Bisnis / Makro
Rabu, 24 Juni 2026 | 17:03 WIB
Bank Indonesia memastikan cadangan devisa sebesar USD 114 miliar cukup untuk intervensi guna menstabilkan nilai tukar rupiah. [Antara]
Baca 10 detik
  • IHSG anjlok 3,56 persen ke level 5.883 pada Rabu (24/6/2026) akibat tekanan jual masif investor institusi dan asing.
  • Penyebab utama kejatuhan pasar adalah laporan MSCI terkait transparansi struktur kepemilikan dan ancaman penurunan status pasar modal Indonesia.
  • Nilai tukar rupiah melemah ke Rp17.952 per dolar AS karena sentimen negatif pasar serta penguatan suku bunga bank sentral AS.

Suara.com - Pasar keuangan domestik didera tekanan hebat pada sesi perdagangan Rabu (24/6/2026). Sentimen negatif global dan regional memicu aksi jual massal yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk ke zona merah dan nilai tukar rupiah terperosok hingga nyaris menembus level psikologis baru Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

IHSG menutup perdagangan dengan koreksi sangat tajam sebesar 217,45 poin atau anjlok 3,56 persen, membuat indeks parkir di posisi 5.883.

Pada awal sesi, indeks sebenarnya sempat dibuka optimistis di level 6.128 dan meraih posisi tertinggi harian di 6.171. Namun, tekanan jual yang masif di sesi kedua membalikkan keadaan hingga indeks terseret ke level terendah harian di 5.876.

Pelemahan ini berimbas langsung pada nilai transaksi harian yang melonjak drastis hingga mencapai Rp32,93 triliun. Total volume saham yang berpindah tangan tercatat sebanyak 40,1 miliar lembar saham dengan frekuensi perdagangan yang sangat padat mencapai 1,75 juta kali transaksi.

Berdasarkan laporan riset BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), kejatuhan indeks dipicu oleh kegagalan IHSG dalam mempertahankan momentum penguatan di awal perdagangan.

Tekanan jual dari investor institusi maupun asing langsung meningkat tajam begitu indeks gagal menembus area resistansi kuat di rentang 6.200 hingga 6.300, yang berujung pada jebolnya level psikologis penting 6.000.

Analis BRIDS mengungkapkan, pemicu utama kepanikan pasar adalah respons negatif terhadap rilis dokumen MSCI 2026 Market Classification Review. Walaupun Morgan Stanley Capital International (MSCI) memutuskan untuk tetap mempertahankan posisi Indonesia di dalam kelompok Emerging Market (Pasar Berkembang), lembaga pemeringkat internasional tersebut memberikan catatan hitam dan sorotan tajam bagi pasar modal domestik.

MSCI secara terbuka kembali mempersoalkan isu fundamental terkait transparansi struktur kepemilikan saham, validitas porsi saham publik yang beredar di pasar (free float), serta adanya indikasi kuat aktivitas perdagangan yang terkoordinasi (coordinated trading) di bursa tanah air.

"MSCI juga memberikan peringatan bahwa apabila implementasi reformasi pasar tidak menunjukkan kemajuan yang memadai hingga November 2026, Indonesia berpotensi menghadapi konsultasi terkait penurunan status menjadi frontier market," tulis tim analis BRI Danareksa Sekuritas dalam laporan tertulisnya.

Baca Juga: IHSG Tertekan! Asing Lepas Saham Blue Chip Senilai Rp1,1 Triliun

Koreksi dalam ini melanda seluruh papan perdagangan, termasuk saham-saham unggulan (blue chip). Indeks LQ45 dilaporkan merosot 20,26 poin (3,39%) ke level 578,17. Kejatuhan paling parah dialami oleh Jakarta Islamic Index (JII) yang terjungkal 17,82 poin atau ambles 4,90 persen ke posisi 345,56, sementara indeks IDX30 melemah 10,75 poin (3,18%) menjadi 327,26.

Rupiah Meranggas Tertekan Superioritas Dolar AS

Seirama dengan ambruknya bursa saham, nilai tukar rupiah di pasar spot juga gagal membendung keperkasaan dolar AS hingga akhir sesi perdagangan.

Mata uang Garuda ditutup melemah 26 poin atau terkoreksi 0,15 persen ke posisi Rp17.949 per dolar AS. Sementara itu, berdasarkan Bloomberg Dollar Index, rupiah mencatatkan kejatuhan yang lebih dalam, yakni merosot 99 poin atau 0,55 persen ke level Rp17.952 per dolar AS.

Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa terpuruknya nilai tukar rupiah tidak lepas dari faktor eksternal, di mana ekspektasi pelaku pasar global terhadap kelanjutan kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral AS (The Fed) kembali meningkat. Hal ini membuat indeks dolar AS melonjak kuat hingga menembus level tertinggi dalam 14 bulan terakhir.

Di sisi lain, tekanan internal dari runtuhnya pasar saham akibat sentimen MSCI turut mempercepat pelarian modal asing (capital outflow) keluar dari pasar keuangan dalam negeri, yang pada akhirnya memperberat beban nilai tukar.

"Rupiah kembali melemah terhadap dolar AS yang terus melanjutkan penguatan. Rupiah juga tertekan oleh sentimen pasar saham yang ambrol setelah MSCI yang walau mempertahankan status Emerging Market, namun status tersebut masih akan direview ulang November dan berpotensi di-downgrade ke frontier sehingga bisa menekan rupiah," pungkas Lukman Leong.

Load More