- Pelemahan rupiah terhadap dolar AS membebani biaya produksi PT Dharma Samudera Fishing Industries Tbk di Jakarta sejak Juni 2026.
- Kenaikan harga bahan baku impor, kemasan, dan biaya operasional nelayan akibat pelemahan rupiah berdampak negatif pada efisiensi perusahaan.
- Perusahaan memperoleh keuntungan tambahan dari selisih kurs karena sebagian besar pendapatan berasal dari aktivitas ekspor dalam dolar AS.
Suara.com - Pelemahan pada rupiah memberikan dampak pada emiten PT Dharma Samudera Fishing Industries Tbk (DSFI).
Pasalnya, nilai tukar rupiah yang kembali menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) membebani biaya produksi perusahaan.
Dalam hal ini, Direktur Utama Dharma Samudera Fishing Industries Tbk (DSFI), Ewijaya, mengatakan beberapa bahan-bahan yang digunakan mengalami kenaikan harga imbas pelemahan pada mata uang Garuda.
"Yang pertama pasti biaya-biaya yang ada komponen impor, seperti misalnya bahan baku plastik yang terkait dengan packaging," kata dia di Jakarta, Rabu (25/6/2026).
Dia pun menyebutkan, bahan baku kemasan berupa karton juga mengalami kenaikan signifikan. Biaya operasional nelayan juga meningkat karena bahan bakar minyak (BBM) melonjak.
"Nah ini yang kita lihat cukup memberikan dampak yang negatif sebenarnya sehingga operasional nelayan naik, implikasinya adalah harga bahan baku juga akan ikut naik sebenarnya," imbuhnya.
Namun, perusahaan juga mengalami dampak yang positif terhadap pelemahan rupiah. Salah satunya adalah membawa keuntungan untuk perusahaan. Karena DSFI rata-rata melakukan penjualan secara ekspor.
"Jadi memang dengan pelemahan rupiah terhadap dolar AS memang kita mendapatkan windfall karena buku laporan keuangan kita kan dicatat dalam rupiah," tegasnya.
Baca Juga: Rekap Hari Ini: IHSG Ambruk, Rupiah Anjlok!
Berita Terkait
-
Rupiah Alami Pelemahan, Cek Harga Dolar AS di Bank Mandiri, BNI, BRI dan BCA
-
Rupiah Kembali Lesu, Dolar AS Merangkak Naik ke Level Rp17.738
-
Rupiah Menuju Rp17.500, Pengamat: Sentimen Positif Pengetatan Anggaran MBG dan KDMP
-
Emiten WINE Tebar Dividen Rp3,5 per Saham, Bidik Pertumbuhan Pendapatan Lima Persen pada 2026
-
Rupiah Menguat dan IHSG Terbang, Apakah Damai AS-Iran Jadi Titik Balik Ekonomi RI?
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- 4 AC Hemat Listrik untuk Rumah Daya Listrik 450 VA, Pilihan Terbaik agar Tidak Jeglek
Pilihan
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
Terkini
-
Driver Sambut Potongan Komisi Ojol 8 Persen, Berharap Tak Muncul Biaya Baru yang Kurangi Pendapatan
-
BPKH Diminta Tak Jadi 'Kasir' Kementerian, DPR Dorong Dana Haji Dikelola Lebih Mandiri
-
Bulog Tegaskan Komitmen Dukung Swasembada Pangan Berkelanjutan di Puncak Penas XVII 2026
-
Delapan Dekade Bertransformasi, BNI Memperluas Dampak Lewat Inovasi dan Digitalisasi
-
Pasar Aplikasi Rp 2.700 Triliun Diburu TikTok
-
DPR Apresiasi Dian Siswarini karena Dividen PT Telkom Jadi yang Tertinggi
-
Komisi Ojol Turun Jadi 8 Persen, Suara Pengguna: Tarif Jangan Naik!
-
Siap-siap IPO, BEI Anggap RANS Entertainment Lolos dari Free Float
-
PLTU Pelabuhan Ratu Terus Gunakan Co-firing Biomassa dari Sorgum
-
Influencer Tak Bisa Lagi Asal Kasih Saran Saham dan Kripto, Begini Ketentuannya