- IHSG melemah 4,55 persen ke level 5.896 pekan lalu akibat aksi jual bersih investor asing sebesar Rp3,4 triliun.
- Perdagangan Senin, 29 Juni 2026, diprediksi bergerak terbatas dengan dukungan sentimen dana pemerintah dan rilis data inflasi domestik.
- Faktor global seperti dinamika geopolitik Timur Tengah dan data ekonomi Amerika Serikat memengaruhi arah pergerakan pasar saham Indonesia.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak terbatas, pada awal perdagangan pekan ini setelah mencatat pelemahan tajam sepanjang pekan lalu.
Prospek IHSG, sentimen MSCI, arus dana asing, hingga sejumlah data ekonomi domestik dan global diperkirakan akan menjadi faktor utama yang memengaruhi arah pergerakan pasar saham Indonesia.
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, mengatakan IHSG sepanjang sepekan terakhir melemah sebesar 4,55 persen ke level 5.896.
Pelemahan tersebut dipicu oleh aksi jual bersih investor asing yang mencapai sekitar Rp3,4 triliun di seluruh pasar.
Menurutnya, IHSG sepekan terakhir bergerak tertekan sebesar 4,55 persen ke level 5.896 dengan didorong tekanan jual asing yang mencapai Rp3,4 triliun di seluruh perdagangan.
"Kami berpandangan faktor MSCI pascarelease masih menjadi perhatian. Meski tidak ada penurunan status ke frontier market, peringatan tersebut tetap ada apabila hingga November 2026 belum terdapat reformasi yang signifikan dari regulator," ujar Oktavianus dalam risetnya, Senin (29/6/2026).
Ia melihat, pada perdagangan Senin (29/6), IHSG diperkirakan bergerak konsolidasi dengan kecenderungan menguat secara terbatas.
Dirinya memperkirakan indeks akan bergerak pada area support 5.772 dan resistance 6.040, seiring indikator MACD yang mulai menunjukkan tren melandai.
Oktavianus menjelaskan, terdapat beberapa sentimen yang akan memengaruhi pasar. Pertama, perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah di tengah kesepakatan damai Amerika Serikat dan Iran.
Baca Juga: Merdeka Gold Resources Ukir Sejarah, Saham EMAS Resmi Melantai di Bursa Hong Kong
Menurutnya, apabila kembali terjadi eskalasi konflik, maka ketidakpastian pasar berpotensi meningkat. Namun, aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz yang mulai kembali normal memberikan dampak positif berupa penurunan harga minyak mentah dunia.
"Kedua, dari dalam negeri terdapat sentimen penempatan dana pemerintah hingga Rp400 triliun di bank-bank Himbara per 26 Juni 2026 yang berpotensi menjaga likuiditas perbankan dan mendukung penyaluran kredit," katanya.
Selain itu, pasar juga menantikan rilis data inflasi Indonesia periode Juni 2026 yang diperkirakan tumbuh 3,1 persensecara tahunan.
Meskipun lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya, angka tersebut dinilai masih berada dalam target Bank Indonesia, sehingga respons pasar diperkirakan tetap moderat.
Untuk strategi perdagangan, Kiwoom Sekuritas merekomendasikan saham BBCA, BMRI, dan BBRI dengan pendekatan speculative buy.
BBCA memiliki level support di 5.800 dan resistance di 6.600, BMRI berada pada support 3.880 dan resistance 4.230, sedangkan BBRI memiliki support 2.770 dan resistance 3.050.
Berita Terkait
-
Tak Turun Kasta, MSCI Tetap Pertahankan Pasar Saham RI di Emerging Market
-
Investor Asing Masih Asik Jual Saham di RI, BMRI dan DSSA Jadi Incaran
-
KOSPI dan IHSG Kompak Anjlok Parah, Pasar Saham Merana
-
Investor Asing Bawa Kabur Dana Rp393 Miliar dari Pasar Saham di Sesi I
-
Profil INACO (PT Niramas Utama Tbk): Saham IPO, Kondisi Keuangan, dan Pemegang Saham
Terpopuler
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- Keunggulan Pompa Air Shimizu PL-138 BIT, Solusi Air Jernih Anti Karat
Pilihan
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
Terkini
-
Isu 55.000 Buruh Kena PHK, Said Iqbal: Harga Gas Diturunkan untuk Tekan Ancaman PHK
-
Sepanjang Tahun, Bulog Tetap Menyerap Gabah dan Beras Petani Sesuai Arahan Pemerintah
-
Strava Kena Pajak PPN PMSE, Biaya Langganan Naik? Ini Daftar Harga Terbaru
-
Rebalancing MSCI: Mengapa AMMN dan DSSA Lebih Tangguh dari Saham Prajogo Pangestu?
-
Purbaya Mau Efisiensi Anggaran MBG Sampai Nol Rupiah, Tapi Akui Tak Bisa
-
Binus Resmikan Magister Hukum Bisnis, Fokus Perdagangan Internasional hingga Siber
-
Program E20 Jadi Senjata Baru Kurangi Impor BBM, Ini Kebutuhan Etanol Indonesia
-
Harga Pangan Hari Ini Berubah! Cabai Turun, Bawang Merah Naik
-
Pasar Logistik ASEAN Tembus Rp6.958 Triliun, Indonesia Punya Peluang Emas Jadi Pemimpin
-
Rupiah Hari Ini Menguat ke Rp17.865 per Dolar AS, BI Disebut Lakukan Intervensi