Bisnis / Keuangan
Senin, 22 Juni 2026 | 18:18 WIB
Menteri Perdagangan Budi Santoso (tengah) memastikan pemerintah batal menaikkan Harga Minyakita. [Antara]
Baca 10 detik
  • Pemerintah siapkan stimulus fiskal, pangan, transportasi H2-2026.
  • Diskon ritel HIPPINDO target transaksi Rp30 triliun.
  • BI: BBM nonsubsidi bisa dorong inflasi naik 0,25%.

Suara.com - Menteri Perdagangan Budi Santoso memastikan pemerintah telah menyiapkan paket stimulus ekonomi untuk mengantisipasi potensi lonjakan inflasi yang dapat menekan daya beli masyarakat pada semester II-2026.

Busan mengatakan, stimulus tersebut akan mencakup kebijakan fiskal, sektor pangan, hingga transportasi yang rencananya diumumkan dalam waktu dekat.

“Dalam waktu dekat akan diumumkan stimulus ekonomi semester dua tahun 2026, yaitu terkait dengan stimulus fiskal, pangan, dan transportasi,” ujar Busan saat ditemui di Tebet, Jakarta Selatan, Senin (22/6/2026).

Selain stimulus pemerintah, upaya penguatan daya beli juga dilakukan melalui kerja sama dengan ribuan ritel modern. Program diskon besar-besaran akan digelar pada periode Juni hingga Juli melalui skema BINA dan Back to School.

Program tersebut melibatkan sekitar 414 department store dengan sekitar 80.000 gerai yang berada di bawah anggota Hippindo, dengan target transaksi mencapai Rp 30 triliun.

“Ini pada bulan Juni-Juli yang melibatkan sekitar 414 department store dengan gerai sekitar 80.000… dan transaksinya diharapkan sekitar Rp 30 triliun,” kata Busan.

Tak hanya itu, pemerintah juga menggelar Jakarta Great Sale untuk memanfaatkan momentum Hari Ulang Tahun Jakarta. Program ini melibatkan 104 department store dengan target transaksi sekitar Rp 16 triliun.

“Itu yang terus kita lakukan dan kita ingin setiap bulan itu ada Great Sale di sini,” ujarnya.

Sementara itu, dari sisi risiko inflasi, Bank Indonesia Bank Indonesia memperkirakan adanya potensi tekanan harga akibat kenaikan BBM nonsubsidi seperti Pertamax series.

Baca Juga: Pedagang Online Wajib Punya NIB, Buat Ditarik Pajak?

Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman menyebutkan kenaikan harga tersebut dapat menyumbang sekitar 0,25% terhadap inflasi nasional.

Load More