Bisnis / Keuangan
Senin, 29 Juni 2026 | 07:24 WIB
Ilustrasi warga mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. [ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/bar]
Baca 10 detik
  • IHSG melemah 4,55 persen ke level 5.896 pekan lalu akibat aksi jual bersih investor asing sebesar Rp3,4 triliun.
  • Perdagangan Senin, 29 Juni 2026, diprediksi bergerak terbatas dengan dukungan sentimen dana pemerintah dan rilis data inflasi domestik.
  • Faktor global seperti dinamika geopolitik Timur Tengah dan data ekonomi Amerika Serikat memengaruhi arah pergerakan pasar saham Indonesia.

Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak terbatas, pada awal perdagangan pekan ini setelah mencatat pelemahan tajam sepanjang pekan lalu.

Prospek IHSG, sentimen MSCI, arus dana asing, hingga sejumlah data ekonomi domestik dan global diperkirakan akan menjadi faktor utama yang memengaruhi arah pergerakan pasar saham Indonesia.

VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, mengatakan IHSG sepanjang sepekan terakhir melemah sebesar 4,55 persen ke level 5.896.

Pelemahan tersebut dipicu oleh aksi jual bersih investor asing yang mencapai sekitar Rp3,4 triliun di seluruh pasar.

Menurutnya, IHSG sepekan terakhir bergerak tertekan sebesar 4,55 persen ke level 5.896 dengan didorong tekanan jual asing yang mencapai Rp3,4 triliun di seluruh perdagangan.

"Kami berpandangan faktor MSCI pascarelease masih menjadi perhatian. Meski tidak ada penurunan status ke frontier market, peringatan tersebut tetap ada apabila hingga November 2026 belum terdapat reformasi yang signifikan dari regulator," ujar Oktavianus dalam risetnya, Senin (29/6/2026).

Ilustrasi MSCI. [Gemini AI]

Ia melihat, pada perdagangan Senin (29/6), IHSG diperkirakan bergerak konsolidasi dengan kecenderungan menguat secara terbatas.

Dirinya memperkirakan indeks akan bergerak pada area support 5.772 dan resistance 6.040, seiring indikator MACD yang mulai menunjukkan tren melandai.

Oktavianus menjelaskan, terdapat beberapa sentimen yang akan memengaruhi pasar. Pertama, perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah di tengah kesepakatan damai Amerika Serikat dan Iran.

Baca Juga: Merdeka Gold Resources Ukir Sejarah, Saham EMAS Resmi Melantai di Bursa Hong Kong

Menurutnya, apabila kembali terjadi eskalasi konflik, maka ketidakpastian pasar berpotensi meningkat. Namun, aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz yang mulai kembali normal memberikan dampak positif berupa penurunan harga minyak mentah dunia.

"Kedua, dari dalam negeri terdapat sentimen penempatan dana pemerintah hingga Rp400 triliun di bank-bank Himbara per 26 Juni 2026 yang berpotensi menjaga likuiditas perbankan dan mendukung penyaluran kredit," katanya.

Selain itu, pasar juga menantikan rilis data inflasi Indonesia periode Juni 2026 yang diperkirakan tumbuh 3,1 persensecara tahunan.

Meskipun lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya, angka tersebut dinilai masih berada dalam target Bank Indonesia, sehingga respons pasar diperkirakan tetap moderat.

Untuk strategi perdagangan, Kiwoom Sekuritas merekomendasikan saham BBCA, BMRI, dan BBRI dengan pendekatan speculative buy.

BBCA memiliki level support di 5.800 dan resistance di 6.600, BMRI berada pada support 3.880 dan resistance 4.230, sedangkan BBRI memiliki support 2.770 dan resistance 3.050.

Load More