah saham unggulan. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menjadi saham dengan net foreign buy terbesar mencapai Rp150,89 miliar.
Disusul PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp106,91 miliar, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) Rp82,64 miliar, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) Rp48,29 miliar, dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) Rp34,71 miliar.
Dari sisi sektoral, sektor keuangan menjadi pemberat utama IHSG dengan kontribusi pelemahan sebesar 10,917 poin. Tekanan juga datang dari sektor infrastruktur yang mengurangi indeks sebesar 5,104 poin dan sektor kesehatan sebesar 1,144 poin.
Sementara itu, saham-saham yang mencatatkan kenaikan tertinggi pada perdagangan hari ini antara lain PT Akasha Wira International Tbk (ADES) yang melonjak 13,11 persen ke level Rp25.675, PT Rukun Raharja Tbk (RLCO) naik 15,36 persen ke Rp3.980, PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) menguat 14,15 persen ke Rp3.550, PT Singaraja Putra Tbk (SINI) naik 4,43 persen ke Rp10.025, dan PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) menguat 5,45 persen ke Rp6.775.
Baca Juga: IHSG Sesi I Merosot 1,06% ke Level 6.154, Saham Sektor Infrastruktur Jadi Biang Kerok
Di sisi lain, saham yang mengalami pelemahan terbesar di antaranya PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI) turun 7,92 persen ke Rp8.425, PT Mpro International Tbk (MPRO) melemah 7,30 persen ke Rp7.300, PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI) anjlok 14,86 persen ke Rp2.980, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) turun 3,09 persen ke Rp15.700, dan PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG Tbk (LIFE) terkoreksi 5,51 persen ke Rp6.000.
Data Perdagangan
- IHSG: 6.172,34
- Perubahan: -48,40 poin (-0,78 persen)
- Volume transaksi: 25,70 miliar saham
- Nilai transaksi: Rp17,97 triliun
- Kapitalisasi pasar: Rp10.764,56 triliun
- Saham naik: 258
- Saham turun: 419
Top Net Foreign Buy
- AMMN: Rp150,89 miliar
- BMRI: Rp106,91 miliar
- TPIA: Rp82,64 miliar
- BRPT: Rp48,29 miliar
- GOTO: Rp34,71 miliar
Top Net Foreign Sell
- BBRI: Rp557,26 miliar
- MAPI: Rp98,87 miliar
- DSSA: Rp84,98 miliar
- TLKM: Rp62,59 miliar
- BBCA: Rp59,85 miliar
Mengapa IHSG Melemah?
Phillip Sekuritas menjelaskan pelemahan IHSG terjadi di tengah respons pasar terhadap keputusan Bank Indonesia (BI) yang kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen. Kenaikan ini dilakukan setelah sebelumnya BI juga menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada rapat di luar jadwal pada 9 Juni lalu.
Dengan demikian, BI telah menaikkan suku bunga sebanyak 100 basis poin sejak Mei 2026, sehingga BI Rate kini berada di level tertinggi sejak April 2025.
Kenaikan suku bunga tersebut bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, mengendalikan inflasi, serta mendukung pertumbuhan ekonomi. Namun, di sisi lain kebijakan suku bunga yang lebih tinggi cenderung menekan minat investor terhadap aset berisiko seperti saham.
Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan dan analisis pasar yang ditujukan sebagai informasi umum, bukan saran atau rekomendasi investasi. Keputusan investasi tetap berada di tangan pembaca, dan setiap risiko investasi menjadi tanggung jawab pribadi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Aliansi BEM Bersatu: Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Tercatat Milik Adik Letjen Purn Setyo Sularso
- 6 Sepatu Adidas Samba Lagi Diskon 50 Persen di Website Resmi, Kesempatan Langka Separuh Harga
- Struktur Kuno Muncul Kembali di Sendang Kamulyan Trenggalek
- Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 18 Juni 2026 Wilayah Jogja Jateng, Cek Daftar Lokasinya
- 7 Sunscreen Flek Hitam untuk Usia 50 Tahun ke Atas sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
-
'Sempurna Hanya Milik Allah!' Massa Gelar Aksi Damai Minta MBG Lanjut dan Sikat Koruptornya!
-
Link Live Streaming Portugal vs Kongo: Panggung Sesungguhnya CR7?
-
Demo Pakai Daster ke Istana, Aliansi Perempuan Tuntut Prabowo Turunkan Harga BBM dan Setop MBG
-
BREAKING NEWS: Kantor Dinas Pendidikan Sulsel Digeledah Kejati
Terkini
-
BI Naikkan Lagi Suku Bunga, Mirae Asset: Benteng Terakhir Jaga Rupiah!
-
Purbaya Rayu Menkeu dan Investor China Beli Panda Bond RI, Dianggap Punya Dana Besar
-
Jeffrey Hendrik Jadi Bos Baru BEI, Core Indonesia: Investor Lebih Peduli Kondisi Ekonomi RI!
-
Tak Boleh Asal, Pedagang Harus Punya NIB Jika Mau Jualan di E-Commerce
-
Bahlil Buka Peluang Harga Batu Bara PLN Naik, Pengusaha Tambang Jangan Sampai Merugi
-
Sistem PT DSI Belum Teruji, Pelaku Usaha Batu Bara Cemas Jelang Evaluasi Perdana
-
Harta Karun Ekspor Komoditas RI Rp1.152 Triliun, Danantara Diminta Perkuat Pengawasan
-
BBM Naik 37%, Motor Listrik Jadi Jalan Keluar? Ini Kata Pelaku Industri
-
Minyak Dunia Sudah Murah, Kok Harga Pertamax Belum Juga Turun?
-
Pelaku Usaha Wajib Tahu! Cara Mudah Legalkan Dokumen Elektronik