- IHSG di Bursa Efek Indonesia melemah 1,25% ke level 6.099,925 pada penutupan sesi pertama, Senin (22/6/2026).
- Penurunan indeks dipicu aksi ambil untung serta koreksi massal pada sepuluh sektor, terutama sektor kesehatan sebesar 2,58%.
- Saham DSSA, BBCA, dan TPIA mencatatkan nilai transaksi terbesar di tengah tingginya volatilitas pasar selama perdagangan berlangsung.
Suara.com - Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) gagal mempertahankan zona hijaunya dan harus rela tergelincir ke zona merah pada paruh pertama perdagangan awal pekan, Senin (22/6/2026).
Setelah sempat dibuka di zona aman pada pagi hari, aksi ambil untung (profit taking) dan tekanan jual massal membuat indeks saham domestik mendarat di teritori negatif pada penutupan Sesi I siang ini.
IHSG mengakhiri paruh pertama perdagangan dengan melemah sebesar 1,25% atau terpangkas hingga 77,214 basis poin. Koreksi ini memaksa indeks parkir di level 6.099,925 pada jeda makan siang.
Sejak bel pembukaan berbunyi pada pukul 09.00 WIB, IHSG sebenarnya memulai langkah dari level 6.177. Namun, sepanjang paruh pertama, pergerakan indeks terpantau bergerak sangat variatif dengan volatilitas yang cukup tinggi.
IHSG sempat merangkak naik hingga menyentuh batas atas di level 6.226, sebelum akhirnya berbalik arah merosot hingga ke batas bawah harian di level 6.052.
Secara umum, kondisi pasar didominasi oleh koreksi harga saham secara merata. Data statistik bursa mencatat, sebanyak 476 saham berakhir melemah, berbanding terbalik dengan 200 saham yang masih mampu menguat, sementara sisanya bergerak stagnan atau tidak mengalami perubahan harga.
DSSA, BBCA, dan TPIA Kuasai Likuiditas Transaksi
Di tengah lesunya laju indeks, aktivitas perdagangan di lantai bursa tetap berjalan likuid. Berdasarkan nilai perputaran uang di pasar, terdapat tiga emiten berkapitalisasi besar yang menjadi magnet utama bagi para pelaku pasar untuk menempatkan dananya.
Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) resmi keluar sebagai tiga saham dengan akumulasi jumlah nilai transaksi terbesar sepanjang sesi pertama berlangsung.
Baca Juga: Dibuka Melemah, IHSG Langsung Gacor Setelah Pengumuman MSCI
Kejatuhan IHSG pada siang ini dipicu oleh rontoknya hampir seluruh indeks sektoral di bursa. Dari sebelas sektor yang ada, sepuluh sektor mencatatkan rapor merah dengan sektor kesehatan (IDXHEALTH) menjadi beban penekan terdalam setelah anjlok signifikan sebesar 2,58%.
Berikut adalah rincian performa indeks sektoral pada penutupan Sesi I:
IDXHEALTH (Kesehatan): Turun tajam -2,58%.
IDXINDUST (Industri): Melemah -2,09%.
IDXCYCLIC (Barang Konsumen Siklikal): Berkurang -2,00%.
IDXBASIC (Barang Baku): Terkoreksi -1,99%.
IDXFINANCE (Keuangan): Turun -1,75%.
IDXINFRA (Infrastruktur): Melemah -0,83%.
IDXTRANS (Transportasi & Logistik): Berkurang -0,79%.
IDXNONCYC (Barang Konsumen Non-Siklikal): Turun tipis -0,53%.
IDXENERGY (Energi): Melemah -0,28%.
IDXTECHNO (Teknologi): Turun minor -0,04%.
Satu-satunya sektor yang berhasil melawan arus perlemahan pasar dan parkir di zona hijau adalah sektor properti dan real estat (IDXPROPERT) yang mampu merangkak naik tipis sebesar 0,02%.
Indeks Saham Unggulan Kompak Berguguran
Langkah mundur IHSG juga diikuti oleh melorotnya berbagai indeks saham acuan dan indeks saham unggulan lainnya di bursa domestik. Indeks LQ45 yang diisi oleh saham-saham dengan likuiditas tinggi dan kapitalisasi besar tergelincir 1,27% menuju level 601,671.
Kondisi serupa dialami oleh Jakarta Islamic Index (JII) yang merepresentasikan saham-saham syariah, di mana indeks ini melemah sebesar 1,67% ke posisi 362,270.
Selanjutnya, indeks IDX30 ditutup terkoreksi 1,34% ke level 340,135, serta indeks MNC36 terpantau ikut menukik 1,59% dan tertahan di level 265,825 pada penutupan perdagangan siang ini.
Disclaimer: Artikel berita keuangan ini dirangkum berdasarkan data seketika (real-time) hasil penutupan pasar Sesi I Bursa Efek Indonesia tanggal 22 Juni 2026. Tulisan ini bersifat informatif untuk publikasi pers dan bukan merupakan rekomendasi, perintah, atau saran mutlak untuk melakukan eksekusi jual-beli instrumen investasi tertentu.
Berita Terkait
-
IHSG Loyo Nyaris ke Level 5.900, 501 Saham Kebakaran
-
IHSG Menghijau di Senin Pagi, Cek Saham yang Cuan
-
IHSG Diprediksi Bergerak Konsolidatif Sepekan, Sentimen Timur Tengah hingga MSCI Jadi Sorotan
-
Analisis Teknikal IHSG Hari Ini saat Wall Street Rebound
-
Asing Ramai-ramai Lepas Saham BUMI, Target Harganya Tetap Meroket
Terpopuler
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Roy Suryo Ditangkap di Bintaro Terkait Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Sempat Diancam Borgol
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Gubernur BI: UMKM Jangan Langsung Diberi Modal
-
Tak Mau Disalahkan, Bahlil Serahkan Urusan Mati Lampu ke PLN
-
Listrik Byar Pet, Pengamat UGM: PLN Jangan Jadi 'Perusahaan Lilin Negara'
-
IHSG Loyo Nyaris ke Level 5.900, 501 Saham Kebakaran
-
Harga Minyakita Naik? Pengamat Ungkap Penyebabnya Hingga Langka di Pasaran
-
PLN Tegaskan Listrik Jawa Sudah Pulih, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
-
Kejar Penerimaan Pajak, DJP Akui Coretax Bisa Pantau Transaksi Bank hingga Konsumsi Listrik Warga
-
Daftar Harga Pangan Hari Ini: Hampir Semua Komoditas Kompak Meroket!
-
YLKI Desak PLN Tanggung Jawab Pemadaman Listrik Berulang, Soroti Kompensasi Konsumen
-
Investor Patriot Bond dan Merah Putih Bond Dapat Perlindungan Hukum Khusus dari Danantara