- Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan damai yang mengakhiri konflik serta membuka kembali jalur perdagangan Selat Hormuz.
- Penurunan harga minyak dunia di bawah 90 dolar AS per barel memicu penguatan rupiah serta kenaikan IHSG.
- Pemerintah Indonesia berpotensi menekan beban subsidi energi, namun ketidakpastian kebijakan ekonomi Amerika Serikat tetap diwaspadai pelaku pasar.
Suara.com - Ketegangan geopolitik yang selama beberapa bulan terakhir memanas akhirnya mulai mereda. Amerika Serikat (AS) dan Iran dikabarkan mencapai kesepakatan damai yang menandai berakhirnya konflik yang sempat mengguncang pasar global.
Kabar tersebut langsung disambut positif oleh pelaku pasar. Selain meredakan kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia, perdamaian ini juga membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang selama ini menjadi salah satu urat nadi perdagangan minyak global.
Harga Minyak Dunia Anjlok
Pembukaan kembali Selat Hormuz langsung berdampak pada harga minyak dunia. Setelah selama tiga bulan terakhir bertahan di atas level 100 dolar AS per barel, harga minyak kini merosot ke bawah 90 dolar AS.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent turun 3,58 dolar AS atau 4,10 persen menjadi 83,75 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS anjlok 4,01 dolar AS atau 4,72 persen ke level 80,87 dolar AS per barel.
Rupiah Ikut Perkasa
Tak hanya pasar komoditas yang merespons positif. Nilai tukar rupiah juga menunjukkan penguatan signifikan dan menjadi salah satu mata uang dengan performa terbaik di Asia.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan meredanya konflik membuat investor kembali optimistis terhadap aset-aset negara berkembang, termasuk Indonesia. Menurutnya, berkurangnya risiko geopolitik mendorong arus modal kembali masuk ke pasar negara berkembang sehingga menopang penguatan mata uang lokal.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp17.708 per dolar AS atau menguat 152 poin setara 0,85 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Baca Juga: Masih Perkasa, Nilai Tukar Rupiah Naik Paling Tinggi di Asia ke Level Rp17.708
IHSG Terbang Lebih dari 4 Persen
Sentimen positif juga terasa di pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat 4,12 persen pada perdagangan Senin (15/6/2026) ke level 6.254.
Riset RHB Indonesia Sekuritas menyebut meredanya konflik AS-Iran menjadi sentimen positif jangka pendek bagi pasar keuangan global.
Penurunan harga energi berpotensi mengurangi tekanan inflasi sehingga risiko kenaikan suku bunga juga ikut menurun. Kondisi tersebut menjadi katalis positif bagi pasar saham. Meski demikian, RHB mengingatkan risiko geopolitik global belum sepenuhnya hilang karena fokus kebijakan luar negeri AS bisa bergeser ke kawasan lain.
Dampak Positif untuk Ekonomi Indonesia?
Selain pasar keuangan, ekonomi Indonesia secara keseluruhan juga berpotensi memperoleh manfaat dari turunnya harga minyak dunia.
Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto menilai penurunan harga minyak berpotensi mengurangi beban fiskal pemerintah.
Menurutnya, anggaran untuk subsidi dan kompensasi energi dapat ditekan jika harga minyak bertahan rendah dalam jangka waktu yang cukup lama. Dengan begitu, ruang fiskal pemerintah menjadi lebih longgar dan dapat dialihkan untuk belanja produktif lainnya yang mendukung pertumbuhan ekonomi.
Risiko Ketidakpastian Masih Mengintai
Meski begitu, Eko mengingatkan bahwa ketidakpastian global belum sepenuhnya berakhir. Ia menilai AS masih berpotensi mengeluarkan kebijakan ekonomi yang dapat memicu gejolak baru, termasuk kebijakan tarif perdagangan yang lebih agresif terhadap negara-negara mitra dagang.
Jika hal tersebut terjadi, sentimen pasar dapat kembali berubah dan berisiko menekan pertumbuhan ekonomi global.
Masyarakat Perlu Wait and See
Dengan berbagai perkembangan tersebut, masyarakat dan pelaku pasar masih perlu bersikap wait and see.
Perdamaian AS-Iran memang membawa angin segar bagi pasar global, namun dinamika geopolitik dan kebijakan ekonomi AS di bawah Presiden Donald Trump masih berpotensi menciptakan kejutan baru yang dapat memengaruhi perekonomian dunia dalam beberapa bulan mendatang.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Soal TNI-Komcad Dikerahkan di Demo Mahasiswa, Ini Reaksi Komisi I DPR
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
- Motor Mirip Harley-Davidson Harga Rasa Matic: Mending Morbidelli C252V atau QJ Motor SRV250?
Pilihan
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
-
Wasit Liga Indonesia 'Berulah', FIFA Investigasi Kemenangan Timnas Jerman vs Curacao
-
Mahasiswa Gelar Demo di DPR, Tagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Desak Hentikan MBG
-
Mau Aksi di Patung Kuda, Mahasiswa UBK Sempat Dihadang di Tugu Tani
-
Anggaran Kunjungan Luar Negeri Prabowo Tembus Rp1,1 T! Lebih Besar dari TKD Satu Kabupaten di NTB
Terkini
-
Saham BUMI Meroket Usai Diborong Investor, Target Harganya Masih Tinggi!
-
Eddy Tansil Gelapkan Dana Rp10,1 Triliun, Ini Daftar Aset yang Berhasil Disita Negara
-
Masih Perkasa, Nilai Tukar Rupiah Naik Paling Tinggi di Asia ke Level Rp17.708
-
Momen Purbaya Mau Tebus Harley Davidson Sitaan Kejagung, Cita-cita Punya Moge Tapi Dilarang Istri
-
Purbaya Terima PNBP Rp 1,029 T dari Kejagung, Ada Sitaan Aset Kasus Eddy Tansil
-
Purbaya Ajukan Anggaran Kemenkeu 2027 Sebesar Rp 49,8 Triliun ke DPR
-
Ibu Dian, Nasabah PNM Lampung yang Menggerakkan Perempuan untuk Berani Berdaya
-
Harga Minyak Dunia Anjlok, Kapan Harga Pertamax Turun?
-
IHSG Meroket 5 Persen: Transaksi Rp17 Triliun, Ini Saham-saham yang Diborong
-
Kunjungi Sekolah Rakyat Jabar II, Komisi V DPR Optimistis Siap Beroperasi Tahun Ajaran Baru