Bisnis / Keuangan
Senin, 29 Juni 2026 | 22:31 WIB
Rupiah menguat tipis ke level Rp18.036 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat sore, 5 Juni 2026. [Antara]
Baca 10 detik
  • Nilai tukar rupiah pada perdagangan Selasa, 30 Juni 2026 diproyeksikan akan menghadapi ujian ketangguhan akibat penguatan dolar Amerika Serikat.
  • Dolar AS menguat karena aliran modal ke Wall Street dan kebijakan suku bunga agresif dari Ketua The Fed baru.
  • Sentimen damai geopolitik diharapkan menahan harga energi global agar rupiah tetap stabil di tengah tekanan pasar keuangan internasional.

Suara.com - Laju nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diproyeksikan bakal menghadapi ujian ketangguhan baru pada pembukaan perdagangan Selasa pagi (30/6/2026).

Setelah berhasil mencatatkan performa impresif dengan menguat ke level Rp 17.868 per dolar AS pada sesi perdagangan awal pekan, pergerakan mata uang garuda besok pagi diperkirakan akan sangat bergantung pada seberapa besar pelaku pasar mempertahankan sentimen optimisme domestik di tengah kepungan keperkasaan greenback.

Secara teknikal , posisi mata uang dolar AS global diprediksi masih relatif kokoh mendekati level tertinggi dalam 13 bulan terakhir.

Kondisi ini berpotensi memicu aksi profit-taking taktis atau pengetatan likuiditas sekunder yang bisa menahan laju apresiasi rupiah yang sebelumnya ditopang oleh meredanya risiko geopolitik serta penurunan harga energi global .

Dilansir via Reuters, sejumlah analin memperkirakan dolar bisa bergerak menguat pada Selasa (30/6/2026) pagi. Ada beberapa faktor dominan yang diproyeksikan menjadi motor penggerak utama pasar keuangan besok pagi :

  • Daya Tarik Pasar Saham Wall Street: Dorongan modal yang sangat cepat mengalir ke pasar ekuitas AS—dipicu oleh tren teknologi kecerdasan buatan (AI) yang terus booming—menjadi magnet kuat yang menarik likuiditas global keluar dari pasar berkembang (emerging markets).
  • Efek Kepemimpinan Baru The Fed: Pasar merespons cara pandang agresif (hawkish) dari Ketua The Fed yang baru , Kevin Warsh. Spekulasi mengenai kenaikan suku bunga lanjutan di sisa tahun 2026 kian kuat demi memerangi inflasi AS yang masih bertengger di atas target 2 persen.
  • Ekspektasi Data Ketenagakerjaan Teranyar: Pelaku pasar secara global kini dalam posisi menanti rilis data penting Non-Farm Payrolls (NFP) untuk bulan Juni yang baru akan diumumkan Kamis mendatang . Proyeksi konsensus menunjukkan adanya penambahan 110.000 pekerjaan dengan tingkat pengangguran stabil di level 4,3 persen .

"Pasar tenaga kerja tampaknya telah mengalami percepatan.," kata Marc Chandler, Kepala Strategi Pasar di Bannockburn Global Forex. "Kekhawatiran yang sempat disuarakan oleh pihak yang menginginkan kebijakan moneter longgar (*doves*) mengenai melambatnya pasar tenaga kerja tampaknya telah berlalu.."

Peta Kekuatan Mata Uang Global: Euro, Sterling, dan Terpuruknya Yen

Dari pasar finansial luar negeri, proyeksi besok pagi juga akan diwarnai oleh posisi mata uang utama dunia yang mencoba bangkit dari tekanan.

Mata uang Euro diprediksi masih berupaya melanjutkan momentum pemulihan setelah sempat menyentuh level terendahnya dalam 13 bulan terakhir.

Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Paling Lemah se-Asia Pagi Ini, Nyaris ke Level Rp18.000

Pelaku pasar eropa kini tengah memfokuskan perhatian pada forum tahunan Bank Sentral Eropa (ECB) yang menghadirkan Kevin Warsh sebagai salah satu pembicara utama .

Kondisi kontras diproyeksikan masih membayangi mata uang Yen Jepang yang pada perdagangan hari Senin kemarin sempat terkapar di posisi 161,97 per dolar AS—level terlemahnya sejak tahun 1986.

Langkah Bank of Japan (BOJ) menaikkan suku bunga ke level 1,00 persen dinilai belum mampu mengecilkan jurang selisih imbal hasil yang terlampau lebar dengan obligasi Amerika Serikat .

Secara umum, perdagangan besok pagi diprediksi menjadi arena konsolidasi yang ketat bagi rupiah.

Sentimen positif dari perkembangan meja perundingan teknis damai antara AS dan Iran di Doha, Qatar, diharapkan mampu menjaga harga energi tetap landai, sehingga memberikan ruang tambahan bagi rupiah untuk menahan gempuran keperkasaan indeks dolar AS .

Load More