- IHSG di Bursa Efek Indonesia dan nilai tukar rupiah mencatatkan penguatan pada perdagangan Senin pagi ini.
- Bursa saham Amerika Serikat dan regional Asia tertekan akibat aksi ambil untung pada sektor saham teknologi.
- BNI Sekuritas memproyeksikan IHSG akan bergerak mendatar pada rentang 5.850 hingga 6.000 akibat sentimen pasar global.
Lanskap pasar modal regional Asia juga terpantau didominasi oleh warna merah pada akhir pekan lalu. Saham-saham sektor teknologi berkapitalisasi besar (big-cap) kehilangan tenaga akibat aksi ambil untung (profit taking) setelah sempat menguat signifikan sehari sebelumnya.
Penurunan terdalam dicatatkan oleh indeks Kospi Korea Selatan yang ambles 5,81%, disusul indeks Nikkei 225 Jepang yang jatuh hingga 4,15%, dan indeks Taiex Taiwan yang terpangkas 3,64%.
Sementara itu, indeks Hang Seng Hong Kong melemah 1,76% dan Straits Times Singapura turun 0,52%. Kontras dengan tren regional, indeks ASX 200 Australia naik tipis 0,18% bersama FTSE Malaysia yang menguat 0,24%.
Fluktuasi tajam ini mencerminkan tingginya kekhawatiran para pelaku pasar global mengenai apakah realisasi pertumbuhan kinerja emiten raksasa teknologi mampu memenuhi ekspektasi tinggi yang selama ini sudah terlanjur tecermin pada harga saham mereka. Langkah Apple yang memangkas proyeksi optimisme AI global setelah menaikkan harga perangkat Mac juga menambah beban sentimen bagi pergerakan saham cip di akhir pekan.
Menyikapi kombinasi antara penguatan domestik dan volatilitas tinggi di pasar global, tim riset BNI Sekuritas memproyeksikan pergerakan IHSG pada hari ini berpotensi mengalami konsolidasi atau bergerak mendatar (sideways). Rentang pergerakan indeks hari ini diperkirakan akan tertahan di dalam teritori area 5.850 hingga 6.000.
Adapun peta level teknis yang perlu dicermati oleh para pelaku pasar adalah sebagai berikut:
Level Support: 5.750 – 5.850
Level Resistance: 6.000 – 6.100
Disclaimer: Perkembangan harga saham dan nilai tukar mata uang bersifat dinamis dan fluktuatif dari waktu ke waktu. Artikel ini disajikan murni sebagai informasi perkembangan pasar modal dan bukan merupakan bentuk rekomendasi mutlak untuk melakukan tindakan jual atau beli terhadap instrumen aset finansial tertentu.
Baca Juga: IHSG Bangkit ke Level 6.000 di Sesi I, Saham TPIA dan TOWR Bersinar
Berita Terkait
-
Setelah Dibuka Menguat IHSG Langsung Anjlok di Senin Pagi, BBCA Mulai Diborong Asing
-
IHSG Diproyeksi Bergerak Terbatas, Saham-saham Ini Bisa Jadi Cuan?
-
Merdeka Gold Resources Ukir Sejarah, Saham EMAS Resmi Melantai di Bursa Hong Kong
-
IHSG Ambles 4,55% Sepekan, Kapitalisasi Pasar BEI Susut Rp486 Triliun
-
Biang Kerok IHSG Melorot 1,72% ke Level 5.896
Terpopuler
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- Keunggulan Pompa Air Shimizu PL-138 BIT, Solusi Air Jernih Anti Karat
Pilihan
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
Terkini
-
Pasar Logistik ASEAN Tembus Rp6.958 Triliun, Indonesia Punya Peluang Emas Jadi Pemimpin
-
Rupiah Hari Ini Menguat ke Rp17.865 per Dolar AS, BI Disebut Lakukan Intervensi
-
Sinyal untuk Beli, Harga Emas Antam Terus Turun Jadi Rp2.645.000/Gram
-
Setelah Dibuka Menguat IHSG Langsung Anjlok di Senin Pagi, BBCA Mulai Diborong Asing
-
Konflik AS - Iran Kembali Memanas, Harga Minyak Dunia Naik ke Level 72 Dolar AS
-
Update Harga Emas Antam, UBS, dan Galeri 24 di Pegadaian Hari Ini
-
Kenaikan Cukai Rokok Dinilai Bisa Pangkas Ribuan Lapangan Kerja, Ini Kata Said Iqbal
-
OJK Ungkap Ancaman Baru Perbankan: Daya Beli Turun, PHK Naik, Risiko Kredit Membesar
-
Pertamina Raih Cuan Banyak dari Investasi EBT di Filipina
-
Negara BIsa Kehilangan Triliunan Penerimaan Negara dari Industri Rokok